Sebuah Tinjauan Perkembangan Historiografi di Indonesia
Tidak banyak buku sejarah populer yang menyajikan kisah mengenai perjalanan historiografi Indonesia. Dari sedikit buku tersebut, buku “Historiografi di Indonesia” menjadi salah satunya
Tidak banyak buku sejarah populer yang menyajikan kisah mengenai perjalanan historiografi Indonesia. Dari sedikit buku tersebut, buku “Historiografi di Indonesia” menjadi salah satunya
Jauh sebelum negara-negara di dunia mengenal prinsip “good governance”, kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq telah menerapkannya jauh pada abad ke-7 Masehi. Seperti apa kisahnya?
Bukan salat, bukan zakat, dan bukan berhaji, perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad. Perintahj pertamanya adalah untuk membaca. Mengapa demikian?
Oleh Jared Diamond, sejarah manusia sejak awal peradaban hingga kini dirangkum dalam sebuah buku yang berisi namun menyenangkan. “Guns, Germs & Steel” menawarkan perjalanan dan perbedaan kemajuan peradaban manusia secara geografis
Kutipan “historio magistra vitae” atau “sejarah adalah guru kehidupan” dipercaya oleh banyak orang. Namun, apakah kutipan tersebut masih tepat dewasa ini?
Jika manusia dapat kembali ke masa lalu, apakah ia dapat menjamin kebenaran tunggal dalam sejarah? Apakah sebuah narasi tunggal, yang selalu benar sepanjang masa, dapat tercipta?
Eksil menyajikan kisah pilu para eksil 1965, yang menjadi pesakitan karena kebijakan rezim di Indonesia terhadap sejarah. Meski berada di negara asing, mereka tetap mencintai Indonesia hingga akhir hayat.
Budaya kongkalikong yang dilakukan pejabat Indonesia memiliki sejarah panjang. Ia telah berakhir sejak masa penjajahan, ketika penguasa pribumi bekerja sama dengan pemerintah kolonial untuk melanggengkan kekuasaan mereka
Jurusan sejarah ditempatkan sebagai pemuncak jurusan kuliah bagi orang-orang yang tidak terlalu benar, membuatnya menjadi jurusan yang tidak berguna. Apa benar adanya?
Suidat, melalui buku “Sejarah Nasional Indonesia untuk Pelajar”, menyajikan sejarah Indonesia dengan pendekatan Islam yang kental. Meski begitu, rasa indonesiasentris masih terasa dalam buku yang ia susun