Ketika memasuki dunia akademik, banyak dari kita yang mulai menemukan keindahan dalam kekayaan bahasa akademis. Namun, dalam semangat pencarian pengetahuan tersebut, muncul stigma terhadap penggunaan bahasa yang ndakik-ndakik.
Ndakik-ndakik merupakan sebuah istilah bahasa Jawa yang dijadikan stigma sok pintar terhadap penggunaan bahasa, kata-kata, atau istilah yang terkesan tinggi, rumit, dan sulit dipahami. Stigma ini terkadang muncul dari kalangan mahasiswa, yang ditujukan kepada para dosen di kampusnya.
Keberadaan stigma tersebut menjadikan kalangan mahasiswa atau akademikus untuk menurunkan standar berbahasa mereka, agar tidak dicap sebagai orang yang baru puber intelektual.
Suatu hari, saya berdiskusi dengan seorang teman yang juga mahasiswa sejarah. Ia bercerita bagaimana ia mendapat kritik pedas di sebuah kelas karena menggunakan bahasa yang dianggap berlebihan atau ndakik-ndakik.

Komentar-komentar tersebut menyebutnya sebagai sok pintar dan terlalu akademis. Awalnya, ia merasa kecewa dan malu. Namun, setelah beberapa saat melakukan refleksi, ia mengatakan bahwa ia tidak akan mengubah gaya bicaranya hanya karena cibiran orang lain.
Baginya, gaya bahasa yang ia gunakan adalah cerminan dari proses belajar dan riset yang telah ia tempuh. Ia juga menjadi bukti bahwa ia telah berusaha memahami konsep-konsep ilmu pengetahuan yang rumit itu.
Sebenarnya, sudah sejak lama saya ingin membantah stigma ndakik-ndakik ini, agar mahasiswa dan akademikus tidak perlu merasa malu atau takut untuk menggunakan bahasa yang memang layak mereka gunakan. Tulisan ini merupakan cara saya membantahnya.
Mengapa Tak Perlu Takut dan Malu?
Ketika kita berbicara dengan menggunakan istilah-istilah akademis, kita sebenarnya sedang mencoba mengungkapkan ide-ide yang telah kita gali melalui proses belajar yang panjang. Penggunaan bahasa yang ndakik-ndakik tidak berarti kita ingin menunjukkan kelebihan atau kesombongan, melainkan sebuah cara untuk mengekspresikan gagasan.
Sebagai akademikus, tentu ia telah dibekali dengan pengetahuan yang bersifat praktis dan teoretis. Misal, ketika membaca teori Gramsci, istilah seperti hegemoni budaya bukanlah sekadar omong kosong belaka. Oleh karena itu, tidak perlu merasa malu menggunakan istilah-istilah tersebut di lingkungan yang tepat.
Stigma bahwa menggunakan bahasa akademis membuat kita tampak sok pintar sebenarnya justru meremehkan proses panjang dalam menimba ilmu. Jika seseorang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menguasai disiplin ilmu, mengapa harus merasa malu?

Rasa malu dan takut itu muncul dari ketakutan untuk dianggap tidak relevan atau tidak down-to-earth. Menurut hemat saya, bahasa akademis merupakan bagian dari bentuk kejujuran intelektual.
Apabila kita merasa bahwa suatu topik membutuhkan penjelasan yang mendalam, tidak ada salahnya untuk menggunakan istilah-istilah tinggi. Yang terpenting, adalah kemampuan kita untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, dengan memberikan penjelasan tambahan atau contoh yang konkret.
Salah satu kutipan terkenal dari Albert Einstein biasanya dijadikan tameng oleh mereka yang tak suka mendengar penggunaan bahasa akademis. Einstein pernah berkata, bahwa “jika Anda tidak dapat menjelaskan sesuatu secara sederhana, berarti Anda belum cukup memahaminya.”
Kutipan ini sering disalahartikan sebagai seruan untuk menyederhanakan semua bentuk penjelasan. Padahal, kutipan tersebut lebih merupakan panggilan untuk memastikan bahwa kita benar-benar memahami konsep yang kita sampaikan.
Artinya, jika kita mampu menjelaskan sesuatu dengan cara yang sederhana, itu menunjukkan bahwa kita memang menguasainya. Tetapi, hal tersebut tidak berarti bahwa dalam diskusi ilmiah, kita harus menghindar penggunaan bahasa yang dianggap ndakik-ndakik tersebut.
Pahami Lawan Bicara
Namun demikian, penting pula untuk memahami bahwa tidak semua orang memiliki latar belakang. Ketika berdiskusi dalam forum akademis, atau bersama rekan-rekan sejawat, penggunaan bahasa tinggi sangatlah wajar dan bahkan diperlukan. Akan tetapi, ketika kita berhadapan dengan masyarakat umum atau audiens yang lebih luas, kita perlu peka dan menyesuaikan cara penyampaian.
Bayangkan skenario ini. Bayangkan, ketika seorang dosen mengadakan kuliah umum untuk masyarakat, ia menggunakan istilah asing tanpa penjelasan, apakah pesannya akan tersampaikan? Tentu, pesannya tidak akan tersampaikan dengan baik.

Skenario di atas menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dalam berkomunikasi. Kita harus mampu mereduksi istilah-istilah ilmiah tanpa mengurangi substansinya sehingga pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh semua pihak.
Dengan kata lain, kita tidak diminta untuk meninggalkan bahasa akademis, tetapi kita harus pintar untuk memilih kapan dan di mana untuk menggunakan istilah-istilah tersebut.
Penutup
Pada akhirnya, stigma negatif terhadap penggunaan bahasa akademis atau ndakik-ndakik seharusnya tidak membuat kita ragu untuk mengungkapkan pemikiran. Bagi setiap mahasiswa dan akademikus, selalu ingat untuk bangga dengan perjalanan intelektual yang telah ditempuh. Jangan ragu untuk ndakik-ndakik, jika itu adalah cara terbaik untuk mengungkapkan ide-ide cemerlang.
Namun, perlu selalu ingat untuk mendengarkan, memahami, dan menyesuaikan cara komunikasi dengan siapa pun yang diajak berdiskusi. Jangan sampai, bahasa akademis yang kita gunakan malah membuat diskusi atau komunikasi menjadi awkward dan berakhir tidak menyenangkan bagi kedua belah pihak.
Menyambung dengan isu ini, aku juga akrab dengan orang-orang di luar lingkar akademisi. Untuk menjelaskan materi kuliah, aku juga harus paham cara bercerita dengan kawan-kawan yang tidak menempuh perguruan tinggi. Poin plus bagiku, mendorong pemahaman lebih daripada cukup dengan narasi yang nggak down to earth.