Buku Ajar Sejarah dan “Abuse” Negara di Baliknya
Melalui “The Use and Abuse of History”, Marc Ferro menunjukan bahwa buku ajar sejarah tak lepas dari “abuse” (manipulasi) negara, dengan berbagai kepentingan di baliknya.
Melalui “The Use and Abuse of History”, Marc Ferro menunjukan bahwa buku ajar sejarah tak lepas dari “abuse” (manipulasi) negara, dengan berbagai kepentingan di baliknya.
Meski dituding sebagai riba, tradisi menukar uang kecil menjelang Lebaran masih tetap dilakukan masyarakat Indonesia. Ini merupakan bentuk “kearifan lokal” masyarakat muslim Indonesia untuk merayakan kebahagiaan dan rasa syukur atas berkah selama Ramadan.
Meski segala informasi telah tersedia Google, sejarah masih tetap diperlukan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Berkat sejarah, kemampuan kritis dalam menilai sumber dapat menghindari seseorang dari perangkap bias internet.
Meski Presiden Joko Widodo akan mengakui status warga negara terhadap 39 eksil G30S, itu saja masih belum cukup. Dibutuhkan upaya lebih besar untuk menyembuhkan luka menganga masyarakat Indonesia, yakni pemaknaan kembali sejarah 1965.
Pendidikan bukan hanya memupuk kemampuan mengetahui (knowledge) dan membuat (skill), melainkan yang lebih mendasar keistimewaan dalam berbuat (virtues).
Ketika Presiden Soekarno sedang khusyuk menjalankan ibadah salat Iduladha, tidak disangka olehnya, sekelompok orang telah menanti kesempatan tersebut. Berjarak 15 meter di belakang Soekarno, mereka menembakkan pistol, “Dor!”, hampir membunuhnya.
Mewujudkan “berpikir menyejarah” (historical thinking) kepada siswa (generasi muda) merupakan hal yang sulit, jika pengajaran sejarah masih sebagai pemahaman akan fakta dan hanya berpaku pada buku teks.
Setelah Belanda meminta maaf, sudah saatnya Indonesia mau berinvestasi jika benar-benar ingin memiliki sejarawan yang benar-benar mengetahui dan memahami sejarah Indonesia yang berkaitan dengan Belanda.
Buku “How to Write History that People Want to Read” dapat menjadi referensi awal bagi siapapun yang ingin menulis sejarah agar dapat menyesuaikan dengan kultur pembaca dan tidak terjebak dalam bahasa “ndakik-ndakik”.
Meski sudah banyak prestasi, upaya internasionalisasi Islam Indonesia merupakan tugas yang sangat berat karena ada faktor epistemologis yang non-empiris.