Masalah Kesehatan Mental dalam Kehidupan Prajurit Romawi Kuno

Mosaik Herkules Mosaik yang menggambarkan Herkules yang sedang mengalami kemarahan sementara, yang diasingkan oleh istrinya, yang kemudian dibunuh, bersama anak-anaknya, oleh Herkules (Abad ke-3 hingga ke-4 Masehi), courtesy of Wikipedia

Lemah! Banyak mengeluh! Lembek sekali! Ketiga kata di atas sering dilontarkan oleh generasi sebelum generasi Z (gen Z, kelahiran 1997-2012) kepada mereka ketika mengeluh ataupun merasa lelah dengan kehidupan.

Selain dicap banyak mengeluh dan lembek, mereka kerap kali dicap sebagai generasi yang lemah. Bagaimana tidak, mereka kerap kali membawa-bawa kesehatan mental (mental health) dari waktu ke waktu.

Idealnya, semua generasi haruslah paham dengan apa yang disebut sebagai kesehatan mental. Bayangkan, jika seluruh generasi yang ada dalam sejarah umat manusia ternyata tidak peduli dengan hal itu … Oh, alangkah buruknya dunia ini!

Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami masalah kejiwaan, courtesy fo Adelphi University

Berjalan di muka bumi ini tanpa kesadaran akan kesehatan mental seperti berjalan tanpa mata, tanpa arah. Ketika seseorang, atau bahkan sebuah generasi, hidup tanpa kesadaran tersebut, hilang pula empati yang seharusnya menjadi hal mendasar dalam setiap manusia.

Gen Z, yang melek akan kesehatan mental, saja dicibir oleh generasi lainnya. Apakah ini berarti masyarakat dunia akan kembali ke masa ketika kesehatan mental menemui kegelapannya, seperti di era Perang Dunia Pertama, atau ketika orang yang mengalami masalah kejiwaan berakhir dipasung?

Tentu, apa yang dialami gen Z bukanlah hal baru. Kesadaran akan permasalahan mental atau kejiwaan sudah terjadi jauh bahkan gen Z eksis, ribuan tahun yang lalu. Tepatnya, ia sudah ada pada era klasik, ketika peradaban Romawi masih eksis.

Kesehatan Mental dari Waktu ke Waktu

Seperti yang sudah disinggung di atas, kesehatan mental bukanlah sesuatu yang baru saja ditemukan dan dipelajari. Ia sudah ada sejak zaman lampau.

Hippocrates menyebutkan jika terdapat empat tipe kepribadian dasar atau fundamental, yaitu tipe kepribadian choleric (ambisius), sanguine (ramah, cenderung bersosialisasi dan berteman dengan orang baru), phlegmatic (tenang dan pendiam), dan melancholic (perenung dan penuh perhatian).

Berbicara mengenai kesehatan mental, tentu tidak dapat dipisahkan dengan psikologi. Melanjutkan pembicaraan tentang psikologi, tentu tidak dapat dipisahkan dengan adanya eksperimen psikologi. Psamtik I, seorang raja yang pernah menyatukan Mesir, adalah aktor di balik eksperimen tersebut.

Konsep empat tipe kepribadian dasar (humour) yang dicetuskan Hippocrates, dalam sebuah ilustrasi abad ke-16, courtesy of Wikipedia

Selain dikenal perkasa dalam pemerintahannya, Psamtik I juga dikenal sebagai orang pertama yang melakukan eksperimen psikologi yang pernah dicatat oleh sejarah. Pertama-tama, ia menginstruksikan untuk mengambil dua bayi dari sebuah ibu kelas bawah. Kedua bayi tersebut diserahkan kepada seorang gembala, dan dibawa ke sebuah tempat terpencil.

Baca Juga  Tradisi Kongkalikong Pejabat Indonesia dari Masa ke Masa

Mereka kemudian ditempatkan di sebuah pondok, dan secara baik diberi makan dan diperhatikan. Tetapi, mereka tidak boleh mendengarkan seseorang yang sedang berbicara satu patah kata pun. Hal tersebut dilakukan, karena Psamtik I ingin mengetahui bahasa apa yang tertua di dunia.

Pada usia dua tahun, salah seorang bayi mengatakan becos (roti), yang merupakan kata dalam bahasa Frigia. Eksperimen tersebut merupakan eksperimen psikologi pertama yang pernah dilakukan dalam sejarah umat manusia.

Psikologi tak hanya berkaitan dengan apa bahasa pertama yang ada di dunia ini, seperti yang dilakukan Psamtik I. Kembali berbicara mengenai kesehatan mental, tak hanya anak-anak saja yang mengalami masalah mental, tetapi juga orang dewasa.

Patung wajah Psamtik I, salah satu firaun Mesir Kuno, courtesy of Wikipedia

Di era modern ini, kesehatan mental telah menjadi concern banyak orang. Akan tetapi, meleknya banyak orang terhadap kesehatan mental bukan berarti masalah mental bukan hal yang baru-baru ini terjadi. Eksistensi penyakit mental (mental illness) tidak dapat disamakan dengan kebaruan atau meleknya banyak orang mengenai kesehatan mental.

Mundur sedikit ke belakang, ternyata ada kondisi psikologis lain yang dialami oleh masyarakat kuno, tepatnya pada era Yunani kuno. Kembali kepada Hippocrates, ia pernah dihadapkan dengan dua orang pasien, yang dalam kacamata modern, diduga sebagai pengidap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Kedua pasien tersebut, masing-masing memiliki gejala takut, depresi, hingga tidak mampu berbicara.

Maju sedikit ke depan, yakni ke era Romawi kuno, terdapat hukum yang mengatur bagaimana orang- orang romawi yang mengalami masalah kejiwaan akan dihadapi oleh negara.

Hukum Romawi melihat masalah mental warganya dengan dua pendekatan, yakni menangani masalah tersebut terkait properti dan menangani masalah terkait bagaimana pemerintah Romawi melindungi masyarakat dari potensi kekerasan yang mungkin akan dilakukan oleh seorang yang sedang tidak waras. Masalah mental ini tidak hanya dialami oleh masyarakat biasa saja, tetapi juga, dalam bagian berikutnya, oleh para prajuritnya.

Kesehatan Mental di Kalangan Tentara Romawi

Berlandaskan pada teori empat humor, kita dapat berangkat menuju pembahasan tentang bagaimana orang Romawi memandang kesehatan mental.

Baca Juga  Penolakan Hari Valentine di Indonesia: Suara dari Masa Silam

Menurut teori ini, manusia dibedakan menjadi empat cairan berbeda. Pertama, adalah darah. Kedua, adalah empedu kuning. Ketiga, adalah empedu hitam. Terakhir, adalah lendir. Setiap proporsi cairan dalam tubuh manusia membentuk kondisi fisik dan mental seseorang tersebut.

Seseorang dianggap sehat jika cairannya lebih kurang seimbang. Akan tetapi, jika salah satu cairan terlalu mendominasi, ia dikategorikan tidak sehat.

Pada era itu, kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh keempat cairan tersebut. Jika cairan tersebut menjadi terlalu banyak, dan akhirnya membusuk di sebuah bagian yang disebut sebagai hipokondrium, itu akan berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang, seperti menyebabkan halusinasi dan delusi.

Posisi hipokondrium (kanan dan kiri) dalam tubuh manusia, courtesy of Radiopaedia.org

Terkait permasalahan mental dalam tentara Romawi, setidak-tidaknya dapat ditelusuri melalui istilah missio causaria. Istilah tersebut berarti pembebasan tugas atas tentara yang mengalami kesehatan mental.

Pada abad ke-3 Masehi, Aemilius Macer, seorang ahli hukum yang bekerja di bawah Kaisar Caracalla dan Severus Alexander, menyatakan bahwa pembebasan tugas lebih awal dari ketentaraan di awal-awal kekaisaran, diperkenankan untuk para tentara yang mengalami cacat pikiran atau fisik (vitio animi vel corporis). Kondisi ini ditentukan oleh ahli medis dan ahli hukum yang kompoten. Meski begitu, Macer tidak menyebutkan secara persis kondisi apa yang dimaksud dalam cacat pikiran atau fisik tersebut.

Gambar wajah Publius Cornelius Scipio oleh Mino da Fiesole (sekitar 1460–1465), courtesy of Wikipedia

Tentara Romawi, seringkali disebut-sebut mengalami gangguan dalam hidup sehingga mereka melakukan bunuh diri. Gangguan dalam hidup tersebut antara lain kelelahan terhadap hidup (weariness of life), kesedihan (sorrow), atau perbuatan yang luar biasa (remarkable deed). Selain itu, mereka juga mengalami ekses dari kehidupan militernya, yang berujung pada permasalahan mental dan tindakan bunuh diri.

Salah satu bukti bahwa tentara Romawi pernah mengalami masalah mental adalah ketika Publius Cornelius Scipio, salah seorang konsul sekaligus jenderal Romawi yang andil dalam Perang Punik, pernah mengalami kecemasan ketika ia berperang melawan orang-orang Fenisia.

Baca Juga  Semula Dekat dengan Uni Soviet, Berakhir Intim dengan Amerika Serikat: Mesir pada Masa Perang Dingin

Saat Scipio mengalami luka-luka dalam Pertempuran Ticinus, ia tak hanya mengalami luka secara fisik, tetapi juga luka secara mental. Ia disebut mengalami ketakutan akan peperangan dan juga kecemasan. Disebutkan, ia menggigil karena ketakutan atau ingatan akan luka dan kengerian senjata (memoria volneris aciem ac tela horrere).

Bagaimana Mereka Menghadapi Permasalahan Mental?

Selain memimpin pertempuran, tugas yang pasti diemban oleh seorang komandan pasukan adalah memastikan moral para prajuritnya. Ini bukanlah hal yang mudah, mengingat dalam konteks pertempuran di masa lalu, khususnya di era Romawi, tentara yang tidak berpengalaman kerap menjadi korban kecemasan.

Untuk menangani masalah mental para prajuritnya, sang komandan pasukan melakukan pendekatan positif dan negatif. Pendekatan yang bersifat positif untuk pasukan yang mengalami kecemasan dapat berupa iming-iming akan hadiah peperangan, seperti rampasan perang dan kenaikan pangkat. Sementara itu, pendekatan negatif juga dapat diaplikasikan kepada mereka, seperti hukuman mati bagi prajurit yang melarikan diri dari peperangan karena takut akan musuh.

Selain itu, ada pula cara ekstrem yang dilakukan oleh prajurit Romawi dalam menghadapi masalah mental. Solusi ekstrem tersebut adalah memutilasi diri, bahkan hingga bunuh diri. Itu umum dilakukan, mengingat pemahaman akan kesehatan mental di zaman itu masih sangat minimal.

Dapat dikatakan, mentalitas kolektif masyarakat Romawi memengaruhi pendekatan yang dilakukan terhadap prajurit yang mengalami masalah mental. Mereka yang mengalami kecemasan terkadang mendapatkan pendekatan yang positif dan negatif oleh komandan pasukan. Dalam kasus yang ekstrem, mutilasi diri hingga bunuh diri dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Satu hal yang pasti, masalah mental telah eksis dalam masyarakat kuno, dan itu dapat kita buktikan dari kehidupan para prajurit Romawi kuno di masa silam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *