Benarkah Palestina Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia?
Menurut kepercayaan sebagian besar masyarakat Indonesia, Palestina menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Apa benar demikian?
Menurut kepercayaan sebagian besar masyarakat Indonesia, Palestina menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Apa benar demikian?
Melalui buku “Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia”, Ahmad Mansyur Suryanegara menawarkan Islam sebagai pendekatan tambahan untuk menyegarkan historiografi Indonesia yang dipandang terlalu sekuler
Abu, dengan kekuatan yang ia warisi dari para dalang terkenal dan kakeknya, harus menghadapi Mesin Politik dan orang-orang “pohon Randu”. Akankah wayang, kesenian yang ia cintai, bertahan dihantam gempuran Mesin Politik?
Guru bimbingan dan konseling (BK) tidak hanya soal menjadi “polisi siswa”, seperti yang dianggap kebanyakan siswa saat ini. Di balik itu, terdapat andil besar guru BK terhadap keberlangsungan pendidikan di sekolah, utamanya perihal penanganan tindak kekerasan di sekolah
Dilihat dari segala tindakan yang harus dilakukan selama mementaskan wayang, seorang dalang adalah aktor tunggal bersosok kompleks.
Melalui kumpulan cerpen yang indah, Isbedy Stiawan ZS menampilkan kepada kita kehidupan kaum perempuan yang masih belum bisa terbebas dari belenggu ketidakadilan dan marginalisasi
Integrasi dan harmoni Bali diwujudkan dengan interaksi kebudayaan antara masyarakat Hindu dengan Nyama Selam, masyarakat Bali yang memeluk agama Islam. Interaksi ini merupakan kisah persaudaraan sehidup semati antara Islam dan Hindu di Pulau Dewata tersebut.
Meski terdapat beberapa kekurangan, buku “Kepulauan Rempah-rempah” berhasil tampil sebagai sebuah buku rintisan yang mendorong kajian lebih lanjut terhadap wilayah Maluku Utara dalam historiografi Indonesia.
Kaleidoskop perjalanan Historical Meaning, sebagai media daring bertema sosial humaniora berbasis kesejarahan, sepanjang tahun 2024, disampaikan langsung oleh Prima Cahyadi, pemilik sekaligus editor-in-chief HM
Yogyakarta tidak hanya tampil sebagai kota budaya dan klasik. Di balik itu, para transpuan menjadikannya sebagai rumah. Mereka menggantungkan hidup mereka di kota yang berbudaya tersebut