Bagaimana Kekaisaran Romawi Suci Memilih Kaisar Mereka?

Paus Leo III dan Charlemagne Paus Leo III memahkotai Karolus Agung (Charlemagne) pada 25 Desember 800, courtesy of Britannica

Pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024 telah usai. Pilpres tersebut menghasilkan kemenangan bagi Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia.

Namun, kontestasi yang diikuti tiga pasang calon presiden dan calon wakil presiden tersebut diwarnai berbagai pertanyaan, yang sudah sepatutnya ditanyakan kepada para penyelenggara negara. Mulai dari pengubahan syarat ambang batas usia oleh Mahkamah Konstitusi (MK), hingga penerapan politik gentong babi (pork barrel politics) yang dimanifestasikan dalam bentuk bantuan sosial yang digelontorkan secara masif, mewarnai kontestasi pemilihan umum.

Gibran Rakabuming Raka (lahir 1987), anak mantan presiden Joko Widodo yang berpasangan dengan Prabowo Subianto dalam kontestasi pemilihan presiden Indonesia 2024-2029 lalu, courtesy of Batam Pos

Kehadiran politik gentong babi menjadikan terdapat dugaan pembelian suara kepada calon pemilih oleh para politikus menggunakan uang negara. Sistem tersebut, ternyata telah dilakukan sejak masa Kekaisaran Romawi Suci. Bagaimana kisahnya?

Tak Suci, Bukan Kekaisaran, Bukan Juga Romawi

Not in any way Holy, Roman, nor an Empire,” ujar Voltaire sang filsuf. Perkataan Voltaire tersebut dapat ditarik menjadi sebuah titik periodisasi sebuah entitas politik bernama Kekaisaran Romawi Suci, yang kini berada di sekitar lingkup Jerman modern.

Perkataan Voltaire tersebut bagaikan eksperimen partikel cahaya double-slit yang membingungkan. Jika Anda mengamatinya dengan kacamata awal pendirian Kekaisaran Romawi Suci, semua perkataan Voltaire tersebut menjadi tidak valid. Akan tetapi, jika perkataan Voltaire dipahami dengan kacamata Abad Pertengahan, semua poin yang ia ungkapkan menjadi valid.

Peta Kekaisaran Romawi Suci pada abad ke-13, courtesy of World History Encyclopedia

Setelah Romawi Barat runtuh, beberapa suku Jermanik berkelana di atas tanah Eropa. Di sisi yang lain, Sri Paus berada di bawah bayang-bayang Bizantium. Kaisar Romawi Timur memiliki kuasa yang kuat untuk menentukan siapa Paus selanjutnya, sampai pada kepemimpinan Constantine IV yang dikudeta oleh sang ibu, Irene.

Kepausan dan Barat tidak mengakui kepemimpinan kekaisaran yang dipimpin oleh seorang perempuan. Hal tersebut menghasilkan konsekuensi, bahwa posisi pemimpin tertinggi kekaisaran sedang lowong. Irene tidak dianggap sebagai seorang kaisar, dan berakibat pada pencarian sosok alternatif yang akan menggantikan dirinya sebagai kaisar.

Baca Juga  Sejarah Ketergantungan Beras Masyarakat Indonesia: Bermula dari Soekarno

Muncullah sosok Karel yang Agung (Charlemagne). Ketika itu, ia berperang melawan orang-orang Lombardia di Italia Utara. Akhirnya, Sri Paus menemukan sosok alternatif kaisar dalam diri Karel yang Agung. Barang pun jadi, Karel yang Agung dinobatkan sebagai Kaisar Romawi yang baru oleh Sri Paus.

Lukisan Karolus Agung (742/747-814) oleh Albrecht Dürer (1511), courtesy of Wikipedia Bahasa Indonesia

Ia disebut suci karena dinobatkan oleh Sri Paus. Ia disebut romawi karena dinobatkan sebagai kaisar Romawi. Terakhir, ia disebut sebagai kekaisaran karena memenuhi persyaratan sebuah entitas yang dapat disebut sebagai kekaisaran, seperti teritori besar atau terdiri dari beberapa teritori atau bangsa, dan dipimpin oleh seorang entitas otoritas tertinggi yang tunggal. Meski begitu, syarat sebuah kekaisaran dalam konteks ini sungguh minimal, karena terkadang, kekuasaan kaisar begitu terbatas.

Ketika Kandidat Kaisar Membeli Sebuah Pemilihan: Kisah Charles I

Pada masa Kekaisaran Romawi Suci, para calon kaisar akan membeli suara para prince-elector untuk mengamankan kemenangan mereka. Salah satu kasus yang menarik untuk dilihat, adalah bagaimana Charles I dari Spanyol bersaing dengan Francis I dari Prancis.

Sama seperti pemilihan umum di Indonesia, yang tentu saja melibatkan para pemodal, imperial election juga melibatkan para pemilik modal. Mereka akan memberikan uang kepada calon kaisar untuk menyogok para prince-elector.

Para prince-elector, sebagai sebuah posisi, memiliki tempat yang menarik untuk ditelisik. Selain berperan sebagai pemilih kaisar, mereka juga memiliki posisi strategis dengan berperan sebagai penyeimbang pengaruh Sri Paus, yang juga berperan penting dalam campur tangan Kekaisaran Romawi Suci.

Charles I dari Spanyol (bergelar Charles V saat memimpin Kerajaan Romawi Suci), sedang duduk di atas kursi, courtesy of Wikipedia

Kembali dengan pemberi modal, nama Jacob Fugger menjadi kunci penting dalam kemenangan Charles I pada 1519. Sebagai seorang pembesar, ia andil dalam sebuah sogok-menyogok dalam pemilihan kaisar Romawi yang baru. Sebagai seorang pemodal, ia memimpin sekelompok pemodal, yang dipercaya oleh para sejarawan mampu membalikkan keadaan bagi Charles I.

Baca Juga  Renungan Kierkegaard untuk Don Giovanni

Tidak hanya Fugger saja yang ikut andil. Maximilian I, kakek Charles I, ikut cawe-cawe secara tidak langsung dalam pemilihan kaisar. Ia telah melakukan hal tersebut satu tahun sebelum pemilihan, yakni pada 1518. Maximilian I berupaya untuk memenangkan pemilihan untuk sang cucu dengan cara menggaet Fugger dan kawan-kawannya untuk mengunci suara dengan menyogok para prince-elector.

Di sisi lawan, terdapat Francis I yang ikut serta dalam kontestasi ini. Pada mulanya, Francis I mampu membuat Charles I ketar-ketir dengan usahanya menggaet dukungan para prince-elector. Namun, Fugger menyelamatkan hari bagi Charles I, dan pada 28 Juni 1519, ia resmi menjadi kaisar.

Beda zaman, beda cara. Sejak Kekaisaran Romawi Suci di Eropa hingga Indonesia di Asia, kongkalikong dalam pemilihan seorang pemimpin telah terjadi. Budaya politik gentong babi, sogok-menyogok, hingga cawe-cawe, dilakukan oleh para calon kaisar Kekaisaran Romawi Suci. Sepertinya, Indonesia masih belum belajar dari masa lalu, utamanya dalam pemilihan seorang pemimpin yang kita sebut sebagai presiden dan wakil presiden.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *