Kisah Para Indonesianis Mencintai Indonesia
Meski tak lahir dan dibesarkan di Indonesia, kecintaan para peneliti asing, dikenal sebagai Indonesianis, terhadap negara ini sangat tinggi. Melalui penelitian, mereka mencurahkan perasaan cinta mereka.
Rubrik yang memuat tulisan sejarah naratif, yang mengisahkan tokoh, peristiwa, maupun fenomena kesejarahan tertentu yang disajikan dengan resep rahasia khas Historical Meaning
Meski tak lahir dan dibesarkan di Indonesia, kecintaan para peneliti asing, dikenal sebagai Indonesianis, terhadap negara ini sangat tinggi. Melalui penelitian, mereka mencurahkan perasaan cinta mereka.
Bagdad, yang menjadi jantung peradaban ilmu pengetahuan dunia Islam sejak abad ke-8, harus luluh lantak dibumihanguskan pasukan Mongol. Keruntuhannya menjadi awal “era kegelapan” dunia Islam, yang dirasakan hingga hari ini.
Menurut pendapat banyak orang, keberadaan relief Kamadhatu pada Candi Borobudur disembunyikan karena dianggap vulgar dan cabul. Apa benar demikian?
Sejarah Indonesia menulis bahwa VOC bubar pada 31 Desember 1799 karena korupsi, sehingga ia dikenal sebagai “Vergaan Onder Corruptie”. Apa benar sesederhana itu?
Fahmi Basya, melalui buku kontroversialnya, mengklaim bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman. Apa benar demikian?
Meski memiliki banyak nama, tradisi Ruwahan di Jawa memiliki dua esensi, yakni menghormati arwah leluhur dan bercengkrama dengan sanak saudara untuk menyambut Ramadan secara bersama-sama.
Pada mulanya, ogoh-ogoh hanya berkembang di wilayah Kesiman, Denpasar, pada 1984. Lambat laun, ia menyebar hingga ke desa-desa, dan kini menjadi tradisi yang tak terpisahkan dengan perayaan Nyepi di Bali.
Masa Revolusi Nasional Indonesia menentukan dinamika kerajaan-kerajaan lokal di Indonesia. Ada yang memilih bergabung dengan Republik atau Belanda, ada yang saling berkonflik, ada pula yang menghilang karena revolusi.
Sejak pariwisata menjadi fokus ekonomi Bali, hippies menjadi masalah yang memusingkan pemerintah daerah. Meski dibasmi, keberadaan mereka tetap membanjiri Bali sejak 1970-an.
Banyak yang menduga kebencian terhadap Israel dan Yahudi di Indonesia muncul begitu saja. Padahal, sejak “Protocol of the Elders of Zion” diterbitkan untuk pembaca Indonesia, akar-akar kebencian terhadap mereka tumbuh dalam masyarakat Muslim di Indonesia.