Awal September 2025 dibuka dengan sebuah kabar duka. Pada 3 September, Oei Hiem Hwie berpulang. Pak Hwie, panggilan akrabnya, adalah seorang penggiat literasi, dan pernah menghabiskan sebagian hidupnya di penjara terkait petaka 1965.
Ia merupakan satu dari ribuan orang yang ditangkap karena dituduh berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca-Gerakan 30 September. Alasannya, karena ia menjadi wartawan harian Trompet Masjarakat, dan merupakan anggota Badan Permusjarawatan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Ia harus menjalani masa pesakitan, dari Penjara Lowokwaru hingga Pulau Buru.

“Itu bulan November ’65,” kenang Pak Hwie dalam wawancara sejarah lisan oleh Badan Arsip Provinsi Jawa Timur pada 2006 silam. “Saya diminta wajib lapor, karena saya pengurus Baperki. Tapi kami ini nggak salah apa-apa. Kami tetap melaksanakan hukum yang ada, tetap setia pada Republik. Bung Karno bilang, organisasi yang baik itu selalu disalahkan orang,” lanjutnya.
Pak Hwie menjadi salah satu kolega Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia yang terkenal itu. Kedua sahabat ini sering berkirim surat sebagai bagian dari kerja intelektual, dan juga ketertarikan keduanya terhadap sastra, sejarah, dan kebudayaan Indonesia.
Ia dipercaya membawa naskah asli Bumi Manusia, karena ia bebas satu tahun lebih cepat daripada Pram. Setelah bebas, Pak Hwie mendedikasikan jiwa dan raga untuk merawat ingatan bangsa, melalui kegiatan mengkliping koran, menghimpun arsip, serta mengoleksi buku-buku langka.
Malang, Baperki, dan Petaka 65
Pak Hwei lahir dengan nama Oei Hiem Lam. Karena sering sakit-sakitan dan kurang mengandung arti emas, atas sarang seorang suhu, namanya diubah menjadi Oei Hiem Hwei. Ia terlahir dari pasangan Oei Bie Kie, seorang Tionghoa totok, dan The Lekas Nio, seorang Tionghoa peranakan kelahiran Magetan.
Dalam memoarnya, Oei Hiem Hwie: Dari Pulau Buru sampai Perpustakaan Medayu Agung, dikisahkan bahwa Hwei kecil melihat banyak orang berbondong-bondong membawa harta benda mereka dan bergerak ke selatan Kota Malang. Mereka berusaha lari dari tentara Jepang yang memasuki kota itu.
Rumah keluarga Oei Hiem Hwie di Klojen Kidul, Kota Malang, menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan ekonomi keluarganya. Pada masa pendudukan Jepang, orang tua Hwie kecil sukses menjalankan bisnis jual beli arang. Namun, pada masa Revolusi, ia terpuruk.
Selain itu, rumah tersebut juga menjadi tempat persembunyian Yap Bo Chin, dan tempat perlindungai ketika Kota Malang dibumihanguskan.
Beranjak remaja, Hwei muda ikut dalam Baperki, sebuah organisasi yang berjuang menentang diskriminasi berdasarkan keturunan seseorang. Hwei muda terlibat dalam kegiatan advokasi Baperki. Melalui wadah bernama Panitia Aksi Perumahan Malang (PAPM), ia turut terlibat dalam penyelesaian konflik rumah peninggalan Belanda, yang sebelumnya dihuni oleh warga Tionghoa, yang telah direbut paksa oleh para pegawai negeri dan tentara.
Selain itu, Hwei muda juga aktif dalam Permusyawaratan Pemuda Indonesia (PPI), sebuah wadah untuk kaum muda yang berafiliasi, baik secara organisasi maupun politik, dengan Baperki. Berkat semangat dan dedikasinya, Hwei muda dipercaya menduduki kursi sekretaris PPI cabang Malang.
Dengan jaringan yang sudah terbentuk sejak awal, Pak Hwie mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai wartawan di harian Trompet Masjarakat setelah menyelesaikan pendidikan formal. Bagi Pak Hwie, wartawan adalah pekerjaan bergengsi kala itu, karena informasi penting yang terjadi di dunia disampaikan melalui sentuhan tangan emas mereka. Itu yang menyebabkan jurnalistik dijuluki “ratu dunia” (Koningin der Aarde).

Trompet Masjarakat sejalan dengan semangat politik Baperki, yakni pro-Manipol, pro-Nasakom, dan pro-Bung Karno. Itu menjadi alasan Hwie muda bergabung dalam koran ini.
Namun, karena hal itu, Pak Hwie akhirnya harus berakhir menjadi pesakitan. Setelah 1 Oktober 1965, setelah Gerakan 30 September pecah, masyarakat Malang ikut marah atas penculikan para jenderal Angkatan Darat di Jakarta. Saat keluar dari kantor Baperki di Malang, Hwie muda disambut oleh beberapa pemuda yang mengeluarkan sumpah serapah.
“Iki ta cino-cino sing mateni jendral!” dalam bahasa Indonesia berarti “Ini orang Cina yang membunuh para jendral!” ucap mereka kepada Hwie muda.
Malam-malam berikutnya, Hwie muda tidak bisa tidur nyenyak. Ia dibayangi rasa takut oleh situasi Indonesia yang tidak menentu. Gelombang pembredelan, termasuk kantor Trompet Masjarakat, ikut dibredel.
Pak Hwie harus pergi pulang ke Kodim untuk melakukan wajib lapor, sebagai tahanan rumah. Pada hari keempat wajib lapor, ia tak pernah kembali lagi ke rumah.
Kehidupan Sehari-Hari dalam Pengasingan
Kamp Gapsin Batu menjadi awal pemberhentian Pak Hwie setelah melapor ke Kodim. Kehidupannya sehari-hari di kamp bekas pabrik makanan kaleng ini berat.
Ia harus tidur di lantai ubin, hanya beralaskan tikar. Makanan yang disediakan sangat minim, dan untuk mandi, para tahanan digiring menuju sungai di depan kamp. Membaca sobekan koran bekas pembungkus makanan dan mendengarkan radio secara sembunyi-sembunyi menjadi hiburan bagi para tahanan di tengah situasi yang tak pasti.
Beberapa bulan kemudian, Pak Hwie dipindahkan ke Penjara Lowokwaru. Situasi di sana tidak jauh berbeda dengan kondisi kamp bekas pabrik itu. Di tengah tekanan psikologis akibat situasi sosial-politik dan isu rasial yang semakin membuncah, kehidupan sehari-hari Pak Wie di Lowokwaru diisi dengan diskusi, les bahasa, dan kesenian.
Di dalam penjara, Pak Hwie menghabiskan kehidupan untuk belajar dengan para tahanan lain, yang datang dari berbagai latar belakang. Rutinitas membosankan sebelumnya, yang hanya makan, mandi, tidur, dan meratapi nasib, kini berubah menjadi berguru dengan para ahli berpengalaman dalam berorganisasi. Kebiasaan ini dibawa oleh Pak Hwie dalam tempat pengasingan berikutnya, mulai dari Rutan Koblen Surabaya, LP Karang Tengah, LP Geliger, LP Limusbuntu, hingga Pulau Buru.

Ini membentuk Pak Hwie, menjadikannya pribadi yang tabah dengan nasib yang ia alami. Ini juga mengantarkannya ke Unit IV Savanajaya, bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer, sesama kawan dalam pengasingan.
Itu adalah pertemuan yang emosional bagi Pak Hwei. Sebagai sesama tahanan, Pak Hwie dan beberapa kolega di Savanajaya memainkan peran penting bagi Pram dalam penulisan karya-karyanya. Pak Hwie menjadi teman diskusi, juru ketik, penyedia kertas, dan pengaman naskah.
Atas dedikasinya, Pak Hwie menjadi salah satu orang yang dipercaya untuk membawa beberapa naskah Pram saat mendengar berita soal ia dibebaskan pada 1978. Sebuah besek sederhana digunakan Pak Hwei untuk menyimpan beberapa naskah Pram, surat-menyurat antara mereka berdua, dan beberapa arsip lain.
Gumpalan baju kotor, yang membungkus besek itu, menyelamatkan Pak Hwie saat pemeriksaan, hingga bisa lolos dan kembali pulang menaiki kapal Gunung Jati, yang biasa digunakan untuk mengangkut jamaat haji.
Haji Masagung dan Mimpi yang (Akhirnya) Terwujud
Meski keluar dari Pulau Buru, Pak Hwie tidak benar-benar bebas. Kode ET (Ex Tapol) di KTP-nya membelenggu ruang gerak Pak Hwie, baik secara sosial maupun ekonomi. Ini membuatnya terluntang-lantung saat mencari pekerjaan.
Berbekal pengalaman belasan tahun dalam pengasingan, yang berubah menjadi semangat pantang menyerah, Pak Hwie membuka usaha percetakan. Modal didapat dari pinjaman beberapa kawan baiknya selepas bebas. Mereka juga yang menjadi pelanggan usaha percetakan Pak Hwie.
Daya upaya Pak Hwie mengembangkan usaha percetakan tersebut, membuatnya bertemu Haji Masagung, seorang Tionghoa muslim dan penguasa di Surabaya. Ia adalah seorang yang peduli terhadap korban Petaka 65.
Atas rekomendasi Pram, Haji Masagung menawarkan Pak Hwie bekerja sebagai salesman di Gunung Agung Surabaya. Setelah bekerja selama dua tahun, ia diminta menjadi sekretaris pribadi Haji Masagung. Kesempatan tersebut mengantarkannya bertemu beberapa orang penting negeri, seperti Adam Malik, Hugeng Imam Santoso, Soelarso, dan Oei Tjoe Tat.

Bekerja dengan Haji Masagung membuka kesempatan tersendiri bagi Pak Hwie. Akhirnya, hobi yang sudah dipupuk sejak kecil, yakni membaca dan mengoleksi buku, dapat dilakukan. Pak Hwie dimanjakan dengan berbagai buku terbitan perusahaan Haji Masagung, terutama karya-karya Soekarno.
Selepas kepergian Haji Masagung, Pak Hwie tetap meneruskan hobinya. Para kolega, yang mengetahui dedikasi Pak Hwie, membantu dengan berbagai daya upaya, seperti memberikan dukungan finansial, sumbangan buku, dan mempertemukan Pak Hwie dengan mereka yang memiliki visi serupa.
Tumbangnya Orde Baru, memberikan kelegaan bagi Pak Hwie. Atas dukungan beberapa kolega, Pak Hwie membangun sebuah perpustakaan, bernama Perpustakaan Medayu Agung Surabaya. Meneruskan semangat Bung Karno, ia mendedikasikan hidupnya untuk merawat sejarah bangsa Indonesia melalui perpustakaan yang menyimpan berbagai koran, buku, majalah, dan kliping koleksi pribadinya.
Menolak Satu Miliar Demi Merawat Ingatan Bangsa
Sebelum menjadi perpustakaan yang dikenal seperti sekarang, Pak Hwei pernah didatangi sebuah lembaga asal Australia pada 1999. Mereka bermaksud untuk membeli semua koleksi buku, koran, dan arsip berharga milik Pak Hwei.
Angka Rp1 miliar mereka tawarkan untuk semua itu. Saat itu, uang sebanyak itu adalah jumlah yang fantastis.
Namun, menurut artikel harian Radar Surabaya, Pak Hwei tidak ingin menjadi pengkhianat bangsa dengan menyerahkan koleksi pribadinya. “Saya nggak mau disalahkan bila generasi muda nanti kesulitan mendapat sumber-sumber pustaka dan sejarah yang mereka butuhkan,” ungkap Pak Hwie terkait itu, dalam pemberitaan majalah Liberty.
Meski raga tidak lagi menampak di Perpustakaan Medayu Agung Surabaya, ingatan akan sosok Pak Hwei yang iklas menjaga sejarah bangsa tetap abadi. Ia terkenang dalam diri setiap orang yang pernah berkunjung dan mencari sumber sejarah di sana. Warisan Pak Hwei, berupa kisah perjalanan selama mengarungi kehidupan, maupun prinsip dalam menjaga riwayat bangsa, menjadi patri bagi generasi Indonesia saat ini.