Mana Lebih Baik, Teori atau Praktik? Mari Kita Tanyakan ke Plato dan Aristoteles

Teori dan Praktik Ilustrasi perdebatan Plato dan Aristoteles menghubungkan antara teori dengan praktik, courtesy of Kompas/Kementerian PUPR (jembatan) & The Guardian (Plato & Aristoteles)

Ketika kita mengenyam bangku pendidikan, terutama di universitas, kita sudah akrab dengan pembagian antara kelas teori dan kelas praktik. Ada kelas yang berisi mahasiswa duduk mendengarkan materi pemantik dari dosen, membaca buku, serta menghafal konsep. Ada pula kelas praktikum, yang menuntut mahasiswa untuk memegang alat, turun ke lapangan, dan melakukan percobaan secara langsung.

Pembagian serupa juga tampak dalam dunia kerja. Kita mengenal istilah pekerja kantoran dan pekerja lapangan. Namun, pekerja yang disebut pertama, yang mengandalkan pikiran, analisis, dan perencanaan, sering diposisikan lebih tinggi daripada pekerja yang disebut terakhir, yang fokus pada upaya menjalankan langsung di lokasi kerja. Seolah-olah, pekerjaan yang mengandalkan pikiran lebih baik ketimbang pekerja yang mengandalkan fisik.

Cara pandang semacam ini mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam obrolan santai maupun perbincangan di media sosial, kerap muncul anggapan bahwa lulusan perguruan tinggi unggul dalam teori, tetapi canggung ketika harus turun ke lapangan. Sebaliknya, mereka yang terbiasa bekerja secara teknis sering dianggap sekadar pelaksana.

Ilustrasi pekerja lapangan, yang mengandalkan otot untuk bekerja, courtesy of VIVA Bogor/Freepik

Candaan tentang “kerja pakai otak” dan “kerja pakai otot” ini telah beredar luas, dan kini diterima begitu saja, seolah bahwa ia memang wajar adanya. Selain menunjukkan bahwa ketegangan antara teori dan praktik bukan hanya persoalan pendidikan, pengalaman sosial yang dekat dengan keseharian masyarakat ikut membentuknya.

Satu hal yang menarik, cara pandangan seperti ini tidak muncul begitu saja di zaman modern ini. Ia memiliki akar sejarah yang panjang, jauh sebelum ruang kelas di universitas dan dunia industri yang mengikat manusia saat ini. Ia sudah dimulai dari dua figur besar dalam filsafat Yunani: Plato dan Aristoteles.

Sekilas Riwayat Plato dan Aristoteles

Plato lahir di Athena, pada akhir abad ke-5 SM, tepatnya sekitar 427 SM. Ia berasal dari keluarga aristokrat, yang dekat dengan kehidupan politik kota.

Ketika ia hidup, Athena sedang berada dalam keadaan genting. Kekalahan menghadapi Sparta dalam Perang Peloponnesos tidak hanya melemahkan kekuatan militer polis (negara-kota, city-state) itu, tetapi juga mengguncang kepercayaan warganya terhadap demokrasi dan tatanan sosial, yang selama ini mereka banggakan.

Dalam suasana demikian, Plato muda berjumpa dengan Sokrates. Ia dikenal aktif mempertanyakan berbagai klaim pengetahuan yang telah dianggap mapan, menantang kebiasaan berpikir masyarakat Athena. Ia bahkan mengajak lawan bicaranya untuk memeriksa kembali apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Darinya, Plato belajar bahwa berpikir adalah sebuah latihan etis dan tanggung jawab terhadap kebenaran.

Pengaruh Sokrates atas diri Plato merasuk ke titik puncak ketika sang guru dijatuhi hukuman mati pada 399 SM oleh Athena. Ia dituduh merusak moral kaum muda dan tidak menghormati dewa-dewa polis itu. Hal ini mengguncang batin Plato, meninggalkan luka intelektual yang mendalam, menumbuhkan kecurigaan dalam dirinya terhadap kebijaksanaan orang banyak serta praktik politik yang hanya bertumpu pada opini serta kepentingan sesaat.

Patung kepala Plato yang dibuat oleh Silanion, kira-kira pada 370 SM, untuk Akademia di Athena, courtesy of Wikipedia/Marie-Lan Nguyen

Kematian Sokrates membuat Plato meninggalkan Athena, melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Yunani dan Italia bagian selatan. Pengembaraan ini memperluas wawasannya, mempertemukannya dengan tradisi pemikiran lain. Perjalanan ini mengantarkan Plato kembali ke Athena, dan mendirikan Akademia pada 387 SM. Ia merupakan sebuah tempat bagi Plato dan para muridnya belajar tentang ilmu alam, dialektika, matematika, serta ilmu untuk memimpin.

Baca Juga  Kosmologi Musik dalam Filsafat Plato: Harmoni, Jiwa Dunia, dan Struktur Matematis Semesta

Melalui Akademia, sosok Aristoteles muncul. Ia merupakan seorang pemuda dari Stagira, di wilayah Makedonia (kini berada di Olimpiada, Makedonia Tengah, Yunani), dan tiba di Akademia untuk belajar. Dua puluh tahun ia habiskan untuk belajar sebagai murid Plato, meski ia lebih menaruh perhatian pada dunia konkret, berdasar pada pengamatan, pengalaman, dan kebiasaan manusia untuk masuk menuju pemahaman.

Setelah Plato wafat pada 347 SM, Aristoteles meninggalkan Akademia dan menempuh jalan hidupnya sendiri. Sekitar 335 SM, ia kembali ke Athena dan mendirikan Lyceum. Melalui sekolah ini, ia mengembangkan pendekatan yang lebih empiris dan sistematis, menekankan penelitian terhadap alam, etika, dan kehidupan sosial. Meski begitu, mengambil pendekatan berbeda dari gurunya, Aristoteles tetap mempertahankan hierarki antara teori dan praktik.

Pendidikan sebagai Jalan Mencapai Kebenaran

Berbekal pengalaman hidupnya, Plato berkeyakinan bahwa berbagai masalah yang dialami masyarakat lahir karena manusia tidak benar-benar memahami apa itu pengetahuan. Menurutnya, manusia sering bertindak hanya berdasarkan kebiasaan, emosi, atau kepentingan sesaat.

Apa maksud Plato berargumen demikian? Secara singkat, banyak orang bertindak bukan karena mereka benar-benar memahami apa yang mereka lakukan. Mereka bergerak hanya mengikuti kebiasaan, perasaan sesaat, atau kepentingan pribadi. Dalam situasi seperti ini, keputusan sering diambil secara spontan tanpa dipikirkan lebih matang apa dampaknya bagi orang lain.

Untuk menyelesaikan hal itu, aturan atau hukuman tidak cukup; perlu sebuah pendidikan, agar manusia dapat melatih kemampuan berpikir mereka menjadi lebih jernih sebelum bertindak.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mengajarkan cara bertindak. Ia juga harus melatih cara berpikir. Bagi Plato, mengutip Myungjoon Lee dalam disertasi Plato’s Philosophy of Education: Its Implication for Current Education, berpikir adalah kunci untuk membangun kehidupan bersama yang lebih tertib dan adil..

Plato percaya bahwa pengetahuan sejati tidak berasal dari pengalaman sehari-hari, yang kerap berubah-ubah. Dalam ulasan atas buku Plato, Metaphysics and the Forms, Luca Pitteloud mengatakan bahwa kebenaran yang sesungguhnya bersifat tetap dan rasional (Forms), berada pada apa yang ia sebut sebagai Dunia Ide.

Belajar berarti melatih diri untuk tidak sekadar mengikuti apa yang tampak di depan mata, tetapi mencoba memahami makna yang lebih dalam di baliknya. Mengutip Gail Fine dalam artikel Knowledge and Belief in Republic V, ini yang membuatnya melihat bahwa kegiatan berpikir dan merenung (knowledge) dianggap lebih penting daripada sekadar bekerja secara fisik atau teknis (belief).

Baca Juga  Belajar Hidup dari Kematian Seorang Sokrates

Pandangan tersebut tampak jelas ketika ia merancang pendidikan di Akademia. Di tempat itu, pelajaran seperti matematika dan filsafat ditempatkan sebagai inti pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk menciptakan manusia yang mampu berpikir jernih, mengendalikan diri, dan mengambil keputusan dengan bijak.

Dalam bahasa Enjang Enjang dan Didi Supandi, pendidikan penting bagi manusia, karena itu jalan bagi mereka untuk menemukan kebenaran sejati. Dari sini, kita bisa melihat pembatasan tegas antara mereka yang berpikir, yang sudah mendapatkan knowledge, dan mereka yang bekerja, yang masih berada dalam belief.

Patung wajah Aristoteles (384-332 SM), karya replika Romawi atas patung perunggu yang dibuat oleh Lysippos pada 330 SM, courtesy of Wikipedia/Jastrow

Di sisi yang berbeda, Aristoteles tidak sepenuhnya setuju dengan gagasan sang guru. Ia bersepakat bahwa berpikir merupakan hal penting, dan pendidikan harus membentuk manusia secara utuh. Namun, menurut Rahmat, Zilkifli Mustham & La Hadisi, ia berpendapat bahwa pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari pengalaman nyata, dirasakan langsung melalui pancaindra.

Bagi Aristoteles, manusia justru belajar dengan mengamati dunia, menjalani kebiasaan, dan merefleksikan apa yang dialaminya. Dunia konkret bukan penghalang bagi pengetahuan. Seperti yang dituangkan Sherly Aulia dalam artikel Teori Pengetahuan dan Kebenaran dalam Epistemologi, ia menjadi pintu masuk menuju kebenaran.

Perbedaan ini tampak dalam cara pandang Aristoteles menjelaskan aktivitas manusia. Ia membedakan kegiatan berpikir untuk mencari kebenaran, tindakan etis dalam kehidupan sehari-hari, dan kegiatan menghasilkan sesuatu dari kerja. Baginya, ketiga hal tersebut penting, tetapi tidak dapat ditempatkan pada posisi yang sama.

Dengan cara ini, Aristoteles lebih membumi dibanding Plato. Meski begitu, ia tetap mengikuti Plato, dengan mempertahankan pandangan bahwa teori memiliki kedudukan lebih tinggi daripada praktik.

Menjembatani Kesenjangan Teori dan Praktik

Melihat realita masa kini, kita menemukan bahwa gagasan Plato dan Aristoteles tentang teori serta praktik masih relevan bagi kita, manusia yang kini hidup di zaman modern ini. Apakah pemikiran mereka mampu menjembatani keduanya?

Beberapa studi kontemporer berusaha menempatkan hubungan antara teori (logos) dan praktik (praxis) sebagai pusat diskusi, melihat filsafat sebagai jalan hidup. Dalam sebuah artikel, Marta Faustino membedah pertanyaan apakah kita benar-benar harus memilih antara teori dan praktik dalam hidup ini.

Baca Juga  Perang Chechnya, Mimpi Kemerdekaan yang Terkubur Kembali

Dengan mengutip Pierre Hadot, Faustino berpendapat bahwa baik teori dan praktik merupakan hal esensial dalam filsafat. Dengan merujuk filsafat klasik, termasuk Plato dan Aristoteles, Hadot mengatakan bahwa filsafat dapat menjadi sebuah jalan hidup (way of life) mengarungi kehidupan ini.

Meski begitu, John Cooper, salah satu pengkritik gagasan Hadot, beranggapan bahwa ia berusaha menempatkan filsafat hanya sebagai praktik semata, bukan sebagai teori. Ini dibantah oleh Faustino, dengan mengatakan bahwa filsafat adalah kesatuan antara teori dan praktik. “Ia hanya meminta kita untuk tidak mereduksi filsafat sebagai teori belaka (mere theory),” tulisnya.

Hal serupa juga diungkapkan Sherwin Klein ketika membahas teori dan praktik dalam etis bisnis. Menurutnya, gagasan Aristoteles tentang teori dan praktik, yang lebih berimbang, dapat digunakan dalam kehidupan korporasi. Ia dapat membantu manusia untuk melakukan praktik berbisnis yang cerdas secara moral (morally intelligent).

Ilustrasi seorang perempuan di atas sebuah jembatan, menggambarkan perhubungan antara teori dan praktik, courtesy of Swara (https://swara.tunaiku.com/)

Namun, masyarakat Indonesia cenderung memberikan batasan kaku antara teori dengan praktik. Seperti yang diungkapkan dalam sebuah opini, Ricky Virona Martono mengungkapkan bahwa jika mereka sudah menemukan perbedaan kontras antara teori dan praktik dalam kehidupan sehari-hari mereka, akan muncul sikap acuh, enggan berusaha mencari penyebab perbedaan mereka berdua, apalagi menyesuaikannya dengan kehidupan sendiri. Dalam bahasa lain, teori dan praktik hadir sebagai oposisi biner.

Kondisi ini terjadi karena terdapat kesenjangan antara teori dan praktik. Seperti yang ditulis sebuah artikel di Kumparan, pemahaman teoretis yang didapat di bangku perguruan tinggi kerap sulit dikaitkan dengan penerapan di dunia kerja/lapangan. Akhirnya, kita menemukan ungkapan bahwa terlalu banyak teori, atau teori penting, tetapi praktik lebih penting.

Seperti yang diungkapkan Nuraini Diah Maulina, Indonesia perlu mengambil upaya untuk menjembatani kembali keduanya, membuat mereka seimbang dan sama-sama berperan. Teori akan sia-sia tanpa penerapan di lapangan, dan praktik tidak akan berjalan tanpa landasan teori yang kuat. “Keduanya ialah suatu sistem yang tak terpisahkan dalam proses pembelajaran,” ungkapnya.

Dapat dikatakan, kita perlu kembali kepada filsafat, tidak melihat mereka sebagai tumpukan buku tua di lemari kaca. Dengan melihat kembali gagasan Plato serta Aristoteles, baik tentang pendidikan sebagai upaya untuk menuju kebenaran, jembatan antara teori dan praktik akan dapat terbangun.

Tidak ada lagi manusia yang berpikir lebih berperan daripada manusia yang bekerja; sudah saatnya kita menjadi manusia yang bekerja sembari berpikir, dan berpikir sembari bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *