Udara dingin Wonosobo terasa menusuk tulang subuh itu. Sebagai sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, ia menyimpan berbagai keindahan. Salah satunya, adalah Dataran Tinggi Dieng.
Kala itu, 5 September 2025, saya datang di Wonosobo sebagai seorang pelancong, yang ingin pergi ke Dataran Tinggi Dieng. Bagi seorang yang tak terbiasa dengan suhu rendah, ia masuk ke seluruh tulang.
Tetapi, pemandangan surgawi yang disajikan Dataran Tinggi Dieng, seakan memiliki daya magis tersendiri. Ia mampu mengobati udara dingin yang saya rasakan saat itu.
Dataran Tinggi Dieng itu memiliki banyak keunikan yang bersejarah. Sebut saja, kompleks Candi Arjuna, dan berbagai candi lain yang terlalu banyak untuk dideskripsikan, seperti yang diungkapkan Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java. Ia menjadi kenangan nan misterius, benaknya kala berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng.

Pemandangan surgawi yang indah, ditemani udara yang sejuk serta jejak-jejak sejarah yang masih melekat di bumi Dieng, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang mengunjungi kawasan tersebut.
Ketika saya berkunjung ke Dieng, saya berkesempatan untuk pergi ke komplek Candi Arjuna. Ia terdiri dari beberapa candi, yang diberi nama sesuai dengan nama para tokoh dalam kisah Mahabharata.
Menurut Het Dieng Plateau karya P.O. Martin, terdapat beberapa tempat tinggal pendeta dan peziarah yang sempat eksis di Dataran Tinggi. Selain itu, masih menurut sumber yang sama, catatan dari Tiongkok menyebutkan bahwa para raja yang berkuasa di tanah Jawa kerap berkunjung ke tempat tersebut setiap tahunnya.
Kisah magis Dataran Tinggi Dieng ini, sebuah wilayah nirmala yang begitu indah, saya tuangkan lebih dalam melalui tulisan ini.
Dataran Tinggi Dieng dan Candi-Candinya
Dieng berasal dari dua kata berbeda, yakni di dan hyang. Keduanya merupakan bahasa Sansekerta. Kata di berarti tempat yang tinggi, dan hyang berarti kahyangan.
Berbicara mengenai siapa, atau wangsa apa, yang membangun kompleks percandian di Dieng, masih simpang siur. Pada mulanya, wangsa Syailendra diduga membangun kompleks ini, berdasarkan kekhasan bangunan candi yang diafiliasikan dengan wangsa tersebut.
Akan tetapi, N.J. Krom dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis menyebutkan bahwa dugaan tersebut “tampaknya meragukan.” Alasannya, karena ornamen bangunan candi tersebut menunjukkan bahwa ia berasal dari era yang lebih tua dibandingkan era wangsa Syailendera. Meski demikian, dokumen tertua yang ditemukan terkait Dieng berasal dari 809 Masehi, yang merupakan era berkuasanya wangsa Syailendra.
Perdebatan di atas tampaknya membutuhkan pandangan lebih jauh dari para arkeolog dan sejarah, baik di Indonesia maupun luar negeri. Terlepas dari hal itu, candi-candi yang berada di Dieng menjadi saksi bisu berkembangnya agama Hindu di tanah Jawa.

Mereka diperkirakan dibangun pada abad ke-7 atau ke-8 Masehi. Sejumlah ahli berpendapat bahwa ia dibangun lebih tua dari apa yang diperkirakan tersebut.
Meski masih terbuka untuk interpretasi lebih lanjut, kompleks percandian Dieng dibangun atas perintah para raja dari wangsa Sanjaya, dan dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi pembangunan Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, dan Candi Gatotkaca. Tahap kedua, adalah melanjutkan pembangunan candi-candi tersebut.
Menurut Paul Michel Munoz, salah satu candi di kompleks percandian Dieng, yakni Candi Bima, awalnya merupakan candi Hindu. Namun, ia kemudian berubah menjadi candi yang digunakan oleh penganut agama Buddha. Ini merupakan hal yang menarik, mengingat pendirian candi-candi tersebut dimaksudkan untuk pemujaan kepada Dewa Siwa.
Hal ini menunjukkan bahwa keagamaan di Dataran Tinggi Dieng sungguh dinamis. Mulai dari Hindu, Buddha, dan kemudian Islam yang masuk berikutnya, tumbuh. Tentu saja, pengaruh yang masih belakangan ini membawa hawa baru di tempat yang indah dan penuh kisah ini.
Kehadiran Islam yang Penuh Tanya
Kedatangan Islam ke Dataran Tinggi Dieng, hingga kini, masih menuai perdebatan. Serat Babad Kedhu menyebutkan bahwa Islam masuk ke Dieng atas prakarsa Raden Patah, antara 1478 hingga 1513 Masehi.
Terdapat setidaknya beberapa tokoh yang menyebarkan Islam di Dataran Tinggi Dieng. Mereka adalah Kiai Karim dan Kiai Walik. Dua nama terakhir ini, menurut Serat Babad Kedhu, dikirim oleh Sunan Bonang untuk mengislamkan Dataran Tinggi Dieng, yang saat itu masih kental dengan peradaban Hindu-Buddha.
Kedua tokoh tersebut menggunakan kebudayaan untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Mereka menggunkan lengger, sebuah kesenian tari. Lengger sendiri berasal dari kata “Eling, Ngger,” yang bermakna “Ingatlah, nak.”
Berkah strategi dakwah Kiai Karim dan Kiai Walik, banyak masyarakat di Dataran Tinggi Dieng tertarik. Namun, penguasa setempat, Kiai Kaladitya, menghalangi upaya mereka yang ingin memeluk Islam.
Pada akhirnya, Kiai Karim melawan Kiai Kaladitya, dan menang. Akhirnya, Kiai Kaladitya menjadi seorang muslim.
Islamisasi, atau masuknya pengaruh (agama dan kebudayaan) Islam ke Dieng, tidak terjadi secara massal. Para pemuka agama Hindu dan Buddha kecil kemungkinan meninggalkan agama mereka, dan bahkan meninggalkan Dieng, atas kehendak sendiri. Diduga, ada semacam perintah negara, yang membuat mereka akhirnya menganut agama Islam. Tentu saja, dugaan ini patut dikaji lebih jauh.
Menurut Serat Centhini, Dieng sudah dihuni oleh penduduk muslim setidak-tidaknya pada abad ke-18, tepatnya pada 1736, ketika Giri Kedaton dikalahkan oleh Mataram. Meski begitu, ia belum menjawab dengan terang terkait masuknya Islam ke tanah Dieng, dan masih menjadi pertanyaan hingga kini.
Berdasarkan sejarah lisan yang masih terlacak dalam kehidupan masyarakat Dieng, Islam dibawa ke tanah itu oleh Syekh Subakir dan Syekh Jangkung, yang dikirim langsung oleh Sultan Turki. Tokoh yang disebut terakhir, kemudian dimakamkan di Dataran Tinggi Dieng.
Negeri Kahyangan, Kini dan Selamanya
Kini, wajah Dataran Tinggi Dieng tampil sebagai sebuah surga. Bagi pelancong yang tidak membawa kendaraan pribadi, siapkan uang ekstra jika ingin berkunjung ke tempat ini, karena tarif ojek untuk menuju lokasi cukup mahal.

Dataran Tinggi Dieng, selamanya menjadi tempat yang premium. Ia saya sebut sebagai premium, karena butuh usaha lebih untuk mencapai tempat ini. Selain itu, Dataran Tinggi Dieng disebut premium, ketika berusaha meneliti tentang kisah tersembunyi di tempat ini. Tentu saja, kudapan mi ongklok menjadi cherry on top dari premium-nya tempat ini.
Dengan segala keindahan dan kisah di baliknya, Dataran Tinggi Dieng adalah sebuah kayangan. Ia tak cukup hanya dijamah sekali kunjungan saja. Anda perlu datang berkali-kali, menyelami segala yang ada di baliknya, untuk merasakan kenikmatan di surga bernama Dataran Tinggi Dieng ini.