Setelah menggempur Palestina detik demi detik, Israel melancarkan serangan terbaru terhadap Lebanon. Baik melalui udara maupun darat, Lebanon digempur oleh Israel.
Pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, tentu saja, menimbulkan kerusakan. Warga Lebanon mengungsi menghindari zona konflik. Fasilitas di Lebanon mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel. Korban jiwa, utamanya dari pihak Lebanon, berjatuhan.
Mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana jalannya konflik, dan bagaimana akhir dari konflik ini?
Penyebab Konflik
Konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon dipicu oleh berbagai faktor. Pertama, Israel menyerang Hizbullah untuk memfasilitasi pemulangan 65.000 warga Israel yang telah dievakuasi dari wilayah utara negara tersebut. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyatakan langkah ini dilakukan untuk mencegah serangan Hizbullah ke permukiman di perbatasan Lebanon.
Selain itu, Israel juga berambisi menghancurkan benteng pertahanan atau fasilitas militer Hizbullah. Serangan Israel difokuskan pada wilayah selatan Lebanon dan Lembah Bekaa, daerah yang dianggap sebagai basis utama kekuatan Hizbullah. Fasilitas-fasilitas tersebut seringkali berada di dalam rumah-rumah penduduk, semakin memperumit situasi.

Tentara Israel mendesak warga Lebanon untuk mengungsi guna mencari tempat perlindungan yang aman. Imbauan ini memicu kepanikan dan kekacauan di jalan-jalan utama, termasuk jalur pesisir menuju Beirut, yang macet karena kepadatan kendaraan. Banyak warga kesulitan melarikan diri dari ancaman serangan lebih lanjut.
Pada 17 September 2024, ratusan pager milik anggota Hizbullah meledak, diduga akibat serangan Israel. Keesokan harinya, serangan terhadap radio komunikasi Hizbullah menyebabkan terganggunya komunikasi internal kelompok tersebut. Lebih dari 40 orang dilaporkan tewas dan hampir 3.500 lainnya terluka akibat konflik yang terus memanas.
Terakhir, Israel menuding Hizbullah terlibat dalam operasi Penaklukan Galilea. Menurut Juru Bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Daniel Hagari, Hizbullah menyusup ke Israel pada 7 Oktober 2023, menyamar sebagai warga sipil, dan melakukan pembantaian terhadap penduduk yang tidak bersalah.
Konflik Israel-Hizbullah sepanjang September 2024
Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas dengan serangan beruntun sepanjang malam sejak 23 September 2024. Israel memulai serangan udara pada pukul 06.30 waktu setempat, menargetkan berbagai distrik di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa.
Paa hari yang sama, Hizbullah merespons serangan tersebut dengan meluncurkan 180 rudal ke kota Haifa. Serangan ini memicu kepanikan di kalangan warga Haifa yang berusaha mencari perlindungan.

Israel dilaporkan berencana melakukan invasi darat ke Lebanon selatan pada 26 September 2024, dengan tujuan menghancurkan milisi Hizbullah. Dua brigade tentara cadangan dan divisi pemboman telah dikerahkan untuk melaksanakan operasi ini.
Sementara itu, Hizbullah juga terus melancarkan serangan balasan. Pada tanggal yang sama, 80 rudal ditembakkan ke kota Safed, Israel, dan 50 roket lainnya diluncurkan ke kota Ahihud. Selain itu, laporan IDF menyebutkan bahwa Hizbullah telah menembakkan total 150 roket ke berbagai wilayah di Israel.
Pimpinan Hizbullah Berhasil Ditaklukkan
Pemimpin Hizbullah di Lebanon, Hasan Nasrallah, tewas pada 27 September 2024 sebagai akibat konflik yang memanas antara Israel dan Hizbullah.
Operasi menewaskan Hasan Nasrallah dilakukan oleh Unit 8200, unit intelijen Israel, dengan menggunakan teknologi canggih. Mereka berhasil melacak keberadaan Nasrallah di ruang bawah tanah di Dahieh, Beirut Selatan, melalui pengintaian berbasis satelit mata-mata, pesawat nirawak, serta kemampuan peretasan canggih yang dapat mengubah ponsel menjadi alat penyadap.

Nasrallah, yang dikenal cerdik dan jarang menggunakan telepon untuk menghindari pelacakan, akhirnya terdeteksi melalui informasi yang diperoleh dari seorang anggota Hizbullah yang bertemu dengannya. Menurut Les Parisien, Israel juga mendapatkan informasi dari seorang mata-mata Iran tentang rencana kehadiran Nasrallah di markasnya beberapa jam sebelum serangan.
Pada 27 September 2024, Israel melancarkan serangan udara dengan bom berkekuatan tinggi untuk menembus ruang bawah tanah tersebut. Serangan ini berhasil menewaskan Nasrallah beserta sejumlah pasukannya, menandai salah satu titik krusial dalam eskalasi konflik Israel-Hizbullah.
Babak Baru Konflik
Setelah Nasrallah wafat, semangat Hizbullah justru tidak padam dalam melawan Israel. Hizbullah menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerah dalam melanjutkan operasi militer untuk mendukung Gaza dan memertahankan Lebanon.
Hizbullah kemudian menargetkan markas Glilot, pusat intelijen Israel (Unit 8200), pada 1 Oktober 2024. Serangan ini bertujuan mengantisipasi upaya spionase Israel terhadap Hizbullah. Selain itu, markas Mossad di pinggiran Tel Aviv juga diserang.
Meskipun Hizbullah melancarkan serangan dengan roket Fadi-4, Israel mengklaim telah berhasil mengantisipasi sebagian besar serangan tersebut. Pada tanggal yang sama, Israel membalas dengan invasi darat ke Lebanon Selatan, menargetkan desa-desa di sekitar perbatasan.
Pada 7 Oktober 2024, Hizbullah kembali menyerang Haifa dengan 190 rudal Fadi-1 sebagai peringatan satu tahun invasi Israel ke Gaza, yang mengakibatkan 12 orang terluka. Israel kemudian membalas dengan serangan udara ke Lebanon Selatan, menghancurkan situs-situs Hizbullah dan menewaskan puluhan warga.
Pada 13 Oktober 2024, sebagai balasan atas serangan Israel pada 10 Oktober sebelumnya, Hizbullah berhasil membobol sistem pertahanan Iron Dome Israel menggunakan drone, yang mengganggu markas pasukan pertahanan Israel (IDF) di Binyamina. Serangan ini tidak terdeteksi radar Israel.

Pada 20 Oktober 2024, Israel membombardir cabang lembaga keuangan Al-Qardh Al-Hasan di daerah Hay Al-Sellom, Burj Al-Barajneh, dan Ghobeiry, pinggiran selatan Beirut. Serangan ini bertujuan melemahkan dukungan finansial kepada Hizbullah.
Bentrokan antara Hizbullah dan Israel terus berlanjut. Pada 17 November 2024, Mohammed Afif, juru bicara Hizbullah, tewas dalam serangan udara yang menghantam kantor cabang Partai Baath di Beirut. Sebagai balasan, Hizbullah menyerang Kiryat Shmona, Israel.
Hizbullah juga melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan angkatan laut Ashdod di Tel Aviv pada 24 November 2024. Meskipun sebagian serangan dapat dicegah, kerusakan terjadi di Haifa dan Tel Aviv.
Berakhir dengan Gencatan Senjata
Karena rentetan serangan antara kedua pihak yang semakin intens, pihak penengah turun tangan untuk mendesak gencatan senjata. Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata pada 19 November 2024. Proposal ini disetujui oleh pemerintah Lebanon dan milisi Hizbullah.
Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah dimulai pada 27 November 2024, pukul 04.30 waktu setempat. Perjanjian ini melibatkan Amerika Serikat dan Perancis sebagai pihak penengah dalam konflik di Lebanon.
Perjanjian tersebut dirancang sebagai bentuk penghentian perang secara permanen. Inti perjanjian ini adalah kedua belah pihak yang berkonflik harus menarik pasukannya dari perbatasan Lebanon-Israel dalam waktu 60 hari.

Selain itu, pasukan Hizbullah akan digantikan oleh 5.000 prajurit Lebanon untuk menjaga perbatasan di Lebanon selatan. Tentara Lebanon, bersama UNIFIL, pasukan penjaga perdamaian PBB, akan mengawal wilayah selatan Litani selama gencatan senjata berlangsung.
Dapat dikatakan, konflik antara Israel-Hizbullah di Lebanon berlangsung panas. Meski sempat terdesak oleh serangan Israel, serta gugurnya petinggi mereka, Hizbullah tetap aktif melancarkan serangan demi serangan ke Israel. Israel, di sisi lain, membalas serangan tersebut dengan serangan yang lebih besar, baik melalui darat maupun udara. Pada akhirnya, konflik tersebut berakhir dengan gencatan senjata, menyudahi, mungkin untuk sementara, konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Teruslah menulis ya….