Harari dan Sejarah sebagai Alat Pembebasan Manusia
Sejarah seharusnya menjadi alat untuk membebaskan manusia dari ikatan konflik dan kebencian yang telah mendarah daging. Apakah dunia, terutama Indonesia, telah melakukan hal ini?
Sejarah seharusnya menjadi alat untuk membebaskan manusia dari ikatan konflik dan kebencian yang telah mendarah daging. Apakah dunia, terutama Indonesia, telah melakukan hal ini?
Badan Riset dan Inovasi Nasional, melalui kuliah umum dalam rangka menyambut Hari Kartini, membedah pelajaran adat wanita ideal dalam lingkungan keraton Jawa pada Kamis (28/3) lalu
Pada mulanya, kebaya hanyalah sebuah pakaian biasa yang dikenakan perempuan Indonesia, terutama perempuan Jawa dan Bali. Namun kini, ia telah menjadi sebuah “fashion statement” identitas bangsa Indonesia
Politik, sosial, dan agama semakin teralienasi dari kebudayaan. Perpolitikan semakin “kering” dari nalar kebudayaan. Tata sosial diserbu kebudayaan asing. Kehidupan beragama semakin memusuhi kebudayaan, karena dianggai bid’ah.
Difusionisme membantu kita memahami bagaimana unsur-unsur kebudayaan berkembang melalui penyebaran dari satu wilayah ke wilayah lain. Namun, bukan berarti penerima budaya merespons dengan pasif, menerima begitu saja apa yang datang kepada mereka
PLTA Kali Samin di Tawangmangu, proyek antara Solosche Electriciteit Maatschappij dan Mangkunegaran ada 1930-an, merupakan upaya untuk menyediakan listrik bagi masyarakat. Meski harus ditutup, PLTA ini merupakan wujud kemandirian bangsa menghadapi dominasi kolonial
Tembok Berlin tidak hanya menggambarkan pemisahan antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Di Balik itu, terdapat kehidupan masyarakat kedua Jerman menemukan kebebasan mereka
Berawal dari angin dan kesalahan navigasi, Pedro Alvares Cabral menginjakkan kakinya di tanah Brasil. Ia menjadi penjelajah Eropa pertama yang berlabuh di tanah tersebut
Jurusan sejarah ditempatkan sebagai pemuncak jurusan kuliah bagi orang-orang yang tidak terlalu benar, membuatnya menjadi jurusan yang tidak berguna. Apa benar adanya?
Meski terdapat beberapa kekurangan, buku “Kepulauan Rempah-rempah” berhasil tampil sebagai sebuah buku rintisan yang mendorong kajian lebih lanjut terhadap wilayah Maluku Utara dalam historiografi Indonesia.