“Pintu Teater Satu telah dibuka,” ucap suara perempuan yang selalu terdengar, memanggil para penonton untuk bergegas. Bagi para maniak film, yang rutin berangkat ke bioskop ketika ada film yang menarik perhatian, suara ini begitu khas, sudah tidak asing lagi dalam benak.
Di Indonesia, bioskop barang baru. Konsep bioskop misbar, alias gerimis bubar, pernah eksis dalam riwayat hiburan di tanah air. Buat Anda yang pernah merasakan hal ini, atau mendengar kisah dari orang tua dan generasi tua, itu tentu masa-masa yang menyenangkan.

Berbicara mengenai bioskop, terutama di Surabaya, kota yang menjadi rumah bagi saya, media massa arustama masih membicarakannya sebagai rumah semata. Sebut saja, artikel dari Praditya Fauzi Rahman di detikjatim, menguraikan tujuh bioskop yang pernah menjadi primadona masyarakat Surabaya. Namun, ia masih berbicara fisik bangunan, serta persaingan antara satu bioskop dan lainnya.
Praditya tidak hanya berbicara tentang beberapa bioskop di Surabaya secara umum. Dalam artikel lain di detikjatim, ia juga menguraikan riwayat Bioskop Mitra 21 dan Wijaya Theatre. Tetapi, kedua artikel tersebut masih bersifat fisik, dalam arti hanya melihat bangunan kedua bioskop secara umum. Meski ada satu-dua kisah tentang manusia yang pernah menjadi bagian di dalamnya, ia hanya tampil sepintas lalu.
Berbekal sebuah artikel dari Monster Journal, yang menyebut bioskop tidak hanya sebagai tempat menonton film pada masa Soekarno, tetapi juga sebuah pusat kebudayaan, tulisan ini mencoba melihat bioskop tidak sebagai sebuah bangunan, tetapi sebagai pusat interaksi berbagai manusia di Surabaya.
Riwayat Singkat Bioskop di Surabaya
Geliat bioskop di Surabaya, dimulai justru dari Batavia pada abad ke-20. Pada masa itu, penampilan film, yang disebut sebagai gambar idoep, ditampilkan di ibu kota Hindia Belanda itu, tepatnya di Tanah Abang.
Pertunjukan gambar idoep itu mengisahkan perjalanan raja dan ratu Belanda di Den Haag. Film itu, tentu saja tak seperti film saat ini, yang berwarna dan bersuara. Saat itu, film masih monokrom alias hitam putih, dan tanpa suara atau bisu.
Dari Batavia, budaya film menyebar ke kota-kota lain di Hindia Belanda, termasuk Surabaya. Film bisu mulai hadir di kota ini antara 1920-an hingga 1930-an. Beberapa film yang ditampilkan antara lain film bisu Charlie Chaplin, dan film perayaan pernikahan Putri Juliana.

Memasuki tahun 1931, Surabaya mulai mendapatkan beberapa film bersuara, seperti Fox Follies dan Rainbow Man. Dalam konteks budaya film, Surabaya dapat dikatakan lebih maju dibandingkan Batavia, yang mendapatkan film bersuara lebih belakangan.
Meski hadir lebih awal, respons masyarakat Surabaya terhadap film bicara tidak sebesar film bisu. Menurut Ghesa Ririan Mitalia, hal tersebut terjadi karena masyarakat masih belum memiliki pengetahuan yang memadai untuk memahami dialog percakapan yang ada dalam film-film itu.
Ketika Belanda berhasil ditendang Jepang, dan Jepang ditendang Republik, perfilman Indonesia mengalami pembabakan baru. Mengikuti semangat perjuangan, Berita Film Indonesia (BFI) dibentuk untuk memproduksi gambar idoep, dalam bentuk newsreel dan dokumenter.
Selain itu, nasionalisasi juga diupayakan oleh Republik Indonesia yang baru berdiri. Ini dilakukan untuk melepaskan gagasan “asing” yang masih melekat. Di Surabaya, ia tampak dalam bentuk perubahan nama bioskop, seperti Rex Theatre menjadi Ria Theater, Metropole Theatre menjadi Bima Theater, dan lainnya.

Memasuki dekade 1990-an, beberapa bioskop lama di Surabaya mulai kehilangan pamor. Sebagai gantinya, para pemain baru dengan kapital besar, hadir. Berbeda dengan bioskop tempo doeloe yang jarang memiliki cabang, Sinepleks mempunyai layar di banyak tempat di kota ini.
Pada 2020, Indonesia memiliki 385 bioskop, dan 88 persen diantaranya dikuasai oleh CGV (Korea), Cineplex (Meksiko), dan Cinema 21 (Indonesia).
Dinamika Para Pencari Kapital
Sebagai sebuah bagian dari industri perfilman, bioskop tentu melibatkan manusia sebagai tenaga kerja, dan sering kali, hubungan antara pemilik bioskop dan para tenaga kerja tak berjalan mulus.
Pada tahun 1952, seperti diberitakan oleh Java Bode, seorang penjaga sepeda di teater Sampurna dipecat. Sebagai konsekuensinya, mereka harus membayar ganti rugi kepada sang penjaga sepeda. Pihak teater menolak, yang memantik pemogokan para pekerja di seluruh bioskop di Surabaya yang tergabung dalam Sarekat Buruh Film dan Senidrama (Saburfis).
Di Surabaya, Saburfis mengancam akan melakukan pemogokan total di 19 bioskop di Surabaya, yang tergabung dalam Bond Bioscop Surabaya, pada 1955. Pemogokan tersebut melibatkan 300 pekerja, yang dipantik oleh pemecatan seorang anggota Sarbufis tanpa sepengetahuan serikat pekerja.

Selain pemogokan, bioskop di Surabaya juga tidak dapat lepas dari dinamika politik Jakarta. Seperti yang terjadi pada era Demokrasi Terpimpin, pemerintah Indonesia mulai memboikot film barat yang dianggap berhaluan imperialis.
Tidak hanya dua hal tersebut yang tampak dalam kehidupan bioskop di Surabaya. Praktik percaloan tiket, pernah eksis di kota ini. Sebut saja, Bioskop Bima dan Bioskop Indra, praktik ini tumbuh subur.
Tentu saja, para calo meraup keuntungan besar karena memboyong tiket dan menjual di atas harga resmi, sementara di ruang yang berbeda, calon penonton film di bioskop mengalami kerugian.
Geliat Masyarakat di Gedung Bioskop
Kehidupan bioskop tidak hanya soal para pekerja dan tukang calo tiket. Ia juga menampilkan kisah masyarakat penggunanya, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Secara teknis, terdapat klasifikasi usia yang membatasi seseorang untuk menonton sebuah film di bioskop. Ia dibagi dalam beberapa kategori tertentu, untuk memisahkan film untuk semua usia, remaja, dan dewasa.
Namun, seperti yang diwartakan ANTARA, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia, Naswardi, mengungkapkan bahwa lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia menonton film yang tak sesuai dengan klasifikasi usianya. LSF masih menemukan fakta bahwa terdapat ibu-ibu yang menonton film dewasa, dengan kekerasan yang dominan, tetapi membawa anak kecil usia sekolah dasar.
Pada 1950-an, mengutip iklan film East of Eden dalam surat kabar Java Bode, tertulis kalimat 17 jaar en ouder (17 tahun dan lebih tua). Dalam arti, terdapat penegasan, dalam taraf tertentu, antara film dewasa dan film untuk kalangan di bawah 18 tahun.
Namun, anak-anak, utamanya di Surabaya, dapat dengan mudah menonton film dewasa di bioskop. Meski ada petugas yang mengecek, mereka dapat lolos begitu saja ke dalam bioskop. Tentu saja, ini membuat pusing, tidak hanya pegawai bioskop, tetapi juga polisi.

Selain anak-anak yang menonton film dewasa, bioskop juga menjadi tempat bagi pasangan yang ingin memadu kasih. Seperti yang diungkapkan seorang pengguna Quora, bahwa ia pernah berciuman dengan pacarnya di bioskop.
Dikutip dari artikel Shelby Burr dalam situs LegacyBox, sebelum 1980-an, bioskop menjadi tempat ideal bagi para pasangan untuk berkencan. Ini mengikuti budaya berpacaran para pemuda dan pemudi, yang mulai mengarah ke bentuk-bentuk informal. Kondisi ini, setidak-tidaknya dapat ditemukan di Surabaya.
Bagi masyarakat yang jauh dari akses bioskop, menonton film di tempat ini merupakan kebanggaan tersendiri. Seperti yang diungkapkan Ahmad Effendi, ia sampai harus mencari tutorial di Google dan YouTube, agar tidak tampak kampungan ketika berada di gedung bioskop.
Bagi masyarakat pedesaan, bioskop merupakan suatu yang wah. Bahkan, menurut artikel yang ditulis Riyanto di Terminal Mojok, kehadiran bioskop di Trans TV, salah satu stasiun televisi swasta, sudah cukup untuk menghibur mereka.
Dengan berkunjung ke bioskop, dan tentu saja menonton sebuah film, kelas sosial bisa tampil. Bagi Anda masyarakat perkotaan, mungkin tidak terlalu merasakan ini. Tetapi, bagi masyarakat di pedesaan yang berkunjung ke Surabaya, hal ini merupakan sebuah penegas kelas sosial yang besar.
Seperti yang ditampilkan dalam riwayat bioskop di Surabaya, ia tidak hanya sebuah bangunan tempat seseorang dapat menonton film. Ia juga tempat interaksi berbagai manusia yang hidup di dalamnya, baik sang pemilik, para pekerja, dan pengunjungnya. Hal ini menjadikan bioskop tidak hanya sebuah dinding dingin, tetapi titik bagi manusia untuk bertemu dan menjalin hubungan satu sama lain.