Musik sering dipahami sebagai salah satu bentuk ekspresi yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Sejak masa kuno hingga era digital, ia hadir dalam berbagai aktivitas sosial, keagamaan, politik, dan budaya. Ia tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan nilai, membangun identitas kolektif, serta merekam pengalaman historis suatu masyarakat.
Sebagaimana diungkapkan Ben Lewis dalam buku Oswald Spengler and the Politics of Decline, ketika suatu komunitas mengalami perubahan politik, ekonomi, atau spiritual, perubahan tersebut kerap tercermin dalam bentuk, fungsi, dan makna musik yang mereka hasilkan. Ini membuat musik tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah dan kebudayaan yang melahirkannya.
Hubungan antara musik dan sejarah telah lama menjadi perhatian para filsuf, sejarawan, dan musikolog. Ia telah menjadi bagian dari cara manusia dalam memahami dunia dan menempatkan dirinya di tengah kehidupan sosial, bukan sekadar produk estetis yang berdiri sendiri. Seperti yang diungkapkan dalam buku The Oxford Handbook of Aesthetics yang disunting oleh Jerrold Levingson, dalam perspektif estetika kontemporer, karya seni selalu terhubung dengan konteks historis yang membentuknya.
Pemahaman terhadap musik tidak hanya memerlukan analisis bentuk musikal, tetapi juga pembacaan terhadap dunia budaya yang menjadi latar kemunculannya. Salah satu pemikir yang memberikan perhatian mendalam akan hal ini, adalah Oswald Spengler.
Gagasannya terkait filsafat sejarah ia tuangkan dalam dua volume The Decline of the West, dengan Form and Actuality sebagai volume pertama dan Perspectives of World History sebagai volume kedua. Khusus mengenai musik sebagai ekspresi terdalam dari jiwa kebudayaan, serta sebagai indikator penting dalam memahami siklus kehidupan suatu peradaban, Spengler membedahnya dalam volume pertama.
Oswald Spengler dan Projek Membaca Nasib Peradaban
Oswald Spengler (1880-1936) merupakan salah satu filsuf sejarah paling berpengaruh sekaligus kontroversial pada abad ke-20. Lahir di Blankenburg, Jerman, ia memperoleh pendidikan dalam bidang matematika, ilmu alam, sejarah, serta filsafat.
Namanya dikenal luas setelah penerbitan The Decline of the West (Der Untergang des Abendlandes), yang terbit dalam dua jilid masing-masing pada 1918 dan 1922. Karya tersebut muncul di tengah suasana krisis yang melanda Eropa pasca-Perang Dunia I, ketika keyakinan akan kemajuan, rasionalitas, dan superioritas Barat mulai digugat dan dipertanyakan.
Berbeda dengan filsafat sejarah yang berkembang sejak masa Pencerahan, Spengler menolak gagasan bahwa sejarah manusia bergerak secara linear menuju kemajuan yang semakin tinggi. Menurutnya, setiap kebudayaan besar memiliki kehidupan yang menyerupai organisme hidup. Kebudayaan lahir, tumbuh, mencapai kematangan, dan akhirnya mengalami kemunduran, sebelum digantikan oleh bentuk kebudayaan lain.

Dalam The Decline of the West: Form and Actuality, Spengler mengistilahkan morfologi (a morphology of world history) kebudayaan sebagai satu upaya untuk memahami pola simbolik yang membentuk identitas suatu kebudayaan, dengan memandang seni, agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan sebagai manifestasi dari jiwa kebudayaan yang sama.
Meski sering dianggap sebagai pemikir pesimistis karena berbicara mengenai kemunduran Barat, gagasan Spengler menawarkan cara pandang yang unik terhadap huhungan antara budaya dan sejarah. Dalam artikel The Decline of the West by Oswald Spengler, Northrop Frye menilai bahwa kekuatan utama Spengler terletak pada kemampuannya melihat sejarah sebagai pola simbolik yang berulang, bukan sekadar rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri. Pendekatan ini membuka ruang untuk memahami musik, yang menjadi fokus tulisan ini, sebagai bagian dari struktur historis yang lebih luas.
Musik sebagai Cermin Kehidupan Kebudayaan
Dalam sistem pemikiran yang dicetuskan Spengler, musik menempati posisi yang sangat istimewa. Ia berpendapat bahwa musik lebih mampu mengungkapkan pengalaman terdalam manusia dibandingkan bentuk seni lainnya.
Jika seni rupa bekerja melalui representasi visual, musik bekerja melalui pengalaman temporal yang bergerak dalam waktu. Ini membuatnya dapat menghadirkan dunia pengalaman yang memungkinkan manusia merasakan makna yang melampaui bahasa, tidak hanya menggambarkan objek secara langsung.
Pandangan tersebut seirama dengan pemikiran Susanne Langer. Dalam buku Feeling and Form: A Theory of Art Developed from Philosophy in a New Key, Susanne K. Langer melihat musik sebagai bentuk simbolis dari pengalaman manusia. Ia eksis sebagai ekspresi jiwa kolektif suatu kebudayaan, bukan sekadar ekspresi emosi individu belaka. Bentuk musikal yang berkembang dalam suatu masyarakat mencerminkan cara mereka memahami realitas, ruang, waktu, serta keberadaan mereka.

Pemahaman ini juga sejalan dengan apa yang diungkapkan Roger Scruton. Dalam buku The Aesthetics of Music, ia menegaskan bahwa musik tidak dapat direduksi menjadi fenomena fisik berupa bunyi semata. Pengalaman musikal merupakan pengalaman yang sarat makna, dan berkaitan dengan cara manusia membangun hubungan dengan dunia. Ini membuat musik selalu mengandung dimensi budaya dan historis, tidak dapat dipisahkan dari pengalaman estetisnya.
Terkait tradisi musik Barat, Carl Dahlhaus dalam The Idea of Absolute Musicmengatakan bahwa terdapat gagasan tentang absolute music, yaitu pandangan bahwa musik memiliki makna intrinsik yang tidak bergantung pada representasi objek di luar dirinya.
Walau Spengler tidak secara langsung berbicara tentang ini, gagasan Dahlhaus dan Spengler sama-sama menganggap bahwa musik merupakan medium yang mampu mengungkapkan dimensi terdalam pengalaman manusia. Perbedaan utama dari hal ini, adalah Spengler menghubungkan pengalaman tersebut dengan jiwa kebudayaan yang melatarbelakanginya.
Sejarah sebagai Siklus Kehidupan Kebudayaan
Hughes, dalam Oswald Spengler: A Critical Estimate, mengatakan bahwa salah satu gagasan pokok dalam filsafat sejarah Spengler adalah penolakannya terhadap konsep sejarah universal. Menurutnya, tidak ada satu jalur perkembangan yang berlaku bagi seluruh umat manusia. Kebudayaan Mesir, India, Tiongkok, Arab, Yunani-Romawi, serta Barat, sebagai contoh, memiliki pola perkembangan yang berbeda, karena didasarkan pada pengalaman historis dan simbol budaya masing-masing peradaban yang unik.
Pendekatan kebudayaan ini, disebut oleh Spengler sebagai morfologi kebudayaan. Botz-Bornstein mengungkapkan bahwa morfologi budaya Spengler memahami setiap kebudayaan sebagai kesatuan organis yang memiliki corak khas dan menjalani tahap kelahiran, pertumbuhan, kematangan, serta kemunduran.
Pada tahap awal, menurut morfologi kebudayaan yang dicetuskan Spengler, energi kreatif suatu kebudayaan menghasilkan agama, seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan baru. Ketika mencapai puncaknya, kebudayaan melahirkan karya-karya besar yang mencerminkan kematangan spiritualnya. Berikutnya, muncul sebuah fase yang disebut sebagai civilization, yakni masa ketika kreativitas budaya mulai digantikan oleh rasionalisasi, teknologi, birokrasi, dan dominasi ekonomi.

Seperti dalam diagram di atas, dapat diamati bahwa eksistensi Johann Sebastian Bach mewakili masa kematangan kultur musik di dunia Barat, dan keberadaan Richard Wagner melambangkan fase transisi kebudayaan Barat menuju tahap peradaban. Dalam bahasa yang lebih sederhana, diagram itu menunjukkan bahwa musik bukan fenomena otonom, melainkan bagia dari siklus kehidupan kebudayaan.
Botz-Bornstein menerangkan bahwa konsep morfologi kebudayaan Spengler tidak dimaksudkan sebagai hukum sejarah yang bersifat mekanis. Sebaliknya, konsep tersebut berfungsi sebagai alat untuk memahami pola simbolik yang muncul berulang kali dalam berbagai peradaban. Musik menjadi bagian penting dari pola tersebut, karena merekam perubahan orientasi budaya dan pengalaman historis masyarakat.
Kebudayaan Faustian dan Musik Barat
Untuk menjelaskan karakter khas kebudayaan Barat, Spengler menggunakan istilah Faustian. Istilah ini diambil dari tokoh Faust dalam tradisi sastra Jerman. Tokoh Faust melambangkan hasrat manusia untuk melampaui batas pengetahuan dan pengalaman yang tersedia.
Menurut Spengler, semangat Faustian merupakan ciri utama kebudayaan Barat sejak Abad Pertengahan. Jiwa tersebut selalu mendorong Barat untuk mengeksplorasi ruang yang tak terbatas, memperluas cakrawala pengetahuan, dan menembus batas-batas yang ada.
Semangat Faustian itu tercermin secara jelas dalam perkembangan musik Barat. Berbeda dari banyak tradisi musik kuno yang berpusat pada melodi tunggal, musik Barat mengembangkan polifoni, yaitu teknik yang memungkinkan beberapa garis melodi bergerak secara simultan.
Bagi Spengler, polifoni bukan hanya inovasi teknis, tetapi sebagai simbol metafisik dari pengalaman ruang yang tak terbatas. Kecenderungan yang sama juga dapat ditemukan dalam arsitektur Gotik yang menjulang tinggi, perkembangan matematika modern, dan eksplorasi geografis bangsa-bangsa Eropa, sebagaimana diungkapkan John Farrenkopf dalam buku Prophet of Decline: Spengler on World History and Politics.
Seperti yang diungkapkan Levinson dalam bagian awal tulisan ini, bahwa karya seni selalu terikat pada tradisi historis yang membentuknya. Perspektif ini memperkuat argumen Spengler, bahwa perkembangan polifoni, harmoni tonal, dan bentuk simfoni tidak dapat dipahami semata-mata sebagai perkembangan teknik musikal belaka. Seluruh perkembangan tersebut merupakan manifestasi perubahan kesadaran budaya Barat yang terus bergerak menuju gagasan tentang ketakterhinggaan.
Dalam pandangan Spengler, salah satu representasi tertinggi dari jiwa Faustian adalah Johann Sebastian Bach. Struktur kontrapung yang kompleks dalam berbagai karya Bach menciptakan ruang musikal yang luas dan dinamis, sekaligus menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam.
The Oxford History of Western Music College Edition, yang disunting oleh Richard Taruskin dan Christopher H. Gibbs, juga menempatkan Bach sebagai figur sentral dalam pembentukan bahasa musikal Barat modern. Posisi ini sejalan dengan interpretasi Spengler mengenai peran Bach dalam sejarah kebudayaan Barat.
Relevansi Pemikiran Spengler
Pemikiran Spengler sering dikritik karena dianggap terlalu deterministik dan pesimistis. Kalangan sejarawan berpendapat bahwa kebudayaan tidak berkembangan mengikuti pola biologis yang tetap. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat mampu beradaptasi, bertransformasi, dan menciptakan bentuk-bentuk budaya baru yang tidak selalu sesuai dengan pola siklus yang digambarkan Spengler.
Meski demikian, pemikirannya tetap memiliki nilai penting bagi studi musik. Spengler mengingatkan kita bahwa musik tidak dapat dipahami hanya melalui aspek teknis atau estetis. Ia juga merupakan gejala historis, yang mencerminkan nilai, aspirasi, konflik, dan harapan suatu masyarakat. Dalam dunia yang semakin global, munculnya musik hibrida, kolaborasi lintas budaya, dan perkembangan teknologi digital memperlihatkan pentingnya memahami hubungan antara musik dan perubahan sosial masyarakat.
Botz-Bornstein menegaskan bahwa kekuatan utama Spengler terletak pada kemampuannya menunjukkan bagaimana simbol-simbol budaya membentuk pengalaman manusia. Sebagaimana diungkapkan lebih lanjut oleh Jeffrey Herf dalam buku Reactionary Modernism, hubungan antara budaya dan teknologi yang dibahas Spengler masih relevan di abad ke-21.
Dapat dikatakan, walau banyak aspek pemikirannya masih diperdebatkan, Spengler menawarkan perspektif yang berharga bagi studi musik dan kebudayaan. Ia mengajak kita untuk melihat musik bukan sekadar rangkaian bunyi yang indah, melainkan sebagai satu dokumen historis yang menyimpan jejak perjalanan manusia. Setiap bentuk musikal, dari polifoni Bach hingga drama musikal Wagner, dapat dibaca sebagai cermin perubahan peradaban yang melahirkannya.