Nilai personal (personal branding) tidak hanya sekadar usaha membangun label diri, pembeda dari yang lain. Ia juga penting untuk dijaga, karena ibarat setitik nila, sebuah kesalahan ia bisa merusak susu sebelanga, membuatnya tidak dapat diperbaiki lagi.
Hal itu yang sepertinya menimpa Anita Dewi Sari, seorang finance supervisor sebuah perusahaan swasta, beberapa waktu yang lalu. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sahid Jakarta. Dengan usahanya, ia berhasil mencapai posisi dengan gaji umum di antara Rp6.000.000 hingga Rp8.000.000 itu.
Namun, karena setitik nila berwujud sebuah tumbler seharga Rp300.000, apa yang telah ia bangun runtuh seketika. Mengutip pemberitaan Tempo, pada 22 November 2025, Anita tak sengaja meninggalkan sebuah cooler bag di kereta rel listrik (KRL). Ia menghubungi pihak KAI, melaporkan bahwa ia kehilangan barang.
Singkat cerita, pihak KAI menemukan cooler bag miliknya. Ia bertemu dengan Ardi, seorang petugas KAI yang mengamankan barang miliknya. Tetapi, tumbler berwarna biru itu tidak ada.

Anita bercerita di Threads terkait pengalaman ini. Tentu saja, ia viral, dan berbuah dengan pemecatan Argi.
Apakah semua sudah selesai sampai di sini? Sayang, tidak sama sekali. Mendengar kisah dari Argi, warganet berbalik murka menyerang Anita. Serangan tersebut begitu telak, karena masuk hingga ke media massa nasional dan berbagai akun meme, membuat Anita kehilangan posisinya sebagai finance supervisor.
Apa yang telah ia bangun selama ini, poof, sirna seketika, hanya karena sebuah tumbler yang tertinggal di KRL. Benar, satu nila bisa merusak seluruh personal branding yang telah dibangun. Apa yang bisa dilakukan, setelah hal ini terjadi?
Personal Branding sebagai Sebuah Proses dan Merk
Personal branding tak sekadar kata, ia punya makna yang lebih dalam. Personal branding ialah proses karena dijalankan secara konsisten dan berkaitan dengan hubungan individu-masyarakat.
Sebagai sebuah konsep, Timothy P. O’Brien, melalui Lusi Harianti dalam artikel Personal Branding Content Creator Nasion Patriotik, mendefinisikan personal branding sebagai identitas pribadi yang mampu menciptakan sebuah respons emosional terhadap orang lain mengenal kualitas dan nilai yang dimiliki orang tersebut. Ia merupakan sebuah proses membentuk persepsi terhadap aspek-aspek yang dimiliki individu, serta bagaimana ia dapat digunakan sebagai alat pemasaran.
Kata kunci penting untuk memahami personal branding, adalah ia termasuk sebuah proses. Menurut Fatco Siswiyanto Raharjo dalam buku The Master Book of Personal Branding, ia dimaknai demikian, karena seseorang bergerak membentuk persepsi masyarakat atas berbagai aspek yang ia miliki, yang dapat berupa kepribadian, kemampuan, atau nilai-nilai tertentu.

Selain sebagai proses, ia juga dapat digambarkan sebagai sebuah merk. Menurut Amanda Vivi Imawati dkk, dalam artikel Analisis Personal Branding Fashion Blogger Diana Rikasari, personal branding merupakan pembangunan merk atas diri seseorang. Ia menampilkan nilai seseorang, baik berupa kontribusi maupun identitas, kepada publik.
Lalu, bagaimana cara membentuk sebuah personal branding. Mengutip artikel yang ditulis Anggersulung Sujarwo dan Surahmadi, terdapat delapan hukum acuan dalam pengembangan personal branding. Beberapa di antara mereka adalah spesialisasi, kepribadian, kenampakan, kesatuan, dan keteguhan.
Kedelapan hukum tersebut perlu dioptimalkan, agar personal branding yang dibangun menjadi kuat dan awet. Jika terdapat kesalahan pada satu hukum saja, ia dapat berdampak negatif, dan mungkin dapat membuat apa yang telah dibangun selama ini menjadi ambruk seketika.
Ketika Nila Setitik Berbuah Downfall
Sulit dibangun, tetapi bisa runtuh hanya karena sebuah blunder. Seperti itu, kira-kira wujud personal branding seseorang, yang menurut kacamata publik, wajib tampil sempurna, alias perfeksionis.
Tetapi, personal branding bukanlah sesuatu yang sempurna. Seperti yang diungkapkan Puti Cinta Novtazulfa, ia merupakan proses belajar, eksperimen, dan perubahan cara pandang dengan konsisten, yang tentu saja, bukanlah sebuah kesempurnaan.
Sayang, konstruksi kesempurnaan dalam personal branding masih tetap kuat. Seseorang, utamanya figur publik, yang melakukan sebuah kesalahan hingga berujung viral dan diberitakan media massa, dimaknai oleh publik sebagai sebuah downfall.
Satu contoh menarik dari hal ini adalah Sule, seorang komedian yang dikenal semua kalangan, utamanya melalui acara Opera Van Java dan Awas Ada Sule. Kini, namanya meredup, dan ia mulai sepi job.
Apa yang terjadi padanya? Mengutip detikcom, semua berawal ketika Kiky Saputri mengundang Sule untuk di-roasting dalam acaranya. Namun, Sule menolak untuk hadir, dengan alasan takut.

Penolakan tersebut diungkapkan Kiky saat menjadi bintang tamu dalam acara Pagi Pagi Ambyar. Meski nama Sule tidak disebut secara langsung, warganet dengan cepat menebak siapa yang dimaksud Kiky.
Warganet kemudian mengecap Sule sebagai baperan dan antikritik. Ketika Sule menerbitkan klarifikasi, warganet merasa bahwa ia belum memberikan jawaban memuaskan. Ini membuat Sule sulit mendapatkan kesempatan untuk tampil di televisi.
Tak hanya selebritas seperti Sule yang bisa mengalami downfall. Penjabat pun bisa berakhir demikian.
Satu contoh dari hal ini, adalah Hasan Nasbi, mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan. Berawal dari komentar nirempati atas peristiwa teror kepala babi ke kantor berita TEMPO, warganet menghujat Hasan habis-habisan. Tak kuat didesak untuk mundur, ia menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden, dan baru diberhentikan pada September 2025.
Sebelum berakhir downfall, Hasan merupakan pengagum Tan Malaka. Ia pernah mendirikan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tan Malaka, serta menjadi sekretaris Harry Poeze, sejarawan Belanda sekaligus peneliti utama pendiri bangsa tersebut. Kedekatan dengan Poeze, mendorongnya menulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka.
Nasib Hasan Nasbi, bisa dikatakan ironi. Sebagai tokoh yang membangun personal branding sebagai pendukung kebebasan, ia berakhir dicap sebagai orang yang memberangus hal yang ia pernah dukung itu.
Membangun Kembali Reruntuhan Personal Branding
Kehancuran sebuah personal branding bukanlah sebuah akhir. Bagi mereka yang berhasil memanfaatkan situasi, ia bisa membangun ulang personal branding yang telah rata dengan tanah itu.
Seperti yang diungkapkan Muhammad Ramzy Hasibuan dan Irwansyah, dengan mengutip Bennoit, personal branding dapat dibangun kembali melalui pendekatan image repair theory. Image repair theory adalah upaya buat memperbaiki dugaan, baik tuduhan atau kenyataan yg buruk dengan menyangkal, menerima, atau meredam.
Menurut Bennoit, manusia sangat menghargai personal branding. Jika personal branding yang ia bentuk tercoreng, segala upaya akan dilakukan untuk memutihkannya, termasuk dengan cara menerima, menyangka, hingga meredam.
Melakukan peredaman dan penyangkalan, secara umum akan berdampak negatif. Pilihan yang paling mungkin dan efektif dilakukan seseorang yang mengalami masalah dalam personal branding yang ia bangun, adalah menerimanya.
Terkait penerimaan, dapat dibuktikan melalui artikel Balyan Firjatullah. Ungkapnya, KFC melakukan langkah corrective action (berjanji) dan mortification (meminta maaf) atas kelalaian yang mereka lakukan. Itu mengembalikan kepercayaan publik, dan berhasil membangun personal branding yang sempat mengalami krisis di masa lalu.
Catatan hitam atas sebuah personal branding yang diterima secara jujur akan membangkitkan kembali hal tersebut. Mengutip artikel yang diterbitkan Mindful Health Solutions dan Sweet Institute, kejujuran dan tanggung jawab akan membentuk hubungan antarmanusia yang kuat serta penuh kepercayaan.
Hal tersebut dapat kita lihat dalam kisah Rohenah atau Erna, seorang mantan pengguna narkoba, yang kini berhasil menjadi karyawan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Sebelum mengenal narkoba, ia merupakan siswa berprestasi, menjadi kebanggaan keluarga dan teman-temannya. Godaan sabu-sabu, yang mampu membuatnya belajar hingga larut malam, membuat hidupnya tak lagi sama.
Harta bendanya terkuras habis. Kepribadiannya menjadi semakin aneh. Anak berprestasi yang dulu dibanggakan, kini berubah menjadi pecandu barang haram.
Pada 2014, ia menyadari kondisinya, dan mulai menjalani rehabilitasi. Sikap tersebut, yakni jujur, dan kemudian bertanggung jawab, membuatnya berhasil bebas dari narkoba, dan berakhir menjadi staf di BNN-K Jakarta Utara.
Dapat dikatakan, kehancuran sebuah personal branding bukan akhir bagi seseorang. Dengan menerima kondisi yang ada, dalam arti jujur dan bertanggung jawab, kondisi tersebut dapat dibangun kembali setapak demi setapak. Ia tidak hanya membangun kembali personal branding yang telah runtuh, tetapi juga membangkitkan seseorang menjadi seorang manusia yang baru.