Kisah Masjid Tiban: Ditinggalkan setelah Diserbu Jepang, Ditemukan Transmigran

Masjid Tiban Kondisi Masjid Tiban di Desa Selusuban, Lampung, dokumentasi pribadi & di-enhance menggunakan kecerdasan buatan (AI)

Tidak jauh dari Bandar Jaya, Lampung Tengah, hanya berjarak sekitar 15 km dari pusat niaga dan lebih kurang 25 km dari pusat pemerintahan kabupaten itu, terdapat sebuah desa. Desa tersebut bernama Selusuban.

Di desa itu, eksis sebuah stasiun kereta api yang dibangun pada zaman Belanda, menghubungkan Lampung dengan Palembang. Menurut artikel yang diterbitkan Teras Lampung, jalur kereta api di tempat itu dibangun pada 1911, dan mulai beroperasi pada 1914.

Namun, bukan stasiun tua itu yang menarik perhatian saya. Masih di desa Selusuban, terdapat sebuah masjid tua. Masjid tersebut bernama Masjid Tiban, atau juga Masjid Temon. Meski, ia lebih dikenal sebagai Masjid Taqwa Tiban saat ini.

Banyak cerita yang berkembang terkait keberadaan masjid tua ini. Dalam tulisan singkat ini, saya akan mengisahkan sedikit apa yang saya temukan, terkait riwayat Masjid Tiban.

Penemuan Kembali Masjid Tiban oleh Transmigran Karanganyar

Pada 1959, sebanyak 30 kepala keluarga bermigrasi ke Lampung. Mereka berasal dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Dari sejumlah rombongan tersebut, terdapat empat orang santri dari Kiai Sirodj Umar. Mereka berkunjung (sowan) ke Kiai Sirodj Umar, meminta petunjuk terkait rencana transmigrasi ke Lampung. Kiai Sirodj Umar, kemudian berpesan kepada mereka untuk mencari sebuah masjid tua yang telah ditinggalkan, dan menggunakannya sebagai tempat tinggal dan pusat syiar agama Islam.

Setibanya di Lampung, rombongan transmigran asal Karanganyar ini menetap di daerah Metro selama beberapa minggu. Karena dirasa kurang cocok, mereka berpindah menuju daerah Seputih Raman. Tetapi, karena tidak mendapatkan tempat yang sesuai dengan pesan Kiai Sirodj Umar, mereka berencana untuk berpindah tempat lagi.

Gapura Desa Selusuban, dokumentasi pribadi

Namun, saat hendak berangkat, seorang pesirah (setingkat lurah) dari Banjar Ratu, Lampung Tengah, menghampiri mereka. Pesirah tersebut, Sorotan Buay Adam, menawarkan daerahnya sebagai tempat tinggal rombongan transmigran itu, untuk meramaikan daerahnya.

Baca Juga  Renungan Kierkegaard untuk Don Giovanni

Ketika tiba di Banjar Ratu, para transmigran masih menetap di rumah para transmigran asal Banyuwangi yang tiba lebih dulu. Mereka tinggal di sana, sembari menunggu tempat yang dapat menjadi pemukiman tetap di tanah rantau.

Tidak lama, seorang bernama Karto Redjo datang dan bertanya kepada salah satu rombongan. “Apakah di Jawa biasa tinggal dekat dengan masjid? Jika benar dan mau, tidak jauh dari tempat ini, di dalam hutan, terdapat sebuah masjid yang sudah lama tidak dihuni,” kata Karto Redjo.

Sebelumnya, daerah tersebut merupakan sebuah kampung yang masih berpenghuni. Namun, ketika Jepang berkuasa, mereka menyerbu daerah itu, memaksa para penghuni untuk meninggalkan daerah itu.

Seolah mendapatkan jawaban atas pesan yang diberikan Kiai Sirodj Umar, para santri setuju, dan dengan senang hati mengisi kembali daerah yang telah ditinggalkan itu. Mereka membabat semak belukar dan rerumputan sepanjang lebih kurang 3 km, membuka kembali akses jalan ke daerah itu.

Tentu saja, proses membabat semak belukar dan membuka jalan itu membuat mereka menemukan kembali Masjid Tiban, yang telah ditinggalkan. Mereka bergegas membersihkan sumur, memangkas rumput dan semak yang tumbuh di sekitar areal masjid, dan menggunakannya kembali sebagai daerah yang hidup.

Mengapa Jepang Menyerbu?

Mengapa Jepang menyerbu Masjid Tiban? Pertanyaan tersebut, hanya disinggung sekilas pada bagian sebelumnya, dan pada bagian ini, saya mengisahkan sedikit apa yang saya temukan.

Dahulu, Masjid Tiban digunakan untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Ia juga menjadi tempat latihan kanuragan, ilmu tenaga dalam, dan juga pesantren yang bernama Pondok Pesantren Kacang Panjang. Nama tersebut diambil, merujuk banyaknya petani yang hidup di sekitar masjid, menanam tanaman kacang panjang di lahan mereka kala itu.

Baca Juga  Reconquista, Terusirnya Islam dari Andalusia

Terdapat lima tokoh yang muncul melalui Pondok Pesantren Kacang Panjang. Mereka adalah Kiai Haji Muhammad Sholeh, Syeikh Ibrahim, Syeikh Darrussalam, Syeikh Makruf, dan Syeikh Masnurin, yang juga biasa dikenal sebagai Al Khafid.

Pada masa pendudukan Jepang, terdapat beberapa santri Pondok Pesantren Kacang Panjang yang kerap menghadang kereta yang melalui stasiun tua yang berada di dekat masjid. Mereka kerap mencegat dengan mencopot bantalan rel, dan kemudian menjarah kereta yang terguling karenanya.

Sisa-sisa rel kereta api yang melalui Desa Selusuban, dokumentasi pribadi

Tentara Jepang, yang geram terhadap aksi ini, berupaya menangkap para santri tersebut. Namun, upaya mereka gagal, karena para santri segera kabur masuk hutan.

Tetapi, hidung Jepang ternyata tajam juga. Mereka berhasil mengendus keberadaan para penjarah kereta, dan berencana menyerbu Pondok Pesantren Kacang Panjang.

Menurut penuturan Asmo, yang pada masa itu menjadi tentara Heiho, pasukan itu juga dilibatkan dalam penyerbuan Pondok Pesantren Kacang Panjang. Bahkan, ia sendiri ikut bersama tentara Jepang lain dalam peristiwa itu.

Namun, Kiai Sholeh lebih tajam dari para penguasa kulit kuning itu, dan ketika Jepang tiba, daerah sudah kosong tak berpenghuni. “Sebelum Jepang datang menyerbu, kampung sudah kosong ditinggalkan warga,” ungkap Hasan Mukmin, dikenal juga sebagai Mbah Sugiat, putra Kiai Hawari, kepada saya.

Kiai Sholeh menyingkir ke daerah Ambarawa, dan kemudian ke Tanjung Karang. Ia wafat di tempat itu, dan dimakamkan di daerah Jahe, dekat Gramedia Bandar Lampung.

Masjid Tiban Kini

Setelah Masjid Tiban aktif kembali melalui tangan para transmigran asal Karanganyar, jejak-jejak kelampauan masih tetap eksis di tempat itu. Sebut saja, terdapat sebuah mimbar, yang digunakan untuk khotbah Jumat oleh penduduk sekitar, tidak mengalami perubahan, meski masjid mengalami beberapa kali renovasi.

Baca Juga  Piramida Agung Giza, Misteri dan Keajaiban Dunia

Mimbar tersebut terbuat dari kayu ulin, yang pada zaman dahulu, masih banyak tumbuh di hutan sekitar masjid. Di atas mimbar, terdapat semacam ukiran bertuliskan bahasa Arab, berlafazkan Allah dan Muhammad.

Selain itu, terdapat dua buah sumur tua di masjid ini. Konon, air yang terdapat di dalamnya dipercaya berkhasiat sebagai obat. Ini membuat banyak yang datang dari berbagai daerah, untuk sekadar mengambil air dan bermunajat di Masjid Tiban.

Papan informasi yang menampilkan silsilah pendiri Masjid Tiban, dokumentasi pribadi

Beberapa kisah mengatakan bahwa terdapat tengkorak yang ditemukan dalam sumur tua itu. Namun, menurut Mbah Sugiat, informasi tersebut tidak benar. Juga, informasi yang mengatakan bahwa banyak mayat yang tewas, dan kemudian dimasukkan ke dalam sumur, sama tidak benar.

Menurut penuturannya, Kiai Ismadi ikut membershkan Masjid Tiban dan sumur yang ada di dekatnya. Ia tidak menemukan tengkorak manusia apa pun di dalamnya. Hanya sebuah koper bekas yang ditemukan.

Sebagai sebuah bangunan tua, Masjid Tiban memiliki dinamika yang begitu unik. Berawal dari salah satu pusat syiar Islam di Lampung, ia ditinggalkan ketika Jepang mengendus para santri yang mempreteli rel kereta api, dan kemudian menjarah kereta yang nyungsep karenanya. Namun, kedatangan para transmigran asal Karanganyar, menghidupkan kembali Masjid Tiban, beserta kisah sejarah di baliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *