Setiap Manusia Butuh Berfilsafat
Setiap orang diharapkan untuk sealu berfilsafat dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Berfilsafat membantu manusia membedah mitos, dan menemukan kebenaran sejati.
Setiap orang diharapkan untuk sealu berfilsafat dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Berfilsafat membantu manusia membedah mitos, dan menemukan kebenaran sejati.
Etika deontologis yang dicetuskan Immanuel Kant dapat disederhanakan menjadi satu poin utama: perbuatan yang sesuai moral belum tentu merupakan perbuatan yang benar, jika ia belum dilandasi dengan prinsip ketaatan terhadap moral itu sendiri
Antiperpustakaan (antilibrary) tidak hanya berarti pengetahuan mengenai ketidaktahuan, seperti yang dijabarkan Nassim Nicholas Taleb. Ia juga dapat dimaknai sebagai tergerusnya para pembaca buku, yang mungkin akan terpinggirkan di masa depan.
Proses perkawinan di Dusun Pelinggihan, Bondowoso, digelar dengan mengadakan tradisi arak penganten. Dalam tradisi tersebut, pementasan jaran kencak menjadi kesenian yang ditunggu-tunggu masyarakat desa
Melalui kumpulan cerpen yang indah, Isbedy Stiawan ZS menampilkan kepada kita kehidupan kaum perempuan yang masih belum bisa terbebas dari belenggu ketidakadilan dan marginalisasi
Keberadaan IQ Zoo, yang diprakarsai pasangan Keller dan Marian Breland, membuktikan bahwa para hewan, yang sering dianggap remeh manusia, dapat melakukan tugas dan aktivitas melampaui kebiasaannya
Sejarah seharusnya menjadi alat untuk membebaskan manusia dari ikatan konflik dan kebencian yang telah mendarah daging. Apakah dunia, terutama Indonesia, telah melakukan hal ini?
Pemilu 2024 telah usai. Saatnya seluruh elemen masyarakat di Indonesia membebaskan diri dari semua unsur kebencian dan permusuhan kepada sesama bangsa Indonesia, dan bergerak, bersatu menciptakan perdamaian
Evangeline Fox berusaha mencegah pernikahan kekasihnya dengan saudara tirinya. Ia membuat perjanjian di hadapan patung Takdir, dan bertemu dengan Pangeran Hati. Namun, ada sesuatu yang harus disesalinya dari tindakan tersebut
Menurut Indra Nanda Awalludin, yang ia tuangkan dalam opini di situs “Historical Meaning”, Gen Z Indonesia memilih pemimpin yang hanya “relate” dengan diri mereka, meski gagasan mereka nol besar. Apa benar?