| Judul Buku | Gerakan Sosial: Sejarah Perkembangan Teori antara Kekuatan dan Kelemahannya |
| Penulis | Joni Rusmanto |
| Penerbit | Zifatama Publishing |
| Kota Terbit | Sidoarjo |
| Tahun Terbit | 2013 |
| Tebal | 91 halaman |
| ISBN | 978-602-18597-8-0 |
Ketika kita membahas tentang gerakan sosial, ia seringkali dikisahkan dengan narasi yang terpecah. Di satu sisi, gerakan sosial dilihat dengan kacamata interpretasi lama yang dismisif terhadap massa. Di sisi yang berbeda, ia dipahami dengan pendekatan struktural-rasional yang kuat, utamanya pada periode kontemporer.
Mengapa perbedaan ini bisa terjadi? Jawaban atas pertanyaan ini, adalah karena adanya kerumitan dan irama pergeseran paradigma dalam sosiologi gerakan sosial, dengan setiap pendekatan memiliki tema khas, objek riset, dan orientasi nilai yang berbeda.
Tetapi, apa benar sejarah studi gerakan sosial hanya dapat dikisahkan sebagai fragmentasi teoretis semata? Oleh Joni Rusmanto, dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangkaraya sejak 2006, ia dapat dikisahkan dalam pendekatan yang sistematis, membuatnya lebih kritis dan mendalam. Pandangan ini, dituangkannya dalam buku Gerakan Sosial: Sejarah Perkembangan Teori antara Kekuatan dan Kelemahannya.
Buku ini memulai penuturan dengan menyajikan perspektif gerakan sosial dalam studi klasik dan neoklasik. Menurut Rusmanto, kedua perspektif ini didominasi oleh pengaruh psikologi sosial klasik, seperti yang ditulis LeBon dan Tarde, yang mendasarkan asumsi bahwa perilaku individu dalam berbagai pergerakan sosial, seperti pemberontakan (revolt), kerusuhan (riots), dan huru-hara politik (mob), bersifat irasional.
Gambaran para peneliti gerakan sosial dalam kedua aliran ini memahami perilaku sebagai sebuah kolektivitas yang liar (crowd), anarkis, dan rentan terhadap tindakan kekerasan.
Namun, perspektif klasik dan neoklasik meninggalkan kelemahan. Ia cenderung melakukan generalisasi terhadap setiap perilaku individu dalam sebuah gerakan, menempatkan setiap individu memiliki perilaku yang sama, dan didasarkan atas emosi serta kemarahan.
Sentimen yang menitikberatkan pada irasionalitas massa ini, kemudian dikaji kembali oleh Paradigma Gerakan Sosial Baru (GSB, juga dikenal sebagai New Social Movement). Paradigma ini lahir pada paruh kedua abad ke-20, sebagai sebuah semangat baru yang mencoba untuk melihat gerakan sosial bukan sebagai aksi sekumpulan orang yang berperilaku irasional.
Oleh GSB, aktor gerakan sosial kini dilihat sebagai individu yang berpikiran rasional dan waras, serta aksi yang dilakukan diperhitungkan secara matang dan terorganisasi secara formal.
Dalam telaah atas paradigma GSB, Rusmanto membagi mereka dalam tiga aliran utama yang saling bertentangan, tetapi saling mengisi satu sama lain. Ketiga paradigma tersebut, adalah:
- Paradigma Ketegangan Struktural (Structural Strain Paradigm), yang dipengaruhi oleh Gurr dan Smelser. Paradigma ini melihat gerakan sosial sebagai reaksi terhadap ketegangan sosial pada level makro dan kondisi struktural yang tersedia. Meski begitu, ia dikritik karena gagal mempertimbangkan bagaimana para individu mengalami perampasan dalam struktur sosial yang lebih luas;
- Paradigma Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Paradigm), yang dipengaruhi oleh Olson, McCarthy, dan Zald. Paradigma ini memusatkan fokus pada proses sistem mobilisasi yang terorganisasi secara lebih rasional dan canggih;
- Paradigma Berorientasi Identitas, yang berasal dari Eropa. Ia menekankan aspek pencarian identitas dan kesadaran individual sebagai ciri spesifik makhluk hidup.
Meski saling bertentangan, ketiga paradigma di atas punya tujuan yang sama, yakni mencari kerangka teoretis yang lebih kuat dan mampu menjelaskan gerakan sosial yang terus berubah.
Pada bagian akhir buku ini, Rusmanto menyajikan perkembangan terakhir (state of the art) teori gerakan sosial, termasuk kehadiran pendekatan pascastrukturalis dan pragmatisme yang bergeser dari tingkat makro ke mikro.
Membaca buku Gerakan Sosial ini, saya tidak hanya membaca kisah demi kisah perdebatan teoretis yang ada. Saya, seperti juga pembaca lainnya, diajak untuk menyelami sistematisasi tema yang penting, sebagai frame logic untuk memahami studi gerakan sosial dalam keanekaragaman perspektif.
Sebagai kekuatan buku ini, Rusmanto mampu memetakan bagaimana setiap paradigma, yang semula memiliki kekurangan, justru menjadi kekuatan baru bagi paradigma berikutnya. Namun, mengingat ini merupakan sebuah tulisan kecil, dalam arti ramuan dari beberapa catatan dan tugas-tugas formal mata kuliah penunjang disertasi (MkPD), yang sepertinya belum selesai didiskusikan, membuat buku Gerakan Sosial tampil sebagai bahan bacaan untuk pemula.
Meski begitu, kelemahan tersebut tidak dapat dimungkiri. Dalam konteks studi ilmu sosial yang terus bergerak, karya akademis, terutama yang berasal dari proses akademik internal seperti MkPD, dapat menjadi upaya awal yang berharga untuk menghimpun literatur yang beraneka ragam. Ini menjadikan buku Gerakan Sosial sebagai upaya krusial dalam menyajikan peta pemikiran yang komprehensif atas teori-teori gerakan sosial.
Buku Gerakan Sosial ini, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, dapat menjadi bacaan awal yang begitu fungsional bagi mereka yang ingin mengenal lebih dalam perkembangan teori gerakan sosial. Dengan alur pemikiran yang sistematis, ia tidak hanya menyajikan sebuah ringkasan belaka. Ia juga menampilkan titik tolak dalam konstruksi perspektif dan teori yang wajib dipahami oleh setiap akademikus sosiologi politik dan aktivis pergerakan sosial.