Apakah Benar Borobudur Dibangun Nabi Sulaiman?
Fahmi Basya, melalui buku kontroversialnya, mengklaim bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman. Apa benar demikian?
Fahmi Basya, melalui buku kontroversialnya, mengklaim bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman. Apa benar demikian?
Meski memiliki banyak nama, tradisi Ruwahan di Jawa memiliki dua esensi, yakni menghormati arwah leluhur dan bercengkrama dengan sanak saudara untuk menyambut Ramadan secara bersama-sama.
Pada mulanya, ogoh-ogoh hanya berkembang di wilayah Kesiman, Denpasar, pada 1984. Lambat laun, ia menyebar hingga ke desa-desa, dan kini menjadi tradisi yang tak terpisahkan dengan perayaan Nyepi di Bali.
Sejarah bukan dongeng, namun proses fakta yang harus didukung oleh adanya sifat ilmiah, akali-rasional. Jadi penulisan sejarah harus mampu menggambarkan kejadian yang berproses itu secara kausatif, yakni hubungan sebab akibat dari apa yang menjadi sebab dengan apa yang terjadi sebagai akibat dari penyebab itu.
Masa Revolusi Nasional Indonesia menentukan dinamika kerajaan-kerajaan lokal di Indonesia. Ada yang memilih bergabung dengan Republik atau Belanda, ada yang saling berkonflik, ada pula yang menghilang karena revolusi.
Keadaan masa kini merupakan kelanjutan masa lalu, dan perkembangan masa yang akan datang bertumpu pada masa kini. Untuk mengetahui masa lampau, masa kini, dan masa mendatang, seseorang diharapkan mempelajari sejarah.
Media sosial menuntut penjaja konten sejarah untuk cepat. Kondisi ini sering membuat mereka mengabaikan aspek empati ketika menyajikan konten. Kondisi ini membuat mereka terlihat hanya mengejar “klik” semata.
Media populer mampu mempermudah masyarakat untuk belajar sejarah. Tetapi, penyajian saja tidak cukup. Butuh lebih dari sekadar penyajian yang manis untuk menghasilkan pemahaman sejarah yang kuat dan membumi.
Sejak pariwisata menjadi fokus ekonomi Bali, hippies menjadi masalah yang memusingkan pemerintah daerah. Meski dibasmi, keberadaan mereka tetap membanjiri Bali sejak 1970-an.
Banyak yang menduga kebencian terhadap Israel dan Yahudi di Indonesia muncul begitu saja. Padahal, sejak “Protocol of the Elders of Zion” diterbitkan untuk pembaca Indonesia, akar-akar kebencian terhadap mereka tumbuh dalam masyarakat Muslim di Indonesia.