Yang mengerikan itu adalah sesuatu yang sebenarnya telah lama dikenal dan akrab, tetapi muncul kembali sebagai sesuatu yang asing.
Sigmund Freud, The Uncanny
Bagi sebuah desa di satu lereng gunung di pulau Jawa, malam itu terasa terlalu sunyi. Angin hampir tidak terdengar. Sesekali, daun-daun bergesek pelan.
Seorang warga yang hendak pulang dari langgar berhenti sejenak di tengah jalan setapak. Dari kejauhan, terdengar samar suara gamelan, yang pelan, berulang, seperti berasal dari tempat yang tak jelas arahnya. Suara itu terasa dekat, sekaligus jauh, seolah datang dari ruang yang tidak sepenuhnya berada di dunia yang sama.
Ia mencoba memastikan asal suara tersebut. Langkahnya diperlambat, dan telinganya menegang.
Di sela keheningan malam, suara itu justru semakin terasa nyata. Denting saron, ritme kendang yang teratur, mengalun seperti sebuah pertunjukan yang tak terlihat. Namun, ketika ia mendekat, suara itu menghilang begiut saja, menyisakan sunyi yang tiba-tiba terasa lebih berat dari sebelumnya.
Cerita di atas bukan hal asing di banyak wilayah di pulau jawa. Para pendaki gunung, seperti yang diwartakan oleh Liputan6 dan Tempo, kerap menuturkan pengalaman serupa. Di ketinggian tertentu, ketika kabut turun dan malam menelan suara-suara biasa, mereka mengaku mendengar alunan gamelan, tembang, dan bahkan lantunan zikir yang tak diketahui asalnya.

Ada yang mengira itu berasal dari desa di bawah. Tetapi, arah suara seringkali tidak masuk akal. Ada pula yang meyakini bahwa itu adalah bagian dari “dunia lain” yang sesekali bersinggungan dengan dunia manusia.
Di beberapa wilayah, cerita ini memiliki pola yang mirip, yakni suara yang terdengar jelas dan terasa mendekat, lalu tiba-tiba menghilang ketika didekati. Fenomena ini sering terjadi pada malam hari, ketika suasana sedang hening. Dalam kondisi seperti ini, batas antara apa yang didengar dan apa yang dibayangkan menjadi semakin tipis.
Terlepas apakah ia merupakan ilusi, sugesti, atau sesuatu yang belum dapat dijelaskan, pengalaman mendengar suara dari seberang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa, dan sebagai kisah yang terus diceritakan kembali, satu pertanyaan tetap terbuka: apa yang sebenarnya kita dengar ketika dunia terasa begitu sunyi?
Mengalami, bukan Sekadar Mendengar
Sebelum kita menilai apakah suara-suara itu benar berasal dari dunia gaib, atau sekadar ilusi pendengaran, kita bisa memulai dari pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana pengalaman itu hadir dalam kesadaran orang yang mengalaminya?
Edmund Husserl, dalam The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, mengatakan bahwa fenomena dinilai bukan dari benar atau salah secara objektif, melainkan dari bagaimana ia tampak dalam pengalaman kesadaran. Dengan pendekatan ini, hal utama yang perlu dilihat adalah bagaimana ia dialami sebagai nyata, dan bukan apakah ia nyata atau tidak.
Dalam konteks suara gamelan yang samar di tengah malam, ia hadir sebagai sebuah pengalaman yang menyeluruh, melibatkan perhatian, ingatan, suasana batin, bahkan ekspektasi. Seseorang tidak sekadar mendengar suara itu, tetapi juga menafsirkan, mengenali, mencari sumber suara, dan memberi makna tentang apa yang dialaminya.
Pendekatan Husserl dipedalam oleh Maurice Merleau-Ponty. Melalui Phenomenology of Perception, ia menekankan bahwa persepsi selalu memiliki sifat bertubuh (embodied). Ketika seseorang mendengar suara misterius, tubuhnya ikut bereaksi. Ia akan merinding, tegang, napas yang tiba-tiba tertahan, dan bahkan langkah menjadi lebih hati-hati.
Saat suasana hening, terutama pada malam hari, persepsi manusia menjadi lebih sensntif sekaligus rentan terhadap ambiguitas. Suara kecil terasa lebih besar, suara jauh bisa terasa dekat. Di sini, suara dari seberang muncul sebagai fenomena ambang, yang tidak sepenuhnya jelas, tetapi cukup kuat untuk dirasakan sebagai nyata.
Kecemasan yang Muncul dari ‘yang Tak Diketahui’
Pengalaman mendengar suara dari seberang tidak berhenti pada persepsi. Ia juga menyentuh dimensi emosional dan eksistensial, yakni sebuah rasa cemas yang sulit dijelaskan.
Dalam Being and Time, Martin Heidegger menulis bahwa pengalaman mendengar suara dari seberang dapat dipahami sebagai bentuk kecemasan eksistensial (Angst). Berbeda dengan rasa takut biasa yang memiliki objek jelas, kecemasan eksistensial muncul ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dipastikan.
Terkait dengan suara dari seberang, kita terbiasa berpikir bahwa setiap bunyi memiliki asal, selayaknya setiap peristiwa memiliki sebab. Namun, ketika ia muncul tanpa penjelasan yang jelas, struktur pemahaman ini mulai retak.
Dalam keheningan malam, ketika manusia berada dalam pikirannya sendiri, pengalaman ini menjadi lebih intens. Dunia yang semula terasa akrab dan dapat dipahami tiba-tiba menjadi asing dan misterius.
Di titik ini, kecemasan hadir sebagai pengalaman eksistensial. Ia mengingatkan manusia bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan oleh pengetahuan dan rasionalitas. Ada wilayah realitas yang tetap berada di luar jangkauannya.
Yang Akrab menjadi Asing
Dalam ruang psikoanalisis, fenomena suara dari seberang dapat dibedah lebih lanjut. Sigmund Freud, dalam buku The Uncanny, menyebut bahwa mendengar suara dari seberang sebagai the uncanny (das Unheimliche), yaitu situasi ketika sesuatu yang akrab justru muncul sebagai yang asing dan mengganggu.
Bagi masyarakat Jawa, gamelan, zikir, dan tembang, bukan hal asing. Ia telah menjadi bagian dalam kehidupan mereka sehari-hari, yang hadir dalam ritual, tradisi, dan praktik keagamaan.

Namun, ketika bunyi-bunyi tersebut muncul dalam konteks yang tidak biasa, ia menjadi perubahan makna. Semula, ia hadir sebagai suatu yang akrab dan menenangkan, dan ketika terjadi kondisi tersebut, ia beralih menjadi suatu yang mengganggu dan menakutkan.
Lebih lanjut, Freud menjelaskan bahwa uncanny sering muncul ketika batas antara realitas dan imajinasi menjadi kabur, atau ketika sesuatu yang seharusnya tersembunyi, justru muncul ke permukaan. Dalam konteks ini, suara dari seberang dapat dipahami sebagai pengalaman ketika pikiran, ingatan, dan sugesti berinteraksi dengan kondisi lingkungan, seperti kesunyian, kegelapan, dan keterbatasan persepsi.
Meski begitu, pendekatan di atas tidak serta merta menolak dimensi budaya dan spiritual masyarakat Jawa. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa pengalaman tersebut memiliki lapisan psikologis yang dalam, yang tidak dapat direduksi hanya menjadi halusinasi.
Budaya Jawa dan Realitas yang Berlapis
Jika kita menempatkan suara dari seberang dalam konteks budaya Jawa, fenomena ini memperoleh makna yang lebih luas. Bagi masyarakat Jawa, suara dari seberang adalah bagian dari kosmologi, bukan sekadar pengalaman individu semata.
Dalam banyak tradisi Jawa, realitas dipahami sebagai sesuatu yang berlapis, terdiri dari dunia lahir dan dunia batin, serta yang terlihat dan tak terlihat. Batas antara lahir/batin serta terlihat/tak terlihat tidak selalu tegas.
Oleh Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures, budaya dipahami sebagai sistem makna. Dalam kerangka ini, bunyi eksis sebagai simbol, bukan sekadar fenomena fisik.
Gamelan, zikir, dan tembang, sebagai bentuk sebuah bunyi, masing-masing dapat dipahami sebagai harmoni kosmis, kehadiran spiritual, serta ekspresi memori kolektif. Namun, ketika bunyi-bunyi ini muncul tanpa sumber yang jelas, ia terbuka terhadap berbagai tafsir. Ini memungkinkan mereka dipahami sebagai tanda alih-alih suara.
Secara singkat, suara dari seberang dalam pendekatan Geertz adalah sebuah peristiwa makna. Ia berada di persimpangan antara pengalaman indrawi, interpretasi budaya, dan kemungkinan metafisik.
Batas Rasionalitas Manusia
Fenomena suara dari seberang di atas, pada akhirnya menempatkan manusia dalam satu situasi yang tidak nyaman. Ia memaksa manusia berhadapan dengan rasionalitasnya sendiri.
Selama ini, rasionalitas modern cenderung berangkat dari asumsi bahwa dunia dapat dipahami secara kausal, terukur, dan dapat dijelaskan melalui hukum-hukum yang tetap. Setiap bunyi diasumsikan memiliki sumber, setiap pengalaman memiliki sebab yang dapat dilacak.
Namun, pengalaman seperti yang diterangkan dalam bagian terdahulu, yakni suara yang hadir tanpa asal yang jelas, yang terasa nyata sekaligus tak terjangkau, menggoyahkan asumsi dasar tersebut.
Di titik ini, rasionalitas tidak sepenuhnya runtuh. Ia dipaksa untuk mengakui keterbatasannya. Rasio bekerja dengan prinsip kejelasan dan distingsi. Tetapi, fenomena ambang seperti suara dari seberang hadir dalam ketidakjelasan.
Ia tidak sepenuhnya dapat diklasifikasikan sebagai realitas objektif. Tapi, ia juga tidak bisa begitu saja direduksi menjadi ilusi subjektif. Dengan kata lain, pengalaman tersebut berada di wilayah antara, sebuah zona liminal yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika biner benar/salah dan nyata/tidak nyata.
Dalam The Critique of Pure Reason, Immanuel Kant menunjukkan bahwa pengetahuan manusia selalu dibatasi oleh struktur pengalaman itu sendiri. Manusia tidak pernah mengakses das Ding an sich (hal pada dirinya), melainkan hanya fenomena sebagaimana ia tampak bagi kesadaran.
Dalam konteks ini, suara dari seberang dapat dipahami sebagai pengingat bahwa apa yang kita anggap sebagai dunia yang stabil dan dapat dipahami sebenarnya selalu dimediasi oleh kondisi persepsi kita. Ketika kondisi itu berubah, misal dalam kesunyian ekstrem, kegelapan, atau ketegangan emosional, struktur pengalaman pun ikut bergeser.
Lebih jauh lagi, rasionalitas seringkali bekerja dengan cara menutup ambiguitas. Ia ingin memastikan, menetapkan, dan mengkategorikan. Namun, fenomena ini justru membuka ambiguitas tersebut.
Dalam arti ini, suara dari seberang menjadi peristiwa epistemologis, tidak hanya sebagai objek pengalaman. Ia mengganggu cara kita memahami dunia.
Di sini, refleksi fenomenologis menjadi penting. Alih-alih memaksa fenomena ini masuk ke dalam kerangka penjelasan yang sudah ada, fenomenologi mengajak kita untuk tetap tinggal dalam pengalaman itu sendiri, membiarkan ambiguitasnya berbicara. Batas rasionalitas tidak dilihat sebagai kegagalan, tetapi sebagai sebuah horizon, batas yang justru membuka kemungkinan pemahaman yang lebih luas.
Ketika manusia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan, ia dihadapkan pada kondisi keterbatasannya sebagai makhluk yang berada di dunia. Keterbatasan ini dapat memunculkan kecemasan, sekaligus juga kesadaran bahwa dunia selalu lebih luas dari apa yang dapat dipahami.
Dalam konteks budaya Jawa, kesadaran akan batas rasionalitas ini bukan sesuatu yang asing. Tradisi Jawa sejak lama telah mengakui adanya realitas yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh nalar.
Oleh karena itu, pengalaman seperti suara dari seberang tidak selalu ditolak, tetapi diterima sebagai bagian dari kenyataan yang berlapis. Rasionalitas tidak dihapus; ia ditempatkan berdampingan dengan intuisi, rasa, dan dimensi spiritual.
Di dalam ruang ini, manusia menemukan kedalaman pengalamannya, ketika ia tidak lagi sekadar berusaha menjelaskan, tetapi juga belajar mendengarkan, bahkan untuk sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat ia pahami.