Musik adalah hukum moral. Itu memberi jiwa kepada alam semesta, sayap kepada pikiran, penerbangan kepada imajinasi, serta pesona dan keceriaan kepada kehidupan dan segala sesuatu
Plato
Sebagai seorang pemikir, gagasan Plato (428-348 SM) tentang kosmos menempatkan harmoni sebagai prinsip ontologis yang membentuk realitas. Dalam dialog Timaeus, ia menjelaskan bahwa Demiurge membentuk jiwa dunia melalui proporsi numerik 1, 2, 3, 4, 8, 9, dan 27, merepresentasikan relasi geometris dan interval harmonik.
Struktur ini menunjukkan bahwa semesta tidak diciptakan secara acak, melainkan dibangun atas dasar rasio matematis yang identik dengan prinsip musikal. Sebagaimana dikemukakan oleh Francis MacDonald Cornford dalam Plato’s Cosmology: The Timaeus of Plato, kosmologi Plato merupakan sintesis antara spekulasi Pytagorean tentang angka dan metafisika bentuk sehingga harmoni menjadi jembatan antara dunia inteligibel dan dunia indrawi.

Dalam buku Estetika Musik dalam Peradaban Barat, Sunarto menguraikan bahwa dalam filsafat Plato, musik tidak semata-mata dipahami sebagai fenomena akustik, melainkan sebagai struktur rasional kosmos. Proporsi harmonik dan aritmetis yang disisipkan dalam pembentukan jiwa dunia menunjukkan bahwa jiwa memiliki kesesuaian intrinsik dengan tatanan semesta.
Seperti yang diungkapkan Luc Brisson dalam buku Plato the Myth Maker, pendekatan Plato bahwa kosmologi musik memperlihatkan relasi mendalam antara matematika, metafisika, dan antropologi filosofis, selaras dengan interpretasi modern yang melihat harmoni sebagai prinsip kosmologi fundamental, sebagai fondasi struktural yang memungkinkan keteraturan gerak kosmik dan kesatuan realitas.
Memahami kosmologi musik dalam filsafat Plato, seperti yang akan kita lakukan dalam tulisan ini, berarti menelaah bagaimana struktur matematis semesta, secara sekaligus menjadi dasar pembentukan jiwa manusia dan keteraturan dunia.
Harmoni sebagai Prinsip Ontologis Kosmos
Seperti yang telah diungkapkan pada bagian sebelumnya, Plato menegaskan bahwa kosmos dibentuk menurut rasio matematis yang identik dengan prinsip harmoni musikal.
Sunarto menyebut bahwa Demiurge menyusun jiwa dunia melalui proporsi numerik, yang termuat pada pengantar tulisan ini, mencerminkan dua progresi geometris. Ini menunjukkan bahwa realitas tersusun berdasarkan keteraturan proporsional, tidak dibentuk secara acak.
Lebih lanjut, Cornford mengungkapkan bahwa rangkaian bilangan tersebut, yakni 1, 2, 3, 4, 8, 9, dan 27, bukan dimaksudkan sebagai teori musik praktis. Ia merupakan model metafisik untuk menjelaskan kesatuan kosmos.
Harmoni, sebagai sebuah konsep, merupakan prinsip ontologis yang menyatukan Yang Sama dan Yang Lain dalam struktur jiwa dunia. Merujuk Timaeus karya Plato, Brisson menyebut bahwa kosmos adalah makhluk hidup yang rasional, karena ia memiliki jiwa yang dibangun melalui relasi numerik.
Perihal kosmologi musik Plato, Sunarto mengatakan bahwa ia tidak memulai dari pengalaman musikal empiris, melainkan dari aritmetika, sebagai dasar struktur realitas. Interval konsonan, seperti 2:1 (oktaf), 3:2 (kuint) dan 4:3 (kuart) menjadi simbol keteraturan ontologis.
Dapat dikatakan, harmoni dalam kosmologi Plato adalah struktur rasional yang menata keberadaan, bukan hanya sekadar estetika bunyi semata.
Jiwa Dunia sebagai Struktur Proporsional
Pembentukan jiwa dunia (anima mandi) merupakan inti kosmologi musik Plato. Sunarto, merujuk Timaeus, menyebut bahwa Demiurge mencampurkan unsur identitas, perbedaan, dan esensi, lalu membaginya menurut mean harmonik dan aritmetis. Proses ini menghasilkan interval 3:2, 4:3, dan 9:8, yang menjadi dasar struktur diatonik.
Lebih lanjut, M.F. Burnyeat dalam artikel Plato on Why Mathematics is Good for the Soul (diterbitkan kembali dalam Explorations in Ancient and Modern Philosophy Volume 3) menafsirkan bagian ini sebagai upaya Plato untuk menjelaskan rasionalitas kosmos melalui model matematis yang koheren. Jiwa dunia menjadi prinsip gerak dan pengetahuan. Ia mengetahui karena strukturnya sendiri bersifat rasional.

Menurut Thomas Kjeller Johansen dalam Plato’s Natural Philosophy: A Study of the Timaeus-Critias, mengatakan bahwa jiwa kosmos memungkinkan dunia memiliki dimensi kognitif. Ia bukan sekadar materi yang bergerak, tetapi organisme yang memahami dirinya sendiri.
Ini membuat seni nada Plato tidak membentuk sistem musikal tertutup, seperti dalam teori harmoni Aristoxenus. Ini juga menguatkan tesis, bahwa tujuan Plato bersifat kosmologis, bukan teknis-musikal.
Harmoni menjadi analogi struktural antara jiwa kosmos dan jiwa manusia. Jiwa manusia mampu mengenali persamaan dan perbedaan, karena ia tersusun menurut prinsip yang sama dengan jiwa dunia.
Struktur Matematis Semesta dan Warisan Pythagorean
Pandangan kosmologi musik Plato banyak dipengaruhi oleh tradisi Pythagorean, terutama konsep tetractys (1, 2, 3, 4) yang menghasilkan rasio konsonan sempurna. Namun, Plato memperluas konsep itu dengan dua progresi geometris, yakni (1, 2, 4, 8) dan (1, 3, 9, 27).
Dalam A History of Pythagoreanism, Carl A. Huffman menunjukkan bahwa dalam Pythagoreanisme, angka adalah prinsip ontologis realitas. Plato mengadopsi gagasan ini, tetapi mengintegrasikannya dalam metafisika bentuk. Seperti yang diungkapkan Charles H. Kahn dalam Pythagoras and the Pythagoreans, bagi Plato, angka dan proporsi bukan hanya dasar harmoni musikal, melainkan struktur rasional kosmos.
Lebih lanjut, analisis Andrew Barker dalam The Science of Harmonics in Classical Greece menunjukkan bahwa penyisipan mean harmonik dan aritmetis menghasilkan sistem interval yang secara matematis koheren, tetapi tidak sepenuhnya praktis secara musikal. Melalui gagasan ini, ia berpendapat bahwa teori harmonik Yunani klasik memang menghubungkan antara matematika dan kosmologi.
Tetapi, Plato menggunakan teori tersebut untuk tujuan metafisik yang lebih luas. Seperti yang tertuang dalam Timaeus, struktur matematis semesta Plato merupakan simbol kesempurnaan kosmik, bukan sekadar teori nada.
Musik sebagai Model Pengetahuan
Sebagai sebuah konsep, kosmologi musik Plato memiliki implikasi epistemologis. Jika kosmos dibangun berdasarkan rasio matematis, pengetahuan tentang kosmos juga harus bersifat matematis.
Dalam Nature and Divinity in Plato’s Timaeus, Sarah Broadie mengatakan bahwa matematika dalam kosmologi Plato berfungsi sebagai jembatan antara dunia bentuk dan dunia fenomenal. Dengan begitu, harmoni adalah sebuah model rasionalitas yang memungkinkan korespondensi antara mikrokosmos dan makrokosmos.
Lebih lanjut, Sunarto menyebut bahwa struktur jiwa memungkinkan manusia memahami gerak langit, karena ia memiliki kesesuaian struktural dengan kosmos. Keselarasan jiwa dengan kosmos menjadikan musik sebagai model epistemologis. Melalui harmoni, manusia memahami keteraturan semesta.
Musik dalam Dimensi Etis dan Pendidikan
Selain memiliki implikasi epistemologis, kosmologi musik Plato juga membentuk karakter dan etos.
Menurut Kathryn A. Morgan dalam Myth and Philosophy from the Presocratics to Plato, pendidikan musikal dalam filsafat Plato dimaksudkan untuk menyelaraskan jiwa individu dengan tatanan kosmik. Sunarto memperkuat gagasan Morgan, dengan merujuk dialog Republic yang disusun Plato.
Jika kosmos dibangun atas harmoni, pendidikan harus meniru struktur tersebut. Musik menjadi sarana pembentukan moral, karena ia mencerminkan keteraturan kosmos.
Dengan demikian, kosmologi musik Plato memiliki dimensi normatif; harmoni kosmik menjadi model harmoni jiwa dan masyarakat.
Penutup
Dapat disimpulkan, bahwa inti dari kosmologi musik dalam filsafat Plato dapat dirumuskan dalam lima pokok utama, yaitu: 1) harmoni sebagai prinsip ontologis, yang menyatukan keberagaman kosmos melalui rasio matematis; 2) jiwa dunia sebagai struktur proporsional, dibangun melalui interval harmonik dan aritmetis; 3) struktur matematis semesta, sebagai simbol kesempurnaan kosmik yang melampaui teori musik praktis; 4) dimensi epistemologis, dengan musik menjadi model pengetahuan karena adanya kesesuaian jiwa dan kosmos; dan 5) dimensi etis dan pedagogis, ketika harmoni kosmik menjadi dasar pembentukan karakter manusia.
Kosmologi musik Plato menempatkan musik sebagai bahasa matematis semesta, sebuah metafisika harmoni yang menghubungkan ontologi, epistemologi, dan etika dalam satu sistem rasional yang utuh.
Sangat bermanfaat untuk memahami harmoni musikal yg sebenarnya
Tulisan ini meberi pencerahan bahwa matematik ada dalam kosmologi Plato, harmoni adalah jiwa sebagai struktur proporsional, matematik sebagai simbol kesempurnaan yang melapaui teori musik praktis.
Terima kasih Prof. Sunarto atas pencerahanya.
Terimakasih atas pencerahannya, Prof. Sunarto
Selamat kepada Prof. Sunarto atas tulisan yang sangat inspiratif dan kaya makna ini. Uraiannya begitu mendalam serta mampu membuka wawasan tentang hubungan musik, jiwa, dan kosmos dalam pemikiran Plato. Semoga terus berkarya dan menginspirasi Prof.