Tim nasional (timnas) Indonesia U17, yang diasuh oleh Nova Arianto, telah memastikan satu kursi peserta Piala Dunia U17 2025 di Qatar. Putu Panji dan kawan-kawan, saat melawan Yaman, berhasil meraih kemenangan.
Kemenangan tersebut, selain terasa luar biasa dan membawa Garuda Muda ke ajang Piala Dunia U17, juga menjadikan Indonesia mampu mengalahkan wakil negara-negara Timur Tengah, yang sulit untuk dilakukan jika melihat catatan sejarah.

Sebelum timnas Indonesia U17 berjaya, negara-negara Timur Tengah menjadi neraka bagi tim sepakbola negeri ini. Kekalahan demi kekalahan dialami, termasuk kekalahan terbesar saat takluk di tangan Bahrain dengan skor 10-0.
Namun, pascapandemi, neraka tersebut justru menjadi saksi sejarah bagi timnas Indonesia, yang menghasilkan banyak catatan gemilang. Apa sajakah itu?
Catatan Timnas Indonesia Kontra Timur Tengah sebelum Pandemi
Sebelum pandemi COVID-19, Indonesia memiliki banyak catatan buruk saat bertemu tim yang berasal dari negara-negara Timur Tengah. Catatan terakhir kemenangan yang diperoleh timnas Indonesia senior adalah pada 22 Agustus 2011, ketika berhasil menundukkan Palestina dengan skor 4-1 di Stadion Manahan, Solo, dalam pertandingan persahabatan.
Setelah mengalahkan Palestina, Indonesia bertandang ke Yordania dalam rangka uji coba untuk persiapan Kualifikasi Piala Dunia 2012. Pada 27 Agustus 2011, kiper Indonesia, Markus Horison, harus memungut bola dari gawangnya sebanyak satu kali. Pertandingan berakhir dengan skor 1-0, dengan kekalahan Indonesia.
Pada Kualifikasi Piala Dunia 2014, Indonesia berada satu grup dengan Iran, Bahrain, dan Qatar, tiga negara dari daerah Timur Tengah. Pada ajang tersebut, timnas Garuda berakhir babak belur dihajar Iran (3-0; 1-4), Bahrain (0-2; 10-0), dan Qatar (2-3; 4-0). Indonesia berakhir tanpa membawa satu poin pun di grup tersebut.

Di tengah ajang Kualifikasi Piala Dunia tersebut, Indonesia sempat melakukan uji coba dengan Saudi Arabia, satu negara Timur Tengah. Pertandingan yang diselenggarakan sebagai uji tanding sebelum menjamu Qatar tersebut berakhir dengan skor kacamata.
Seakan berjodoh, Indonesia kembali bertemu dua wakil dari Timur Tengah pada kompetisi berikutnya, yakni Kualifikasi Piala Asia 2015. Kedua negara tersebut adalah Irak dan Arab Saudi.
Sebelum bertanding, Indonesia menjajal Yordania dalam laga uji coba. Hasil akhir, sudah bisa ditebak; tim yang diasuh oleh Nil Maizar tersebut tunduk 5-0 atas Yordania.
Melanjutkan ke Kualifikasi Piala Asia 2015, Indonesia mengakhiri laga melawan Irak dan Arab Saudi, dua negara perwakilan daerah Timur Tengah, dengan kekalahan. Satu-satunya poin yang diperoleh timnas Indonesia adalah ketika berhasil menahan imbang Tiongkok di Gelora Bung Karno, dengan skor 1-1.
Pasca-Kualifikasi Piala Asia 2015, Indonesia mengisi tahun 2014 dengan beberapa uji tanding, termasuk tiga laga melawan wakil dari Timur Tengah. Indonesia berhassil menahan imbang Qatar pada 14 Juli (2-2), Yaman pada 9 September (0-0), meski pada 15 November tahun itu, Indonesia berakhir kebobolan dua gol tanpa balas ketika menghadapi Suriah.
Dua pertandingan terakhir Indonesia menghadapi tim dari daerah Timur Tengah, utamanya sebelum pandemi, terjadi pada 11 Juni 2019 dan 10 Oktober 2019, masing-masing menghadapi Yordania dan Uni Emirat Arab. Dalam kedua pertandingan itu, Indonesia mengalami kekalahan, yakni 4-1 melawan Yordania, dan 5-0 menghadapi Uni Emirat Arab.
Mulai Menampilkan Taring
Setelah menjadi bulan-bulanan negara-negara Timur Tengah, Timnas Indonesia berhasil menunjukkan taring pasca-pandemi. Beberapa catatan manis berhasil ditorehkan, baik oleh timnas senior maupun timnas jenjang umur, ketika berhadapan dengan perwakilan dari Timur Tengah.
Contoh yang cukup dekat, misalkan, adalah keberhasilan timnas senior Indonesia mengalahkan Kuwait dalam babak ketiga Kualifikasi Piala Asia 2023. Kala itu, Kuwait, yang telah unggul satu gol, berhasil dibalas melalui pinalti dari Marc Klok dan tendangan Rachmat Irianto. Timnas besutan Shin Tae-yong tersebut menang atas Kuwait dengan hasil 2-1, dan dibarengi dengan kemenangan atas Nepal dengan skor 7-0, memastikan Indonesia kembali ke Piala Asia.

Berikutnya, pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 leg pertama, timnas senior Indonesia berhasil menahan imbang Arab Saudi, dan Bahrain, negara Timur Tengah yang telah mempermalukan Indonesia 10-0 satu dekade lalu, masing-masing dengan skor 1-1 dan 2-2.
Pada leg kedua, Indonesia, meski tanpa arahan Shin Tae-yong, berhasil mengalahkan Bahrain dengan skor tipis 1-0. Itu menjadi buah yang membahagiakan bagi timnas Indonesia, sekaligus sebagai “bingkisan” pada Hari Idulfitri.
Garuda Muda Juga Bertaji atas Timur Tengah
Kemenangan atas negara-negara Timur Tengah tidak hanya diraih oleh timnas Indonesia usia senior. Timnas Garuda rentang umur, yang dikenal sebagai Garuda Muda, juga menorehkan pencapaian gemilang saat berhadapan dengan negara-negara di daerah terik ini.
Sebagai contoh, timnas Indonesia U23, yang bertanding dalam Piala Asia U23 2024, berhasil mengalahkan Yordania dengan skor 4-1. Ini membuat mereka lolos ke tahap berikutnya, meski pada playoff, timnas Indonesia harus mengubur mimpi untuk dapat langsung bertanding di Olimpiade.

Tidak hanya timnas U23, timnas Indonesia U20 juga berhasil memperoleh kemenangan melawan tim dari negara-negara Timur Tengah. Dalam Piala Asia U20 2023, timnas U2U berhasil menang atas Suriah. Meski begitu, karena kalah kala menghadapi Uzbekistan dan Irak, Ferrari dkk. harus tersingkir.
Terakhir, catatan membahagiakan juga ditorehkan timnas Indonesia U17. Dalam Kualifikasi Piala Asia U17 2023, Arkhan Kaka dkk. berhasil menumbangkan Uni Emirat Arab dan Palestina, masing-masing dengan skor 3-2 dan 2-0. Pada Piala Asia U17 2025, timnas U17 berhasil menang tipis atas Kuwait (1-0) pada laga kualifikasi, dan Yaman (1-4) pada putaran final.
Pemantik Performa Gemilang Timnas Indonesia
Pencapaian gemilang timnas Indonesia dalam menghadapi tim-tim dari Timur Tengah tidak lepas dari perubahan yang dilakukan PSSI, organisasi tertinggi sepakbola Indonesia, dalam berbagai lini.
Pertama, kedatangan Shin Tae-yong dan tim pelatih lain, dengan standar internasional dalam mengelola klub-klub lokal, menjadi faktor utama dalam pemantik kebangkitan timnas Indonesia. Selain itu, terdapat perkembangan liga domestik, yang menjadi semakin profesional dan ramah akan pemain muda, serta perubahan progresif dalam kepengurusan PSSI, menjadi semangat lebih jauh bagi timnas.
Selain dari timnas dan klub senior, pembinaan para pemain muda Indonesia, sejak beberapa tahun sebelum pandemi hingga sekarang, juga menunjukkan pergerakan ke arah positif. Program Garuda Select, sebagai hasil kerja sama PSSI dengan Mola TV sejak 2018, berhasil membawa pemain Indonesia untuk mencicipi pengalaman berlaga di Eropa.

Kemudian, kehadiran Elite Pro Academy, sebagai kompetisi sepakbola untuk pemain muda U16, U18, dan U20, yang juga dimulai pada 2018, turut andil dalam mencetak pesepakbola Indonesia yang kenyang pengalaman bertanding di lapangan hijau.
Perubahan ini semakin didukung dengan kehadiran sang mata air, yakni para pemain keturunan Indonesia, yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi melalui program naturalisasi. Mereka berbondong-bondong menggunakan jersey Merah-Putih. Dari Marc Klok hingga Jay Idzes, mereka, yang mengenyam pendidikan sepakbola di Eropa, berjasa atas kebangkitan timnas Indonesia.
Semua faktor di atas menjadi pemantik pencapaian timnas Indonesia. Kini, Indonesia tidak lagi menjadi bulan-bulanan bagi tim sepakbola dari negara-negara Timur Tengah. Ia telah naik lebih jauh, yakni sebagai penantang serius di level Asia.
* Naskah pernah dirangkum menjadi konten dalam akun Instagram pribadi penulis