Perjuangan Hak Hidup Kelompok LGBT Tidak Datang Begitu Saja
Kondisi kelompok LGBT di Amerika Serikat saat ini tidak datang begitu saja. Ia merupakan hasil perjuangan melawan diskriminasi, persekusi, dan penghinaan selama puluhan tahun.
Rubrik resensi buku maupun kumpulan kutipan yang disaijkan dengan pendekatan khas Historical Meaning. Dalami bagaimana buku dan kumpulan kutipan membentuk narasi mengenai suatu topik tertentu
Kondisi kelompok LGBT di Amerika Serikat saat ini tidak datang begitu saja. Ia merupakan hasil perjuangan melawan diskriminasi, persekusi, dan penghinaan selama puluhan tahun.
Buku “We Have Never Been Modern” mengajarkan kita bahwa tidak ada orang modern di dunia ini. Ide modernitas, yang memisahkan antara “Alam” dan “Budaya”, tidak dapat dipertahankan lagi.
Melalui “The Counter-Revolution of Science”, F.A. Hayek menunjukan bahwa ilmu sosial sulit untuk menciptakan sebuah hukum karena terlalu dekat dengan subjektivitas yang mereka miliki.
Buku “The Slave Ship: A Human History” menunjukan kepada pembaca bagaimana “drama” horor serta pergolakan kehidupan antara kapten kapal, para pelaut, serta budak belian, dalam sebuah panggung mengapung yang bernama kapal pengangkut budak.
Melalui “The Use and Abuse of History”, Marc Ferro menunjukan bahwa buku ajar sejarah tak lepas dari “abuse” (manipulasi) negara, dengan berbagai kepentingan di baliknya.
Meski segala informasi telah tersedia Google, sejarah masih tetap diperlukan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Berkat sejarah, kemampuan kritis dalam menilai sumber dapat menghindari seseorang dari perangkap bias internet.
Mewujudkan “berpikir menyejarah” (historical thinking) kepada siswa (generasi muda) merupakan hal yang sulit, jika pengajaran sejarah masih sebagai pemahaman akan fakta dan hanya berpaku pada buku teks.
Buku “How to Write History that People Want to Read” dapat menjadi referensi awal bagi siapapun yang ingin menulis sejarah agar dapat menyesuaikan dengan kultur pembaca dan tidak terjebak dalam bahasa “ndakik-ndakik”.
Perjalanan Putu Setia, mulai dari masa kecil hingga pengalaman hidup pada masa Orde Baru, tersaji dengan apik dengan bahasa yang menggugah minat pembaca. Banyak kisah yang tertuang dalam buku ini, terutama pengalaman Bali setelah 1965 dan masa “Golkarisasi”.
Kasta, sebuah topik yang dianggap sudah usang oleh masyarakat Bali, disajikan dengan segar dalam buku ini. Meski begitu, penulis masih terperangkap dalam buai eksotisme Bali yang membelenggu siapapun yang ingin menulis mengenai Bali.