Selat Madura tampak begitu tenang. Kapal-kapal berlayar tanpa hambatan. Terlihat besi-besi yang biasa digunakan untuk menambatkan kapal ketika ingin bersandar, menjaga kapal-kapal yang sedang berlabuh.
Selain tenang, Selat Madura juga tampak sibuk. Kapal-kapal kargo sedang berhenti di hadapan Pelabuhan Tanjung Perak. Kapal-kapal kecil juga seakan tak mau kalah. Ia rela menerjang sekumpulan air asin yang luasnya begitu tak terhingga.
Cuaca Kota Surabaya lumayan bersahabat kala itu. Sang Surya tampak malu-malu menunjukkan kedigdayaan dirinya. Para awan mendung kian merajalela. Oh, syukur sekali, begitu baik nasib para penumpang kapal dan krunya kali ini.

Dengan gagah, sebuah kapal berkelir kuning, putih, dan biru tertambat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Para penumpang, yang menunjukkan keberagaman wajah Republik Indonesia, berlalu lalang. Pemandangan silih berganti; ada yang baru saja datang, ada pula yang ingin hengkang dari Kota Pahlawan.
Transportasi umum hadir mendukung mobilisasi pengguna kapal di Tanjung Perak. Ojek, bus, hadir menyediakan ruang bagi mereka untuk berpindah dari dan keluar Surabaya. Dengan suara yang begitu menggelegar, mereka bersaing untuk merebutkan penumpang.
Kehadiran kapal, penumpang, ojek, serta bus, adalah pemandangan sehari-hari yang terlihat di Tanjung Perak, di ujung utara Kota Pahlawan. Kisah Bumi Tanjung Perak dan segala persoalannya, tertuang dalam tulisan ini.
Dari Kisah Bongkar Muat sampai Prostitusi
Kasak-kusuk pembangunan Tanjung Perak sudah berembus sejak 1910-an. Aktor utamanya adalah Prof. Kraus dan De Jong. Kraus merupakan mantan Menteri Pekerjaan Umum, dan De Jong adalah Direktur Pekerjaan Umum di Rotterdam.
Mereka dikirim ke Hindia Belanda untuk mendiskusikan tentang pembangunan Tanjung Perak. Seperti dikutip melalui The Sumatra Post, Kraus dan De Jong telah menyelesaikan proyek untuk perbaikan pelabuhan di Surabaya, dalam hal ini Tanjung Perak, yang selesai pada 1920.
Sebelum 1930, pengelolaan Pelabuhan Tanjung Perak dikelola oleh Divisi Pelabuhan (Afdeeling Havenwezen) yang berada dalam Departemenen der Burgerlijke Openbare Werken. Hal ini dapat dilihat melalui sumber koran sezaman, yakni De Indische Courant, yang menyebutkan bahwa terdapat seorang pejabat Afdeeling Havenwezen yang pergi ke Surabaya untuk menginspeksi sistem layanan di Pelabuhan Tanjung Perak.
Setelah 1930, pengelolaan Pelabuhan Tanjung Perak berpindah tangan, menjadi berada dalam kuasa Verkeer en Waterstaat hingga tibanya Jepang pada 1942.
Pelabuhan Tanjung Perak, pada 1922, diperkirakan memboyong lebih kurang 80.000 gulden. Selain itu, pelabuhan ini meraup bea cukai sebanyak 300.000 gulden pada 1919. Ini merupakan seperempat dari rata-rata pendapatan per bulan. Dapat disimpulkan, jika total rata-rata pendapatan per bulan dari bea cukai Tanjung Perak sekitar 1,2 juta gulden.

Pada era kolonial, Pelabuhan Tanjung Perak menawarkan fasilitas bongkar muat yang terbilang modern pada masanya. Seperti yang disebutkan dalam tulisan Aktivitas dan Kehidupan Sosial Ekonomi Buruh Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya 1940-1950 oleh Ahmad Ali Imron, Pelabuhan Tanjung Perak dilengkapi dengan fasilitas seperti crane listrik yang dapat beroperasi dengan kapasitas mulai dari 1,5 hingga 10 ton, yang ditempatkan di sepanjang dermaga. Ini membuat pelabuhan ini tak pernah sepi dari aktivitas para buruh di pelabuhan.
Dikutip melalui sumber yang sama, Pelabuhan Tanjung Perak juga pernah disinggahi oleh 33 persen dari jumlah total kapal yang bersandar di pelabuhan-pelabuhan yang berada di Laut Jawa. Secara nasional, angka ini sekitar 23 persen dari keseluruhan kapal yang singgah di Hindia Belanda.
Selain menjadi tempat untuk bongkar muat dan menjadi panas perekonomian, Tanjung Perak juga menyimpan cerita menarik tentang prostitusi. Dikutip melalui Eni Sugiarti, seiring dibukanya Pelabuhan Tanjung Perak pada awal abad ke-20, prostitusi semakin berkembang di area tersebut.
Bahkan, terdapat pantun yang menggambarkan betapa lumrahnya prostitusi di Tanjung Perak. Pantun Tanjung Perak mas kapale kobong, monggo pinarak kamare kosong (“Tanjung Perak kapalnya terbakar, silakan mampir kamarnya kosong”) merupakan bukti maraknya hal tersebut. Melalui kelab malam dan warung-warung kecil di sekitar pelabuhan, penjaja seks komersial menawarkan jasa mereka kepada para lelaki.
Tanjung Perak Masa Jepang dan Indonesia Merdeka
Ketika kekuasaan beralih dari Belanda ke Jepang, Pelabuhan Tanjung Perak juga turut terdampak politik perang Jepang. Hal tersebut terungkap dalam tulisan Kuasa dan Laku Mistik: Kehidupan Sehari-hari Buruh Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya (1950-2000) oleh Adnan Prayuwono.
Namun, ketika Belanda mengambil alih Surabaya hingga 1949, kondisi kegiatan ekspor-impor di Tanjung Perak perlahan menunjukkan perbaikan. Hanya saja, sebagai ekses dari Revolusi, banyak fasilitas pelabuhan mengalami kerusakan. Salah satunya adalah sebagian tembok tambatan dari Tambatan Jamrud rusak akibat kejatuhan bom.
Menurut Prayowono, pada 1955, pemerintah Indonesia menggelontorkan dana sebesar Rp7.000.000 untuk melakukan perbaikan di Tanjung Perak. Setelah berangsur-angsur pulih, kegiatan ekonomi di pelabuhan tersebut sempat mencatatkan jumlah 2.302 kapal yang berlabuh, dengan tonase 21.428.106 ton dan jumlah barang ekspor-impor sebesar 647.000 ton.
Terkait tarif cukai, Tanjung Perak pada masa Indonesia merdeka memberlakukan tarif yang lebih mahal. Ini membuat pelabuhan menjadi makin sibuk. Para petugas pun kewalahan akibat harus menerbitkan izin impor yang membludak.

Kisah Pelabuhan Tanjung Perak pascakemerdekaan tidak melulu soal ekspor-impor atau cukai. Ia juga menampilkan kisah pemogokan para buruh. Seperti yang terjadi pada 1952, aksi serupa, utamanya digerakkan oleh Sarekat Buruh Pelabuhan Pelajaran (SBPP), melancarkan strike atau mogok kerja selama satu jam. Aksi tersebut berlangsung selama tiga hari, dan ditujukan kepada modal asing. Diduga, tindakan tersebut dikoordinasikan oleh pengurus utama serikat pekerja yang berada di Jakarta.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 1954, para buruh di Tanjung Perak melakukan aksi pemogokan, yang membuat pusing pelayaran yang berlangsung di pelabuhan tersebut. Mereka melakukan aksi mogok kerja selama lima jam sehari, yang memangkas jam kerja mereka hanya menjadi satu setengah jam dalam sehari.
Seakan tak puas dengan pemogokan yang sudah pernah dilakukan, para buruh kembali melancarkan aksi pemogokan pada 1957. Seperti yang dikutip melalui pemberitaan Algemeen Indische Dagbad, de Preangerbode, sembilan anggota SBPP cabang Surabaya telah ditangkap sebagai akibat aksi pemogokan di Tanjung Perak. Mereka adalah Soedarmo, Soeparlin, Soepangat, Djoko, Lekawadesi, Soedjoed, M. Tohir, Soen An, dan Bambang Soemarto.
Pusat Tersibuk Kedua Bongkar-Muat dan Perpindahan Manusia
Bongkar muat tak henti-hentinya menjadi kegiatan utama di Tanjung Perak, selain perpindahan penumpang menggunakan sarana transportasi kapal. Kini, Pelabuhan Tanjung Perak menjadi pelabuhan tersibuk nomor dua setelah Tanjung Priok, Jakarta. Ia memegang peran penting dalam perekonomian Republik Indonesia.
Pada 2024, Dirut PT Terminal Petikemas Surabaya, Wahyu Widodo, berujar bahwa kegiatan arus peti kemas meningkat sebanyak 9,77 persen dari Januari hingga Oktober 2024, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain perdagangan, Pelabuhan Tanjung Perak juga menjadi pintu gerbang masuk keluar para pemudik. Tempo mencatat bahwa sekitar 65 ribu pemudik yang bepergian melalui Tanjung Perak pada 2024 lalu, tepatnya pada H-15 Lebaran.

Tidak hanya para pemudik, Pelabuhan Tanjung Perak juga dipadati pada musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024). Pada 20 Desember 2024, mengutip pemberitaan Suara Surabaya, tercatat terjadi kenaikan penumpang sebanyak 20 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Baru-baru ini, pada pengunjung tahun 2024, tepatnya pada momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), pada Jumat 20 Desember mengalami kenaikan penumpang sebanyak 20% dibandingkan hari sebelumnya.
Dapat dikatakan, kisah Pelabuhan Tanjung Perak, yang dibangun pada 1910-an dan selesai pada 1920, hingga era kontemporer, adalah kisah sebuah kemajuan. Pelabuhan tersebut tidak hanya menjadi salah satu titik ekspor-impor dan cukai, tetapi di era Indonesia merdeka, juga menjadi pusat masuk keluar manusia dari dan menuju Surabaya.
Selain kisah perkembangan secara ekonomi, pelabuhan ini juga menampilkan kisah sosial yang menarik untuk diselami, seperti prostitusi pada masa kolonial dan pemogokan buruh pada masa awal kemerdekaan. Kedua kisah tersebut, setidak-tidaknya menegaskan Tanjung Perak tidak melulu soal kumpulan angka ekonomi semata, tetapi juga memuat kisah tentang manusia dan kehidupannya.