Menciptakan Dunia Tanpa Kekerasan Seksual bagi Anak-Anak Autistik

Kekerasan Anak Autistik Ilustrasi tindak kekerasan terhadap anak autistik, courtesy of Smart Governance | Tangerang Smart City

Kita tahu, bahwa dunia ini memang menjadi tempat yang kejam untuk mereka yang dilahirkan berbeda dan dalam kondisi yang lebih lemah daripada yang lain. Apalagi kalau mereka masih anak-anak, lebih rentan lagi mendapat perlakuan diskriminatif dari teman sebaya atau bahkan yang lebih tua daripada mereka.

Salah satunya adalah mereka yang mengalami autistik, yang bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban kekerasan, utamanya kekerasan seksual, oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab.

Berita dari Kompas.com pada 18 Januari 2022 terkait pelecehan seksual yang dialami seorang anak autistik di Bekasi

Sebut saja seorang anak autistik di Kota Bekasi, yang pada 2022 lalu menjadi korban kekerasan seksual oleh tetangga laki-laki yang sudah tua, dengan alasan kesepian tidak lagi bisa menyalurkan hasrat seksualnya. Tidak sampai di situs, sang lelaki tua itu bahkan sampai mengancam korban agar tidak membeberkan kejadian mengerikan itu pada siapa pun.

Tidak hanya dirinya, seorang remaja perempuan autistik di kawasan Bantul juga dikabarkan telah menjadi korban kekerasan seksual, yang pelakunya adalah seorang tukang rongsok. Tarik lebih jauh lagi, pada 2016 silam, remaja perempuan autistik di Sukabumi juga dikabarkan menjadi korban kekerasan seksual di rumah sakit penyandang penyakit kejiwaan, yang seharusnya ramah untuk orang-orang rentan seperti anak-anak autistik.

Kejadian ini terjadi di berbagai waktu dan tempat yang berbeda, lho! Seolah, di mana pun anak autistik berada, tidak ada tempat yang benar-benar aman untuk mereka. Apakah memang sudah secara lahiriah, dunia ini menjadi tempat yang kejam untuk anak-anak autistik?

Masalah Besar yang Perlu Dikhawatirkan

Tidak mudah untuk menyembuhkan dampak kekerasan seksual pada korban. Terlebih, untuk anak-anak, yang dalam alam bawah sadarnya mudah merekam segala kejadian dan membawa ingatan itu hingga mereka dewasa nanti.

Baca Juga  Kebangkitan Orde Baru? Wong Kita Masih dalam Zaman Orba, Kok!

Untuk kasus anak-anak autistik, dengan struktur dan susunan otak yang mudah merekam segala kejadian, memori akan kekerasan seksual akan terus berputar di otak mereka, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Dalam esai saya yang lain, saya telah mengungkapkan bahwa anak autistik yang menjadi korban kekerasan seksual lebih berisiko tinggi mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD), yang akan lebih sulit dihapuskan hingga mereka meninggal nanti. Jika tidak segera ditangani, anak autistik, yang pada dasarnya kesulitan untuk mengenai tanda dan kode sosial, tidak akan sadar bahwa dirinya mengalami PTSD. Sangat berkemungkinan besar mereka akan menjadi korban kekerasan seksual lagi.

Ilustrasi seorang anak yang menderita pengalaman traumatis, courtesy of Calmerry

Dampaknya, kualitas hidup anak-anak autistik akan menurun secara signifikan, akibat terus terngiang-ngiang oleh pengalaman traumatis seperti ini. Bahkan, akan sangt mungkin bagi mereka untuk merespons peristiwa mengenaskan tersebut dalam bentuk tantrum, yang barangkali mereka sendiri tidak mengerti mengapa mereka berperilaku seperti itu. Tentu, ini akan menurukan kemampuan kognitif maupun belajar anak, membuat mereka semakin terbelakang.

Namun, di sisi lain, sebagai individu autistik dewasa, saya sendiri juga sangat memahami dan pernah mengalami, bahwa untuk mengungkapkan hal traumatis seperti ini bukanlah hal yang mudah bagi anak-anak autistik yang menjadi korban kekerasan seksual. Pertama, sulit untuk mengomunikasikannya dengan baik. Kedua, sulit untuk memahami mengapa perasaan ini terus bergejolak pascakekerasan seksual.

Solusi Praktis yang Bisa Dilakukan

Terdapat beberapa solusi yang saya bisa bayangkan untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah kekerasan seksual terhadap anak-anak autistik.

Pertama, untuk kita sendiri yang memang peduli terhadap hak dan keberlangsungan anak-anak autistik, khususnya yang menjadi orang terdekat mereka, bisa memulai dengan lebih peka mengenali perubahan tingkah laku anak autistik. Apakah setelah mengalami kekerasan seksual, mereka menjadi semakin agresif atau semakin menutup diri secara ekstrem. Perhatian kita terhadap hal ini akan memudahkan kita dalam menggali pendekatan mana yang cocok untuk mereka.

Baca Juga  Politik Raja Jawa dalam Kepemimpinan Presiden Joko Widodo

Jika ada perilaku yang kurang mengenakkan karena perubahan pola perilaku ini, alangkah baiknya untuk tidak meresponsnya secara ekstrem pula. Takutnya, perilaku mereka malah semakin menjadi-jadi, dan kita akan semakin sulit untuk melakukan penanganan terhadap mereka.

Ilustrasi pendekatan yang dilakukan seorang psikolog dengan seorang anak, courtesy of MindHarmony Psychology

Cobalah dengarkan keluhan mereka, yang diungkapkan secara verbal maupun nonverbal, secara perlahan-lahan. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang agar mereka merasa diterima, dan perlahan membuka diri, atau minimal mengungkapkan kejadian yang tidak mengenakkan yang telah mereka alami.

Kalau perlu, undanglah psikolog atau dokter spesialis saraf untuk memudahkan mereka dalam mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang lebih ramah terhadap saraf mereka. Temani mereka untuk bercerita kepada pihak kepolisian, agar masalah kekerasan seksual yang mereka alami bisa tertanggulangi dengai baik.

Kedua, jangan berikan rasa kasihan kepada pelaku kekerasan seksual. Terus kawal dan advokasikan isu kekerasan seksual kepada anak-anak autistik ini, baik dalam ruang lingkup nonformal (komunitas peduli autisme) atau formal (pemangku kebijakan yang mengurusi masalah ini), hingga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal.

Mengkampanyekan isu ini secara sistematis dan holistik di media sosial, seperti TikTok dan Instagram, juga menjadi ide yang bagus. Gandeng pula para influencer dan tokoh untuk mengadvokasikan isu ini secara lantang di media sosial, agar masalah penanganan kekerasan seksual yang dialami anak autistik bisa mendapatkan perhatian baik secara sosial maupun hukum.

Saya yakin, jika gerakan ini dilakukan secara bersama dan penuh kepedulian, anak-anak autistik di Indonesia bisa mendapatkan ketenangan yang abadi, bahkan luput dari kekerasan seksual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *