Sejarah yang Baik Menurut S. Radhakrishnan
Bagi S. Radhakrishnan, sejarah yang baik tidak mengisahkan perang antara para raja (battle of kings), tetapi menampilkan pergerakan sosial ekonomi suatu masyarakat di dunia ini.
Bagi S. Radhakrishnan, sejarah yang baik tidak mengisahkan perang antara para raja (battle of kings), tetapi menampilkan pergerakan sosial ekonomi suatu masyarakat di dunia ini.
“The Footnote: a Curious History” menjadi jawaban mengapa jurusan sejarah, terutama di Indonesia, masih mempertahankan catatan kaki dalam ruang akademik, meski hampir semua jurnal telah beralih ke catatan perut.
Bagi masyarakat Indonesia, filsafat tidak hanya sesuatu yang tidak penting, tetapi juga wajib dijauhi. Seolah-olah, terdapat suatu “alergi” terhadap filsafat dalam mentalitas masyarakat kita.
Ide “masyarakat primitif” adalah ciptaan bangsa Barat. Melalui ilmu antropologi, mereka menciptakan kelompok-kelompok yang dipandang “primitif”, berlawanan dengan peradaban Eropa yang “modern”.
Menurut dugaan, bangsa Yahudi yang mendiami tanah Israel saat ini berasal dari bangsa Khazar. Apa benar demikian?
Sejak “Annales”, sejarah aktif menggunakan ilmu sosial dalam penelitian mereka. Mengapa ilmu sosial dewasa ini enggan melirik sejarah dalam penelitian mereka?
Dalam historiografi Indonesia, pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) digambarkan sebagai praktek korupsi besar-besaran Daendels yang kejam menggunakan tenaga kerja rodi. Apa benar demikian?
Melalui Ekonomi Terpimpin, Sukarno berharap dapat mengatasi masalah ekonomi yang sedang melanda Indonesia sejak 1950-an. Disayangkan, ia lebih sibuk mengisi perut masyarakat Indonesia dengan jargon politik alih-alih dengan nasi.
Kondisi media pada masa akhir Orde Baru (1990-an) mengalami perubahan besar dibandingkan periode sebelumnya, dan buku “Media, Culture and Politics in Indonesia” mengupasnya secara mendalam.
Banyak dari kita yang memandang bahwa penjajahan atas Indonesia, baik yang dilakukan Belanda maupun Jepang, merupakan hal yang buruk. Apa benar demikian?