Seandainya Saya Wartawan TEMPO: Merekam Peristiwa yang Luput dari Berita

Seandainya Saya Wartawan Tempo Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo oleh Goenawan Mohamad, dokumentasi pribadi
Judul BukuSeandainya Saya Wartawan Tempo
PenulisGoenawan Mohamad
PenerbitTempo Publishing
Kota TerbitJakarta
Tahun Terbit2014
Halamanviii + 98 halaman
ISBN979-8933-07-9

Pendatang baru itu tampak misterius dan agak menakutkan. Namanya memang bagus. Chlamydia pneumonia, tapi wataknya merepotkan para peneliti (TEMPO, 19 Februari 1994, “Chlamydia yang Mempersulit Diagnosa”).

Sekilas, kita menduga pendatang baru yang dimaksud itu adalah seseorang misterius dengan perawakan menakutkan. Tetapi kalimat berikutnya langsung mengubah persepsi awal: Chlamydia pneumonia, dan peneliti. Dua nama yang sering diasosiasikan dengan “kuman atau bakteri” dan “ilmuwan atau saintis”.

Kutipan di atas adalah salah satu paragraf pembuka memikat khas TEMPO. Gaya pembuka tersebut efektif menggoda pembaca untuk menyelami cerita lengkapnya. Pada mulanya hanya ada dua jenis penulisan dalam koran dan majalah di Indonesia: berita harian (hardnews) dan artikel atau kolom. Namun pola penulisan jurnalistik di Indonesia banyak berubah setelah TEMPO lahir membawa format penulisan baru yang dikenal sebagai feature.

Perbedaan feature dengan berita terdapat pada teknik penulisannya. Dalam menulis berita, umumnya harus menaati aturan struktur “piramida terbalik”. Tetapi dalam penulisan feature, penulis “mengisahkan sebuah cerita” diantaranya kejadian kecil menarik yang biasanya luput diberitakan, dan penulis boleh tidak menaati aturan piramida terbalik bila aturan itu mengurangi kelincahannya dalam mengisahkan cerita.

Goenawan Mohamad—pendiri TEMPO—dalam buku ini mengungkap isi dapur redaksi TEMPO. Goenawan mengajak pembaca berlatih menjadi wartawan, menangkap kejadian-kejadian jalanan yang luput dari kacamata portal berita, menjadi sebuah feature.

Modal penting dalam menulis feature adalah kepekaan penulis terhadap peristiwa di sekitarnya yang berpotensi menjadi cerita yang bernilai. Sekarang bayangkan Anda seorang wartawan yang ingin menulis feature dan sedang dalam tugas reporter kepolisian tengah malam. Misalkan dalam tugas malam itu Anda bertemu seorang wanita tua yang menyapu di depan rumahnya pukul 02.00 pagi. Polisi bilang, wanita tua itu melakukannya setiap hari dan tidak mau membeberkan alasannya. Kejadian seperti itu tidaklah menarik untuk dimuat menjadi berita. Tapi bagi penulis feature, ketidakwajaran orang menyapu dini hari bisa dikulik menjadi cerita menghibur.

Baca Juga  Pulau Batu di Samudra Buatan: Menyelami Keberagaman Karakter Manusia dalam Menghadapi Musibah

Sebuah tulisan bisa dikatakan sebagai feature, menurut Goenawan, paling tidak adalah artikel kreatif yang utamanya dimaksudkan untuk memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian dan cenderung lebih untuk menghibur ketimbang untuk menginformasikan.

Menulis feature tidak seperti menulis berita biasa, seperti yang telah diungkap di awal. Menulis feature memungkinkan penulis menciptakan sebuah cerita, meskipun ia masih terikat etika bahwa tulisan tetap harus akurat sesuai fakta sebenarnya.

Aspek “menghibur” dalam feature membuatnya menjadi tulisan yang awet dan enak dibaca kapan saja. Dari balik dapur redaksi, Goenawan juga para wartawan yang ikut mendirikan TEMPO banyak belajar dan mengintip metode penulisan majalah asing. Tapi tidak semua orang siap beradaptasi metode baru.

Ketika membaca buku ini, saya merasa ikut menjadi pendiri TEMPO dan terlibat membuat formula kepenulisan untuk para rekan wartawan saya. Membaca buku ringkas ini lebih terasa seperti sedang membaca novel ketimbang buku kepenulisan. Alurnya yang teratur serta gaya penulisan yang santai berbahasa keseharian membuat buku ini layak dibaca murid SD sekalipun.

Secara keseluruhan, buku ini mengulas metode penulisan feature. Buku ini berusaha memberitahu khalayak tentang arti penting menulis adalah bukan hal-hal teknis semata tetapi juga “modal moral”, kejujuran, kepekaan, dan ketelitian yang harus dikuasai seorang penulis. Di tengah masyarakat, buku ini banyak dijadikan panduan bagi para peminat jurnalisme, mahasiswa, bahkan mereka yang menekuni profesi kewartawanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *