Pak Sartono, Jewerlah Telinga Kami!
Seandainya Sartono Kartodirdjo, sejarawan besar yang pernah dimiliki Indonesia, hidup hingga hari ini, saya ingin ia menjewer telinga para sejarawan yang masih berdiri di menara gading
Rubrik opini yang menyajikan opini tajam dan kritis. Selami bagaimana Historical Meaning membentuk pandangan mengenai isu-isu terkini dengan perspektif yang tajam dan objektif
Seandainya Sartono Kartodirdjo, sejarawan besar yang pernah dimiliki Indonesia, hidup hingga hari ini, saya ingin ia menjewer telinga para sejarawan yang masih berdiri di menara gading
Sikap Indonesia terhadap para penyintas jugun ianfu dan pemerkosaan massal 1998 serupa. Ia sama-sama mengabaikan dan enggan memperjuangkan suara mereka.
Hilangnya nilai dan karakter peserta didik, memantik penggiat pendidikan untuk merumuskan Kurikulum Cinta. Dapatkah ia menjadi solusi untuk itu?
Pendidikan Indonesia, jika diibaratkan, seperti sekumpulan noda hitam yang menutupi sinar hangat sebuah kertas putih. Masalah demi masalah masih terus menghantui. Sudahkan kita melakukan refleksi diri?
Pengesahan RUU TNI menjadi UU oleh DPR RI, di tengah protes banyak elemen masyarakat, menciptakan kembali ketakutan bahwa dwifungsi militer atas urusan sipil akan terjadi kembali. Benarkah demikian?
Dunia begitu kejam terhadap anak-anak autistik, membuat mereka rawan mengalami kekerasan seksual. Bagaimana kiat untuk bisa menciptakan dunia yang dapat menghargai kondisi mereka?
Hadirnya stigma negatif terhadap bahasa akademis atau “ndakik-ndakik” seharusnya tidak perlu ragu bagi seorang akademikus untuk mengungkapkan isi pikirannya kepada publik.
Indonesia sudah 80 tahun merdeka sebagai negara-bangsa yang bisa mengatur dirinya sendiri. Namun, rakyat semakin terbelenggu kehidupan yang semakin berat. Patutkah kita merayakan kemerdekaan di tengah kondisi seperti ini?
Proyek penulisan “sejarah resmi” oleh Pemerintah Indonesia untuk menyambut HUT ke-80 RI patut dilawan oleh segenap rakyat, karena ia merupakan upaya monopoli atas ingatan kolektif bangsa
Kecerdasan buatan kini telah menyusup ke ruang kelas di Indonesia. Guru dan siswa dihadapkan dengan kemampuan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bagaimana kiat untuk selamat dari “guna-guna” ini?