Filsafat, Sebuah Ilmu yang Tidak Berguna?
Masyarakat Indonesia memandang filsafat sebagai ilmu yang tidak berguna dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa benar demikian?
Masyarakat Indonesia memandang filsafat sebagai ilmu yang tidak berguna dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa benar demikian?
Sebagai seorang sejarawan yang dibayang-bayangi kuasa Orde Baru, Nugroho Notosusanto memiliki andil dalam membentuk historiografi Indonesia. Hingga kini, pengaruhnya dalam penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia masih terasa.
Putusan MK pada 2008 mereformasi sistem pemilu Indonesia untuk selamanya. Sistem proporsional terbuka memberikan ruang bagi para caleg untuk berkampanye secara langsung dan berkreasi.
Sebagai simbolisasi kemenangan “dharma” atas “adharma”, hari raya Galungan memiliki mitos dan sejarah yang menarik untuk diketahui lebih dalam.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, filsafat dan agama bagaikan minyak dan air, tidak pernah bisa bersatu. Apa benar mereka berdua selalu demikian?
Bagi Winston Smith, memiliki pemikiran yang bebas di tengah kontrol Partai yang ketat atas masa lalu dan masa depan dapat membuatnya ditangkap Polisi Pikiran. Apakah ia dapat bertahan?
Bagi S. Radhakrishnan, sejarah yang baik tidak mengisahkan perang antara para raja (battle of kings), tetapi menampilkan pergerakan sosial ekonomi suatu masyarakat di dunia ini.
“The Footnote: a Curious History” menjadi jawaban mengapa jurusan sejarah, terutama di Indonesia, masih mempertahankan catatan kaki dalam ruang akademik, meski hampir semua jurnal telah beralih ke catatan perut.
Bagi masyarakat Indonesia, filsafat tidak hanya sesuatu yang tidak penting, tetapi juga wajib dijauhi. Seolah-olah, terdapat suatu “alergi” terhadap filsafat dalam mentalitas masyarakat kita.
Ide “masyarakat primitif” adalah ciptaan bangsa Barat. Melalui ilmu antropologi, mereka menciptakan kelompok-kelompok yang dipandang “primitif”, berlawanan dengan peradaban Eropa yang “modern”.