Siapkah Kita Menghadapi Keruntuhan karena Perubahan Lingkungan?

Buku Collapse Sampul buku Collapse: Runtuhnya Peradaban-Peradaban Dunia karya Jared Diamond
Judul BukuCollapse: Runtuhnya Peradaban-Peradaban Dunia
PenulisJared Diamond
PenerjemahDamaring Tyas Wulandari Palar
PenerbitKepustakaan Populer Gramedia
Kota TerbitJakarta
Tahun Terbit2014
Tebal734 halaman
ISBN978-602-424-726-3

Peradaban manusia kerap dibayangkan sebagai satu perjalanan lurus, menuju kemajuan tanpa henti. Dalam narasi sejarah arustama, runtuhnya peradaban besar seperti Maya, Anasazi, atau penduduk Pulau Paskah, ditempatkan sebagai kisah masa lalu yang eksotik, misterius, jauh, dan tak lagi relevan.

Kita mengagumi reruntuhan mereka. Namun, seolah memberi jarak aman, kemajuan teknologi modern yang kini dirasakan manusia memberikan bayangan bahwa kita telah bebas dari kemungkinan akan bernasib serupa.

Benarkah peradaban modern yang dinikmati manusia saat ini benar-benar kebal terhadap pola reruntuhan peradaban sebelumnya? Jared Diamond, seorang ilmuwan, penulis, dan Profesor Geografi di University of California, Los Angeles (UCLA) Amerika Serikat, mengajak kita menanggalkan kenaifan tersebut melalui buku Collapse: Runtuhnya Peradaban-peradaban Dunia.

Collapse merupakan kelanjutan dari buku pertama Jared Diamond, Guns, Germs, and Steel (diterjemahkan menjadi Bedil, Kuman, dan Baja dalam edisi bahasa Indonesia). Dalam buku pertama itu, ia menjelaskan mengapa peradaban manusia berkembang dengan cara yang berbeda-beda.

Diamond menjelaskan mengapa peradaban manusia berkembang dengan laju yang tidak merata. Perbedaan ini bukan disebabkan oleh kecerdasan manusia, melainkan oleh faktor geografis yang memungkinkan bangsa Eurasia lebih dulu menguasai teknologi logam (Bedil dan Baja) serta memiliki ketahanan alami terhadap wabah penyakit (Kuman) dibandingkan bangsa di benua lain.

Sebagai kelanjutan Guns, Germs, and Steel, Collapse tetap mempertahankan pendekatan lintas disiplin khas Diamond. Ia memadukan arkeologi, klimatologi, dan ekologi, untuk menunjukkan bagaimana masyarakat yang paling berkuasa dapat melakukan bunuh diri ekologis secara perlahan.

Diamond memulai narasi dalam buku ini dengan pendekatan yang tak lazim. Alih-alih langsung membawa pembaca ke masa lalu, ia mengajak kita melihat Peternakan Huls di Montana, Amerika Serikat.

Peternakan tersebut, bagi Diamond, merupakan simbol peradaban modern yang sangat makmur dan berteknologi maju. Terdapat lumbung yang begitu canggih, mampu menampung 200 ekor sapi perah.

Namun, di balik kemegahan itu, Diamond mengungkapkan kerapuhan Peternakan Huls. Ia berdiri di wilayah dengan musim panas yang terlalu singkat untuk menghasilkan cukup rumput untuk sapi-sapi di sana. Ini membuatnya sangat bergantung pada irigasi, yang berujung kerentanan terhadap perubahan iklim seperti kekeringan.

Baca Juga  Memecahkan Misteri Pembunuhan di Kingfisher Hill Estate dalam The Killing at Kingfisher Hill

Montana modern, ungkap Diamond, menampilkan berbagai masalah lingkungan yang mengepungnya. Endapan di sungai erosi, polusi dari tangki tinja, hingga invasi gulma berbahaya seperti spotted knapweed (Centaurea stoebe) yang merusak kualitas lahan, merupakan ancaman yang dihadapi Montana saat ini.

Melalui pendekatan ini, dan Peternakan Huls di dalamnya, tampak bahwa masyarakat yang paling kaya dan digdaya sekalipun tidak luput dari ancaman ekologis yang bisa memicu keruntuhan. Ini persis dialami oleh tetangga historis peternakan ini di masa lalu, yakni masyarakat Viking di Greenland.

Meski iklim mendingin dan sumber daya menipis, bangsa Viking bersikeras untuk mempertahankan pola hidup mereka di Eropa ketika menghuni Greenland. Mereka tetap memelihara sapi, yang tentu saja sulit bertahan hidup di sana. Mereka juga menolak belajar teknik berburu anjing laut dari suku Inuit.

Kegagalan ini, menurut Diamond, bukan disebabkan faktor alam. Ia juga hadir karena ketidakmampuan mereka untuk meninggalkan nilai-nilai budaya lama, yang sebenarnya sudah tidak relevan.

Hal tersebut juga tampak dalam kehidupan masyarakat di Pulau Paskah. Diamond menggambarkan bahwa mereka begitu terobsesi untuk membangun patung raksasa (moai). Ini memicu penebangan hutan secara masif, dan akibat kondisi geografis yang terisolasi, mereka tidak memiliki katup penyelamat saat ekosistem runtuh, berujung dengan terjadinya kelaparan dan perang saudara.

Kisah di atas bukan takdir buta, bagi Diamond. Ini adalah hasil dari pertemuan antara kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan tekanan musuh. Namun, faktor utama dari kondisi keruntuhan tersebut adalah bagaimana masyarakat menentukan respons krisis yang dialami. Apakah mereka berani mengubah nilai-nilai dasar mereka? Atau, mereka justru ikut binasa bersamanya?

Kehidupan Peternakan Huls di Montana, masyarakat Viking di Greenland, dan penduduk Pulau Paskah, dikemas oleh Diamond sebagai bingkai kerja lima poin. Bingkai pertama, kerusakan lingkungan (ekosida), menjadi pemantik keruntuhan suatu masyarakat. Penggundulan hutan, pencemaran tanah dan air, merusak fondasi ekonomi masyarakat yang hidup di tempat itu.

Hal tersebut diperparah oleh bingkai kedua, perubahan iklim. Berbeda dengan bingkai pertama, yang melibatkan manusia, bingkai ini berbentuk fenomena alam. Pendinginan suhu global yang menghantam bangsa Viking serta kekeringan berkepanjangan masyarakat Anasazi dapat memantik keruntuhan. Tetapi, bingkai ini berakhir mematikan hanya jika masyarakat tersebut sudah kehilangan daya lentur mereka, yakni dalam bentuk alam yang lestari.

Baca Juga  Wacana Seksualitas dalam Paradigma Masyarakat Jawa Abad ke-20

Kerapuhan internal akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim (poin pertama dan kedua) pada gilirannya membuka celah lebar bagi masuknya ancaman dari luar. Di sinilah poin ketiga dan keempat, masing-masing tekanan dari masyarakat musuh dan hilangnya dukungan peradaban sahabat menjadi pukulan terakhir yang mematikan.

Diamond menunjukkan bahwa sebuah peradaban jarang sekali runtuh hanya karena serangan musuh yang tiba-tiba menjadi perkasa. Sebaliknya, musuh tersebut menjadi fatal justru karena peradaban yang diserang sudah terlalu lemah secara ekologis untuk membiayai pertahanan atau memberi makan tentaranya.

Hal serupa terjadi pada hubungan perdagangan; ketergantungan pada pihak luar berubah menjadi jebakan ketika sebuah masyarakat tidak lagi memiliki kemandirian sumber daya di tanahnya sendiri. Keterkaitan ini terlihat jelas pada kasus Pulau Pitcairn dan Henderson. Keruntuhan mereka bukanlah peristiwa tunggal, melainkan ‘efek domino’ dari kehancuran ekologis yang dialami oleh mitra dagang utama mereka, Pulau Mangareva.

Ketika Mangareva tidak lagi mampu mengirimkan komoditas penting akibat kerusakan lingkungan di sana, Pitcairn dan Henderson yang sudah rapuh pun ikut terseret dalam pusaran kepunahan. Tanpa fondasi lingkungan yang kokoh di dalam negeri, putusnya satu jalur perdagangan saja sudah cukup untuk meruntuhkan seluruh tatanan sosial

Bingkai terakhir, dan menjadi jantung tesis Diamond, adalah tanggapan masyarakat terhadap masalah lingkungan. Diamond berpendapat bahwa keruntuhan terjadi sebagai buah dari berbagai pilihan yang kita ambil. Seringkali, nilai-nilai tradisional yang dulunya membawa keberhasilan, justru menjadi jerat ketika kondisi lingkungan berubah.

Langkah yang diambil masyarakat tersebut untuk menyikapi ini, akan menentukan nasib mereka ke depan. Salah mengambil keputusan, keruntuhan akan terjadi. Keempat faktor sebelumnya hanya pemantik; kehancuran total baru terjadi ketika masyarakat gagal mengambil respons yang tepat.

Sekilas, Collapse tampak sebagai ramalan sebuah kiamat. Diamond tidak ingin mengarahkan pembaca ke arah sana. Ia juga menampilkan kisah sukses beberapa masyarakat yang mengambil langkah tepat menghadapi ancaman keruntuhan.

Baca Juga  Kehidupan Politik Indonesia Modern Tak Lepas dari Akar-Akar Kekuasaan Tradisional

Sebut saja masyarakat Tikopia, yang segera mengambil keputusan drastis untuk memusnahkan seluruh populasi babi dan beralih sepenuhnya ke perikanan serta perkebunan demi menjaga ekosistem pulau mereka yang mungil. Contoh lain yang tak kalah memukau adalah masyarakat Jepang pada zaman Tokugawa, yang mengambil pilihan untuk menerapkan sistem pengelolaan hutan yang sangat ketat melalui kebijakan pusat (pendekatan atas-bawah) serta memelopori praktik silvikultur atau penanaman kembali hutan secara terencana demi mengatasi krisis penggundulan hutan yang akut.

Kedua contoh ini menggambarkan bahwa sebuah masyarakat bisa selamat jika pemimpin dan rakyatnya berani melakukan evaluasi atas nilai-nilai lama mereka, seperti keinginan untuk ekspansi atau konsumsi kayu berlebihan yang tidak lagi relevan dengan tantangan lingkungan yang baru

Membaca Collapse, saya merasakan bahwa Jared Diamond sedang mengetuk kesadaran saya, tanpa harus terdengar seperti seorang cenayang yang sedang meramalkan kiamat. Saya tidak merasakan diri sedang menunggu hukuman mati bagi kemanusiaan. Alih-alih membuat saya putus asa, saya justru sedang diajak untuk bercermin dengan jujur.

Juga, Diamond bukanlah ilmuwan yang menyodorkan data dengan dingin. Ia tampil sebagai pencerita ulung, yang sanggup mengemas kembali kehidupan Pulau Paskah, yang kini sunyi, menjadi bergairah. Ia juga mampu menyulap sisa-sisa pemukiman bangsa Viking dengan luar biasa, membuat saya seolah ikut hadir dan merasakan kecemasan yang dirasakan mereka ketika sumber daya untuk bertahan hidup perlahan habis.

Ada rasa ngeri, yang begitu halus, saat membaca satu tesis tertajam buku ini; bahwa puncak kejayaan suatu masyarakat justru menjadi titik paling rapuh menuju kejatuhan. Namun, perasaan itu diredam melalui Diamond dalam aspek pilihan.

Di sini, Diamond memberikan saya harapan. Di tengah krisis iklim global yang terasa menyesakkan hari ini, Collapse menjadi kompas yang mendesak untuk diperhatikan. Ia meyakinkan saya bahwa kita tidak sedang menghadapi takdir buta yang tak terelakkan.

Menutup pembacaan saya terhadap buku Collapse ini, saya akhiri dengan sebuah refleksi. Apakah kita akan belajar dari keberhasilan masyarakat Tikopia dan Jepang era Tokugawa? Atau, kita akan membiarkan peradaban modern yang kini kita nikmati kelak dikenang sebagai reruntuhan sunyi bagi generasi mendatang? Jawaban kedua pertanyaan ini, dimulai dari pilihan kita saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *