Kebangkitan Orde Baru? Wong Kita Masih dalam Zaman Orba, Kok!
Kehadiran Soeharto versi AI membangkitkan ketakutan masyarakat akan kebangkitan Orde Baru. Padahal, rezim jahat yang mereka takutkan, masih hidup hingga hari ini
Kehadiran Soeharto versi AI membangkitkan ketakutan masyarakat akan kebangkitan Orde Baru. Padahal, rezim jahat yang mereka takutkan, masih hidup hingga hari ini
Buku “The Crescent and The Rising Sun” memberikan informasi bahwa Islam di Indonesia tumbuh menjadi kekuatan politik berkat bantuan pendudukan Jepang. Tanpanya, ia tidak akan seperti sekarang.
Penjabaran Karma Yoga yang diramunya dengan kehidupan modern secara bebas dan terbuka, tak pernah aus dimakan waktu. Di saat etos kerja diseru-serukan, kreativitas disulut, humaniora didengung-dengungkan, “suara” spiritual Tagore selayaknya dikenang kembali.
Bagi sejarawan sekaliber Kuntowijoyo, sejarah versi malaikat lebih berharga ketimbang sejarah versi manusia. Meski mungkin lemah secara metode penelitian kesejarahan, sejarah versi malaikat menyajikan kisah masyarkat kebanyakan yang berjuang secara ikhlas dalam perjalanan sejarah.
Abu, dengan kekuatan yang ia warisi dari para dalang terkenal dan kakeknya, harus menghadapi Mesin Politik dan orang-orang “pohon Randu”. Akankah wayang, kesenian yang ia cintai, bertahan dihantam gempuran Mesin Politik?
Pada 23 Juli 2001, kursi kepemimpinan Abdurrahman Wahid sirna. Ia dimakzulkan oleh MPR. Apa benar, pemakzulan tersebut merupakan sebuah upaya kudeta?
Di era internet dewasa ini, keberadaan buku seolah-olah terpinggirkan dan dipandang tidak relevan lagi bagi masyarakat. Apa benar demikian?
Melalui “Perdagangan Eropa & Asia di Nusantara”, Meilink-Roelofsz menunjukan bahwa kedatangan penjelajah Eropa memiliki andil dalam sejarah perdangangan Asia, bertentangan dengan opini van Leur.
Ganasnya media sosial menyiarkan informasi mengenai isu pengungsi Rohingya tidak hanya memperkeruh masalah yang sedang berlangsung, tetapi juga berdampak mempengaruhi gagasan kolektif masyarakat terhadap isu tersebut. Berkat media sosial, mereka menjadi antipati.
Melalui buku “Peradaban Jawa”, Supratikno Rahardjo mengajak pembaca untuk menyelami aspek-aspek peradaban Jawa kuno yang terus tumbuh, dan mungkin masih dapat dirasakan hingga kini.