How To Keep Your Cool: Resep Mengelola Amarah dari Era Romawi

Buku How to Keep Your Cool Sampul buku How to Keep Your Cool tulisan Senea
Judul BukuHow to Keep Your Cool: Sebuah Panduan Klasik Mengelola Amarah
PenulisSeneca
PenerjemahIngrid Nimpoeno dan Y.D. Anugrahbayu
PenerbitKepustakaan Populer Gramedia
Kota TerbitJakarta
Tahun Terbit2021
Tebal172 halaman
ISBN978-602-481-588-2

Mengapa kita begitu mudah tersulut amarah, meski persoalan yang kita hadapi hanya perkara sepele? Pertanyaan ini terasa semakin mendesak di era media sosial, di mana sumbu kemarahan seolah kian memendek.

Bagi sebagian besar orang, amarah dianggap sebagai reaksi alami yang tak terhindarkan. Seperti yang diungkapkan akun Instagram @buteykoindonesia dan akun Facebook Singgasana Kata, marah muncul sebagai respons atas pengalaman yang tidak menyenangkan, atau mengancam kehidupan. Hal terpenting dari kemarahan adalah bagaimana seseorang mengelolanya.

Apa benar demikian? Tampaknya, Lucius Annaeus Seneca, filsuf Stoa terkemuka Romawi Kuno yang hidup pada abad pertama tarikh Masehi, memiliki pandangan demikian terkait kemarahan. Pandangan tersebut, ia tuangkan dalam buku berjudul How to Keep Your Cool: Sebuah Panduan Klasik Mengelola Amarah.

Buku ini merupakan terjemahan atas karya klasik Seneca, De Ira (On Anger/Tentang Kemarahan). Dalam karya ini, ia menguraikan kemarahan sebagai salah satu emosi paling destruktif dalam kehidupan manusia. Namun, alih-alih melihatnya sebagai reaksi alamiah yang tak terhindarkan, ia menempatkannya sebagai kegagalan rasio.

Sejak bagian awal buku How to Keep Your Cool, Seneca menegaskan bahwa amarah berbeda dari emosi lain. Ia bersifat agresif dan cenderung membawa kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Menurut Seneca, amarah bukan sekadar perasaan spontan. Ia adalah hasil dari persetujuan batin terhadap penilaian yang keliru. Kemarahan adalah hasil dari nilai yang kita berikan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berharga, yang kita maknai terlalu tinggi.

Baca Juga  Siapkah Kita Menghadapi Keruntuhan karena Perubahan Lingkungan?

Amarah muncul karena manusia membiarkan dirinya diyakinkan bahwa ia telah diperlakukan secara tidak adil dan harus membalasnya. Di sini, rasio seharusnya bekerja. Namun, ia sering berakhir dikalahkan oleh dorongan emosional.

Dalam bab Cara untuk Tetap Tenang, Seneca memberikan satu contoh mengapa amarah harus dihilangkan sepenuhnya. Ia menggunakan contoh seorang pengemudi yang sedang memotong jalur saat kita juga berada di sana, serta seseorang yang menyerobot antrean yang begitu panjang, agar dapat dilayani lebih awal.

Apakah kedua kejadian itu benar-benar menyakiti esensi kita? Atau, ia hanya melukai harga diri kita yang semu? Menjawab kedua pertanyaan ini, bagi Seneca, akan membantu seseorang untuk menguraikan amarahnya, tidak sekadar meredam kemunculannya.

Lalu, bagaimana kiat Seneca untuk meredam, dan bahkan mencegah amarah. Sebagai seorang filsuf Stoa, ia menekankan pentingnya latihan batin sejak dini. Latihan ini bisa dilakukan dengan membiasakan diri untuk menunda reaksi, memeriksa kembali penilaian awal, dan mengingat bahwa manusia lain juga memiliki keterbatasan.

Latihan batin ini, disebut Seneca dengan istilah praemeditatio. Praemeditatio mengajak manusia untuk membayangkan kemungkinan terburuk dalam kehidupan sehari-hari agar seseorang tidak mudah terkejut dan tersulut emosi ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan.

Dalam filsafat Stoa, seperti yang dianut Seneca, manusia yang bijak bukanlah manusia yang tidak mudah marah. Manusia yang bijaksana adalah mereka yang mampu mencegah kemarahan mengambil alih penilaian dan tindakan.

Menariknya, buku ini tidak menawarkan solusi instan atau teknik cepat seperti yang lazim ditemukan dalam buku pengembangan diri modern. Sebaliknya, Seneca menuntut disiplin moral jangka panjang.

Mengelola amarah berarti membentuk karakter, bukan sekadar mengatur suasana hati. Di sinilah letak kekuatan sekaligus tantangan buku ini bagi pembaca modern: ajarannya relevan, tetapi menuntut keseriusan dan refleksi mendalam.

Baca Juga  Belajar Hidup dari Kematian Seorang Sokrates

Berbeda dengan buku pengembangan diri (self-help) lain, Seneca menyajikan amarah dengan bersenjatakan logika yang keras, tetapi membebaskan jiwa pembacanya. Melalui buku How to Keep Your Cool, Seneca sedang menyajikan sebuah seni kehidupan, yang berlandas kepada rasio dan kebajikan.

Meski begitu, How to Keep Your Cool tidak lepas dari keterbasan. Penekanan Seneca kepada rasio dan penguasaan diri yang total, berpotensi mengabaikan kompleksitas kondisi psikologis manusia saat ini. Kini, kemarahan tidak hanya dipahami sebagai satu kegagalan nalar semata, melainkan juga sebagai respons yang dibentuk oleh trauma, tekanan struktural, dan kondisi sosial-ekonomi yang sulit diselesaikan melalui latihan batin.

Selain itu, filsafat Stoa, yang membentuk pemikiran Seneca dalam How to Keep Your Cool, cenderung elitis dan individualis. Nasihat untuk menahan amarah, serta menerima keadaan dengan lapang dada, menjadi problematik ketika manusia dihadapkan pada situasi ketiadaan yang sistemik.

Bagi mereka yang hidup dalam keadaan tertindas dan tidak memiliki kuasa, anjuran untuk mengendalikan emosi dapat dengan mudah berubah menjadi pembenaran atas kondisi tersebut. Dalam hal ini, Seneca berisiko memindahkan beban untuk menyelesaikan masalah manusia, yang semula dari ranah struktural, menjadi ke arah tanggung jawab moral individu.

Keterbatasan lain dari gagasan Seneca, adalah ketika ia masih hidup dan menulis De Ira, pemahaman tentang kesehatan mental tidak setinggi saat ini. Akibatnya, bagi pembaca yang tidak teliti, buku How to Keep Your Cool sulit untuk menjadi panduan praktis, di tengah persoalan emosional yang kompleks.

Meski begitu, catatan-catatan di atas tidak serta-merta membuat How to Keep Your Cool tidak berguna lagi. Ia hadir sebagai sebuah refleksi etis, bahwa melalui kerangka berpikir yang kuat, serta tanggung jawab moral yang baik, seseorang bisa mengendalikan emosi yang ada dalam dirinya.

Baca Juga  Panduan kepada Segenap Sejarawan di Indonesia

Kedua hal itu, setidak-tidaknya berguna ketika kita menghadapi konten ragebait di internet, yang berusaha memantik emosi kita untuk bereaksi. Ini yang membuat pandangan filosofis seorang Seneca tetap relevan bagi manusia modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *