Agama sebagai Candu, Pelarian dari Kemiskinan dan Penderitaan

Karl Marx Ilustrasi kutipan "agama adalah candu masyarakat" yang diungkapkan Karl Marx

“Agama adalah candu,” demikian pikiran yang terlintas di kepala masyarakat Indonesia ketika diminta berbicara tentang Karl Marx dan agama. Seperti yang diungkapkan Muhammad Imadudin Shiddiq, kalimat tersebut kini menggelinding bagai bola salju, beringas menerjang berbagai dasar dan otoritas keagamaan. Hal itu, yang kemudian mengekalkan pandangan bahwa Marx, beserta gagasannya tentang komunisme, sama dengan ateis.

Benar, Karl Marx berbicara bahwa agama adalah candu. Seperti yang diungkapkan dalam buku yang berjudul Critique of Hegel’s Philosophy of Right, ditulis antara 1843 hingga 1844. Secara utuh ia mengungkapkan bahwa:

Religious suffering, at the same time, is an expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sign of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people. The abolition of religion as the false happiness of the people is a demand for their true happiness. Calling on them to abandon the illusion about their condition means calling on them to abandon the condition that requires the illusion.

Terjemahan kutipan di atas:

Kepedihan religius ,yang dialami manusia dalam agama pada saat yang sama, adalah ekspresi kepedihan yang lebih dalam, yaitu kepedihan dalam ekonomi dan merupakan bentuk protes melawan kepedihan yang lebih dalam tersebut. Agama adalah lambang ketertindasan, agama adalah hati dari sebuah dunia yang tidak memiliki nurani, agama adalah roh dari keadaan yang tidak punya jiwa sama sekali. Agama adalah candu masyarakat. Keruntuhan agama sebagai kebahagiaan palsu bagi manusia adalah tuntutan bagi kebahagiaan sejati. Panggilan kepada mereka untuk meninggalkan ilusi tentang kondisi yang dialami berarti panggilan kepada mereka untuk meninggalkan kondisi yang membutuhkan ilusi tersebut.

Lebih lanjut, Marx berpendapat bahwa, untuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya, manusia harus menghapus agama, karena agama hanya memberikan kebahagiaan khayalan. Tuntutan untuk menghilangkan khayalan yang diberikan agama adalah tuntutan untuk menghilangkan kondisi-kondisi yang membutuhkan khayalan-khayalan itu sendiri.

Baca Juga  Harari dan Sejarah sebagai Alat Pembebasan Manusia

Kutipan di atas, memperlihatkan bahwa Marx kritis terhadap agama sebagai sebuah fenomena sosial. Baginya, agama bukan sumber kebahagiaan yang sejati, melainkan hanya menawarkan kebahagiaan yang bersifat ilusif. Ia hanya menyajikan penghiburan yang menyenangkan bagi para penganutnya, tetapi tidak menyentuh persoalan hidup manusia secara material. Seperti yang diungkapkan Daniel L. Pals dalam Seven Theories of Religion, bahwa:

“[u]ntuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya, manusia harus menghapus agama, karena dia hanya memberikan kebahagiaan khayalan. Tuntutan untuk menghilangkan khayalan yang diberikan agama adalah tuntutan untuk menghilangkan kondisi-kondisi yang membutuhkan khayalan itu sendiri.“

Karena itu, seruan Marx untuk menghapus agama tidak dapat dipahami secara dangkal sebagai ajakan untuk meninggalkan iman. Ia perlu dipahami sebagai kritik terhadap kondisi sosial, yang membuat manusia membutuhkan pelarian dalam bentuk ilusi religius. Bagi Marx, agama bertumbuh subur di tengah penderitaan, ketidakadilan, dan keterasingan manusia dalam kehidupan sosial-ekonomi.

Menurut Pals, pemikiran Marx tentang agama banyak dipengaruhi oleh Ludwig Feuerbach, yang menempatkan Tuhan sebagai hasil proyeksi manusia. Pada dasarnya, Marx sependapat dengannya tentang itu, bahwa Tuhan adalah bentuk alienasi kesadaran manusia. Namun, Marx menekankan bahwa proyeksi serta alienasi tersebut berakar pada kondisi material, khususnya alienasi ekonomi dalam sistem kapitalisme.

Dalam konteks inilah, agama diibaratkan sebagai sebuah candu. Bagi kaum proletar, ia menjadi pelarian dari kemiskinan dan penderitaan yang tak tertahankan. Dalam kondisi sosial yang buruk, mereka membayangkan dunia lain yang penuh dengan kebahagiaan serta sosok ilahi yang mahakuasa sebagai penolong. Dalam bahasa lain, agama menawarkan hiburan yang menenangkan dan meredakan rasa sakit, memberikan kekuatan untuk bertahan di tengah situasi yang menyengsarakan.

Pandangan Marx selaras dengan Doyle Paul Johnson, yang berpendapat bahwa agama memanipulasi manusia atas realitas-realitas hidup dan kehidupan yang dihadapi dengan memberikan pengharapan kemudian di masa depan yang bersifat hakiki dan kekal. Melalui harapan-harapan itu, orientasi hidup manusia bergeser dari kondisi realitas yang bersifat material menjadi kondisi masa depan yang nonmateri.

Baca Juga  Sejarah Tampil Layaknya Sebuah Bawang

Oleh kaum kapitalis dan kelas berkuasa, agama dipakai sebagai alat penindasan. Ketika kaum proletar tidak berdaya, agama merendahkan martabat manusia lebih kuat lagi dengan membuatnya hina di matanya sendiri. Ia menggambarkan kepada manusia betapa bejatnya hasrat-hasrat manusiawi yang paling wajar dan mulia, memperdalam rasa bersalah, serta mengajarkan sikap pasrah dan kerendahan hati.

Penindasan ini semakin lengkap ketika kaum agamawan memihak yang kaya dan berkuasa, menggunakan agama untuk membela status quo dan mengekalkan penderitaan kaum tertindas. Satu kondisi yang tampak nyata di Indonesia saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *