Pak Sartono, Jewerlah Telinga Kami!
Seandainya Sartono Kartodirdjo, sejarawan besar yang pernah dimiliki Indonesia, hidup hingga hari ini, saya ingin ia menjewer telinga para sejarawan yang masih berdiri di menara gading
Seandainya Sartono Kartodirdjo, sejarawan besar yang pernah dimiliki Indonesia, hidup hingga hari ini, saya ingin ia menjewer telinga para sejarawan yang masih berdiri di menara gading
Kisah bioskop tidak selalu berarti riwayat gedung untuk menonton film layar lebar dari masa ke masa. Seperti yang eksis d Surabaya, ia juga mengisahkan para calo tiket, anak-anak menonton film dewasa, hingga pasangan yang berpacaran
Sebelum menggeliat dengan aktivitas keislaman, Masjid Tiban hanya sebuah masjid tua yang telah ditinggalkan. Serbuan Jepang membuat ia ditinggalkan, dan beberapa tahun kemudian, ditemukan kembali oleh kelompok transmigran dari Karanganyar
Eksistensi berbagai jejak budaya bermusik di Jazirah Arab pada era pra-Islam, diteruskan oleh peradaban Islam. Tentu, ia dikemas kembali, menyesuaikan gagasan spiritual dan identitas kultural yang baru
Personal branding, dapat dibangun, juga dapat berakhir runtuh. Namun, satu pertanyaan yang mungkin jarang kita pikirkan: dapatkah ia dibangun lagi setelah semua hancur lebur?
Banjir yang melanda Tambun pada 1933 tidak hanya menyapu daerah tersebut. Air bah juga merusak jalur kereta api yang menghubungkan Batavia dengan daerah lain, menghambat perhubungan darat di koloni
Bagi kita di Indonesia, suara masyarakat Papua cukup didengarkan melalui media massa terbitan nasional. Tetapi, pernahkah kita melihat bagaimana hal itu disiarkan oleh surat kabar Belanda?
Dataran Tinggi Dieng, sebuah kayangan, menggambarkan kisah sejarah yang mengesankan. Ia tampil tidak hanya dalam bentuk kompleks percandian masa Hindu-Buddha, tetapi juga kisah setelah itu.
Sebagai sebuah gagasan, gerakan sosial cenderung dilihat antara kerumunan massa yang irasional dan aksi yang diperhitungkan secara matang dan terorganisasi. Buku ini akan membantu Anda menjembatani kedua jurang itu.
Berawal dari budaya “ontgroening” pada periode Belanda, kekerasan dalam masa orientasi/inisiasi diwariskan hingga Indonesia merdeka. Meski telah ada upaya untuk mengikisnya, ia masih tetap eksis hingga kini.