Polemik Ilmu Pengetahuan dalam Kerangka F. A. Hayek
Melalui “The Counter-Revolution of Science”, F.A. Hayek menunjukan bahwa ilmu sosial sulit untuk menciptakan sebuah hukum karena terlalu dekat dengan subjektivitas yang mereka miliki.
Melalui “The Counter-Revolution of Science”, F.A. Hayek menunjukan bahwa ilmu sosial sulit untuk menciptakan sebuah hukum karena terlalu dekat dengan subjektivitas yang mereka miliki.
Buku “The Slave Ship: A Human History” menunjukan kepada pembaca bagaimana “drama” horor serta pergolakan kehidupan antara kapten kapal, para pelaut, serta budak belian, dalam sebuah panggung mengapung yang bernama kapal pengangkut budak.
Sebagian besar masyarakat Indonesia memandang sejarah sama dengan masa lalu, sehingga hanya ada satu kebenaran dalam sebuah narasi sejarah. Apa benar demikian?
Agama menyimpan kekuatan radikal. Kalau tidak, agama tak akan mampu menciptakan perubahan sejarah, bahkan akan mati ditelan sejarah.
Melalui “The Use and Abuse of History”, Marc Ferro menunjukan bahwa buku ajar sejarah tak lepas dari “abuse” (manipulasi) negara, dengan berbagai kepentingan di baliknya.
Meski dituding sebagai riba, tradisi menukar uang kecil menjelang Lebaran masih tetap dilakukan masyarakat Indonesia. Ini merupakan bentuk “kearifan lokal” masyarakat muslim Indonesia untuk merayakan kebahagiaan dan rasa syukur atas berkah selama Ramadan.
Meski segala informasi telah tersedia Google, sejarah masih tetap diperlukan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Berkat sejarah, kemampuan kritis dalam menilai sumber dapat menghindari seseorang dari perangkap bias internet.
Meski Presiden Joko Widodo akan mengakui status warga negara terhadap 39 eksil G30S, itu saja masih belum cukup. Dibutuhkan upaya lebih besar untuk menyembuhkan luka menganga masyarakat Indonesia, yakni pemaknaan kembali sejarah 1965.
Pendidikan bukan hanya memupuk kemampuan mengetahui (knowledge) dan membuat (skill), melainkan yang lebih mendasar keistimewaan dalam berbuat (virtues).
Ketika Presiden Soekarno sedang khusyuk menjalankan ibadah salat Iduladha, tidak disangka olehnya, sekelompok orang telah menanti kesempatan tersebut. Berjarak 15 meter di belakang Soekarno, mereka menembakkan pistol, “Dor!”, hampir membunuhnya.