Membangun Kembali Personal Branding yang Runtuh
Personal branding, dapat dibangun, juga dapat berakhir runtuh. Namun, satu pertanyaan yang mungkin jarang kita pikirkan: dapatkah ia dibangun lagi setelah semua hancur lebur?
Rubrik yang memuat tulisan sejarah naratif, yang mengisahkan tokoh, peristiwa, maupun fenomena kesejarahan tertentu yang disajikan dengan resep rahasia khas Historical Meaning
Personal branding, dapat dibangun, juga dapat berakhir runtuh. Namun, satu pertanyaan yang mungkin jarang kita pikirkan: dapatkah ia dibangun lagi setelah semua hancur lebur?
Banjir yang melanda Tambun pada 1933 tidak hanya menyapu daerah tersebut. Air bah juga merusak jalur kereta api yang menghubungkan Batavia dengan daerah lain, menghambat perhubungan darat di koloni
Bagi kita di Indonesia, suara masyarakat Papua cukup didengarkan melalui media massa terbitan nasional. Tetapi, pernahkah kita melihat bagaimana hal itu disiarkan oleh surat kabar Belanda?
Dataran Tinggi Dieng, sebuah kayangan, menggambarkan kisah sejarah yang mengesankan. Ia tampil tidak hanya dalam bentuk kompleks percandian masa Hindu-Buddha, tetapi juga kisah setelah itu.
Berawal dari budaya “ontgroening” pada periode Belanda, kekerasan dalam masa orientasi/inisiasi diwariskan hingga Indonesia merdeka. Meski telah ada upaya untuk mengikisnya, ia masih tetap eksis hingga kini.
Pendidikan seni di Indonesia, jika bisa dibayangkan, seolah kehilangan konteks. Ia menjadi penting ketika perlombaan sudah dekat. Ketika itu sudah berlalu, ia kembali berada di pojok sepi
Makam Kembang Kuning tidak hanya tempat bagi jiwa yang tertidur dalam keabadian. Ia juga tumbuh sebagai rumah bercinta, ladang prostitusi kelas bawah
Meski masih menjadi perdebatan, budaya bermusik eksis dalam kebudayaan masyarakat Islam. Jejak-jejaknya dapat kita lihat dalam melantunkan Al-Qur’an, mengumandangkan azan, hingga tradisi Sufi
Pada 1958, Manchester United sedang berjaya. Namun, semua berubah ketika pesawat yang ditumpangi anggota tim kecelakaan di Munich, Jerman Barat. Meski begitu, dukungan dari rival dan kawan membuat mereka mampu bangkit.
Sebagai upaya untuk melawan personifikasi Soeharto dengan Pancasila, sejumlah tokoh menandatangani Petisi 50. Petisi itu membuat Soeharto murka, dan mencekal mereka yang terlibat di dalamnya.