Rezim Pendidikan dan Penelitian
Pendidikan bukan hanya memupuk kemampuan mengetahui (knowledge) dan membuat (skill), melainkan yang lebih mendasar keistimewaan dalam berbuat (virtues).
Pendidikan bukan hanya memupuk kemampuan mengetahui (knowledge) dan membuat (skill), melainkan yang lebih mendasar keistimewaan dalam berbuat (virtues).
Ketika Presiden Soekarno sedang khusyuk menjalankan ibadah salat Iduladha, tidak disangka olehnya, sekelompok orang telah menanti kesempatan tersebut. Berjarak 15 meter di belakang Soekarno, mereka menembakkan pistol, “Dor!”, hampir membunuhnya.
Mewujudkan “berpikir menyejarah” (historical thinking) kepada siswa (generasi muda) merupakan hal yang sulit, jika pengajaran sejarah masih sebagai pemahaman akan fakta dan hanya berpaku pada buku teks.
Setelah Belanda meminta maaf, sudah saatnya Indonesia mau berinvestasi jika benar-benar ingin memiliki sejarawan yang benar-benar mengetahui dan memahami sejarah Indonesia yang berkaitan dengan Belanda.
Buku “How to Write History that People Want to Read” dapat menjadi referensi awal bagi siapapun yang ingin menulis sejarah agar dapat menyesuaikan dengan kultur pembaca dan tidak terjebak dalam bahasa “ndakik-ndakik”.
Meski sudah banyak prestasi, upaya internasionalisasi Islam Indonesia merupakan tugas yang sangat berat karena ada faktor epistemologis yang non-empiris.
Meski digugat, membandingkan sosok dan kepahlawanan Kartini dengan pahlawan perempuan Indonesia lainnya tidak “apple-to-apple”. Terlebih, melihat Kartini yang sadar akan nilai penting pendidikan bagi perempuan Bumiputera, menjadi nilai tambah yang membuatnya tetap relevan untuk diperingati secara khusus pada masa kini.
Kesadaran nasional era digital semakin kita rasakan ialah kesadaran untuk menjadi manusia. Manusia tetap unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Integrasi dan harmoni Bali diwujudkan dengan interaksi kebudayaan antara masyarakat Hindu dengan Nyama Selam, masyarakat Bali yang memeluk agama Islam. Interaksi ini merupakan kisah persaudaraan sehidup semati antara Islam dan Hindu di Pulau Dewata tersebut.
Berdasarkan cara berpikir historis, dapat dengan mudah disimpulkan: salah satu sebab dari disorientasi nilai yang terjadi pada bangsa Indonesia saat ini berhubungan erat dengan disorientasi historiografis Indonesia yang membentuk memori kolektif sebagai narasi sejarah bangsa.