Ketika Negara-Negara Asia Memberitakan G30S
Buku “G30S dan Asia” menunjukan kepada kita bahwa peristiwa G30S tidak hanya milik Indonesia, tetapi memiliki pengaruh hingga ke negara-negara Asia.
Buku “G30S dan Asia” menunjukan kepada kita bahwa peristiwa G30S tidak hanya milik Indonesia, tetapi memiliki pengaruh hingga ke negara-negara Asia.
Bagi generasi muda yang patriotik tidak ada alternatif kecuali melanjutkan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda [1928].
Bambang Purwanto, dengan bahasa yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sejarah tidak dapat dipandang hanya sebagai masa lalu.
Konflik Israel-Palestina selalu diberitakan berat sebelah oleh media di Indonesia. Apakah hal tersebut salah untuk dilakukan?
Bagi Báez, buku tidak dihancurkan oleh orang-orang bodoh. Sejarah membuktikan bahwa orang terdidik pun ikut andil dalam penghancuran buku dari masa ke masa.
Meski menghadapi banyak halangan, visi KH Abdul Halim untuk memajukan pendidikan dan pembaruan Islam di Majalengka tetap membara.
Sudah menjadi perdebatan setiap tahun menjelang 30 September, masyarakat Indonesia memperdebatkan siapa dalang peristiwa berdarah G30S. Akankah tabir gelap ini dapat terungkap kepada publik?
Antara pasukan Kristen atau pasukan Muslim, siapakah dalang yang memusnahkan Perpustakaan Alexandria yang adiluhung tersebut?
Lewat pelajaran sejarah dapat kita tanamkan, pendidikan humaniora yang lebih banyak. Bukan berarti pendidikan humaniora yang terpenting, tetapi ilmu dan humaniora harus diletakkan seimbang.
Sastra memberikan pelita bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini. Disayangkan, generasi masa kini abai terhadap esensi sastra.