Blok M merupakan suatu kawasan tempat mangkal-nya anak-anak muda yang berada di Jakarta Selatan. Menurut HM. Zaenuddin dalam buku Asal-Usul Tempat-Tempat Di Djakarta Tempo Doeloe, kawasan ini diberi nama Blok M berdasarkan blok-blok yang merupakan kompleks perumahan sejak pertengahan 1950-an.
Bagi masyarakat Jakarta, kawasan Blok M tidak hanya dikenal karena terdapat pusat perbelanjaan, tetapi juga adanya terminal bus di sana. Tentunya, keberadaan terminal tersebut, yang dikenal sebagai Terminal Blok M, memiliki cerita historis tersendiri yang berkaitan dengan munculnya pusat aktivitas sosial ekonomi masyarakatnya.
Awal Mula Berdirinya Terminal
Terminal Blok M merupakan salah satu terminal bus tertua yang berada di Kota Jakarta. Ia telah menjadi urat nadi bagi pelayanan transportasi umum di ibu kota. Keberadaannya telah eksis sejak Juni 1968, saat diresmikan oleh gubernur Ali Sadikin.
Mengutip Michelle Gavriel dan Rudy Surya dalam Mengembalikan Popularitas Blok M sebagai Area Berkumpul Pemuda Jakarta melalui Menggunakan Metode Penyuntikan Urban Acupunture, pembangunan terminal di kawasan Blok M diperlukan seiring dengan perkembangan Kebayoran Baru, yang menjadi daerah satelit sejak 1955. Menggunakan konsep Garden City, yang menekankan proporsi bangunan kota seimbang antara hunian, industri, dan ruang terbuka hijau, sistem blok berdasarkan abjad dari A sampai S dibangun di Blok M.

Berdasarkan wawancara dengan Pak Hamengku, selaku pengendali dan pengawas Terminal Blok M, terminal itu pada awalnya diresmikan oleh Ali Sadikin yang kala itu berseragamkan petugas Dishub berwarna putih abu-abu. Dahulu, yang mengelola Terminal Blok M adalah Dinas Lalu Lintas & Angkutan Jalan (DLLAJR).
Pada 1980-an, terminal ini mengalami revitalisasi pada struktur bangunannya. Revitalisasi dilakukan karena adanya pusat perbelanjaan di samping terminal, yakni Blok M Square, Blok M Mall, dan Plaza Blok M, yang menjadi tempat hangout anak muda. Ini membuat banyak warga Jakarta yang mengakses transportasi umum.
Revitalisasi Terminal Blok M diresmikan pada 1993 oleh gubernur Wiyogo Atmodarminto, yang jejaknya, berupa sebuah prasasti peresmian, masih terdapat di area Blok M Mall.
Menurut Pak Hamengku, Terminal Blok M termasuk jenis terminal tipe B, yang hanya melayani bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP).
Perkembangan dan Perubahan Fisik Terminal Blok M
Ungkap Pak Hamengku, terdapat perubahan fisik di Terminal Blok M. Dulu, terminal masih terbilang tradisional, dengan bangunan yang semrawut karena belum ada tata jalur khusus untuk rute bus tertentu. Seiring berjalannya waktu, bentuk bangunan menjadi lebih modern. Ini utamanya terjadi sejak hadirnya bus Transjakarta.
Tingkat keramaian penumpang di Terminal Blok M terjadi sekitar 1990-an, ketika masih banyak bus reguler yang beroperasi. Namun, sejak dekade 2000-an, ia mengalami penurunan sehingga perlahan terminal menjadi sepi.

Berdasarkan publikasi Arsip Nasional, keramaian para penumpang Terminal Blok M terlihat ketika mereka sering menunggu bus di luar jalur yang disediakan. Ini menunjukkan ketidakdisiplinan area terminal.
Layanan bus reguler perlahan telah beralih keluar area terminal, berdampak pada jumlah pengunjung yang semakin berkurang. Kini, hanya karyawan kantor dan pekerja rutin yang biasa mengakses Terminal Blok M.
Menurut Pak Faisal, selaku kepala regu Terminal Blok M, keramaian masyarakat yang naik turun tersebut terjadi pada pagi dan sore hari. Ia mengatakan bahwa berkurangnya jumlah penumpang terjadi karena adanya layanan transportasi berbasis daring, utamanya ojek online, yang hadir sejak dekade 2010-an.

Mengutip Annisa Nur Hawadah dan Untung Joko Cahyono dalam Strategi Penerapan Konsep Placemaking untuk Menghidupkan Kembali Kawasan Terminal Blok M, pihak terminal berupaya untuk mengikuti perkembangan tren masyarakat dalam menggunakan transportasi umum. Ini dapat dilihat dari potensi kawasan terminal yang telah dimanfaatkan, yaitu adanya Mass Rapid Transit (MRT) dan Transjakarta, yang mudah dijangkau masyarakat. Selain itu, jalur pedestrian yang lebar juga mempermudah akses pejalan kaki menuju terminal.
Transportasi Umum dan Pelayanan di Terminal Blok M
Berdasarkan keterangan Pak Hamengku, pada 1980 hingga 1990-an, terdapat layanan bus tingkat di Terminal Blok M, yang melayani masyarakat menuju berbagai rute, seperti Rawamangut, Grogol, Kalideres, dan lainnya. Namun, seiring perkembangan zaman, bus tingkat tersebut tereliminasi, mengikuti situasi jalanan Jakarta yang kurang efektif untuk dilintasi bus tingkat.
Juga, pihak pengelola terminal turut memberikan kontribusi dalam memfasilitasi layanan transportasi umum, seperti pembuatan jalur bus, ruang tunggu peron penumbang, dan lobi menuju bawah pusat perbelanjaan. Namun, untuk area lobi, yang umum menjadi tempat tongkrongan, ia dikelola oleh PT Terminal.
Mengutip Felisia Sugita dkk. dalam Studi Pola Pergerakan Penumpang d Titik Transir (Studi Kasus : Stasiun MRT Blok M dan Terminal Bus Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, walau telah ada ruang peron dan lobi mal, ia masih kurang ramah bagi penyandang disabilitas. Selain itu, fasilitas pendukung lain, seperti tempat duduk dan tempat sampah, juga belum tersedia secara efektif.

Terkait transportasi, adapun jenis transportasi umum yang beroperasi di Terminal Blok M, ada yang masih tetap bertahan hingga kini. Meski begitu, ada pula yang mengalami perubahan. Perubahan dapat kita lihat dari bentuk kendaraan, area dalam bus, pramudi (supir), kursi prioritas, dan area CCTV. Namun, dalam hal rute, ia tidak mengalami perubahan signifikan.
Menurut Annisa Nur Hawadah dan Untung Joko Cahyono, tercatat bahwa pada 2018, terminal ini melayani sebanyak 32 rute bus kota dengan 6 jalur. Dari keseluruhan rute, transportasi umum yang paling ikonik dari terminal ini adalah Transjakarta BRT koridor 1 rute Blok M–Kota.
Sisanya, terdapat layanan Transjakarta non-BRT, bus Royal Trans, angkot mikro trans, bus Transjabodetabek, hingga bus Damri ke Bandara Soekarno-Hatta. Sebagian besar rute Transjakarta non-BRT yang beroperasi di Terminal Blok M dulunya merupakan rute bekas metromini dan kopaja.
Dapat dikatakan, sebagai sebuah terminal, yang kini mungkin dirundung sepi, Terminal Blok M masih tetap eksis. Revitalisasi membuatnya tampil lebih segar, dan keberadaan Transjakarta dan beberapa bus lainnya membuatnya tetap dapat beroperasi dan melayani masyarakat Jakarta hingga kini.