Riwayat Banjir Tambun 1933, Ketika Air Bah Melumpuhkan Perhubungan Darat di Koloni

Banjir Tambun 1933 Rel kereta api antara Tambun dan Tjikarang, yang tampak tergantung di udara karena kehilangan seluruh fondasinya, courtesy of Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18 Maret 1933 (diambil dari Delpher)

Banjir dan longsor yang menimpa tiga provinsi di pulau Sumatra, menampilkan kerentanan jalur kereta api di Indonesia. Menurut pemberitaan CNN Indonesia, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut bahwa banyak rel kereta api mengalami kerusakan akibat sapuan air. Pihaknya masih melakukan pendataan, untuk menghitung biaya perbaikan jalur tersebut.

Ketika perhubungan udara dan laut relatif aman, kondisi berbeda justru tampak di perhubungan darat. Jalur kereta api di Indonesia masih rentan mengalami kendala, baik ketika menghadapi bencana atau cuaca ekstrem. Kondisi terakhir, setidak-tidaknya bisa kita lihat saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, membuat PT KAI menambah 2.500 personel di titik rawan jalur kereta api.

Kerentanan tersebut, tidak hanya terjadi saat ini. Mundur ke awal abad XX, sebuah banjir pernah melumpuhkan jalur kereta Batavia-Bekasi-Karawang. Dampak tidak hanya terasa di lokasi banjir, tetapi juga hingga ke Jawa bagian timur.

Seperti apa keganasan banjir Tambun pada 1933 mengacaukan perhubungan darat, yang menjadi kunci bagi pemerintah Hindia-Belanda?

Kehadiran Air Bah di Tambun

Turunnya air bah bermula dari curah hujan ekstrem yang melanda daerah Jawa Barat, terutama bagian barat dan tengah. Ia turun selama beberapa hari, dengan intensitas mencapai lebih dari 150 milimeter, menurut laporan De Avondpost pada 17 Maret 1933.

Hujan berkepanjangan itu membuat debit sungai Tjitaroem dan Kali Bekasi meluap hingga ke dataran rendah di sekitarnya. Tambun, yang berada dekat dengan sungai-sungai utama itu, tergenang air.

Harian Bataviaasch Nieuwsblad bertanggal 17 Maret 1933 melaporkan bahwa jalan raya Batavia-Bekasi tergenang air sepanjang ratusan meter. Sawah-sawah rusak, dan air mulai menembus badan rel serta tanggul kereta api. Air bahkan mengalir deras di atas spoordijk, tepat di bawah lintasan rel yang masih digunakan.

Foto kondisi rel kereta api antara Tambun dan Tjikarang, yang benar-benar rusak karena terjangan air, courtesy of Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 18 Maret 1933 (diambil dari Delpher)

Ini membuat perhubungan antara Batavia dan Karawang terganggu. Lintasan antara Tambun dan Gedong Gedeh tidak dapat dilalui karena fondasi rel tergerus arus air. Rel menggantung tanpa sokongan tanah yang stabil, memaksa perjalanan kereta ke arah Tjikampek dan Karawang dihentikan. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië (selanjutnya disebut Hew Nieuws) melaporkan bahwa sejumlah kereta terpaksa berhenti di stasiun terdekat atau putar balik ke Batavia.

Baca Juga  Petisi 50, Suara Penolakan atas Personifikasi Pancasila Soeharto

Pada malam hari, sebuah kereta barang mengalami kecelakaan di sekitar Lemah Abang dan Tambun. Kecelakaan terjadi karena tanah penyangga rel telah terkikis arus banjir, membuatnya tak mampu lagi menopang lintasan. Rangkaian kereta melaju keluar jalur.

Soerabaijasch Handelsblad, pada 17 Maret,mengabarkan bahwa satu orang meninggal dunia karena kecelakaan itu, dan beberapa lainnya mengalami luka berat. Proses evakuasi berlangsung sulit, mengingat daerah sekitar sepenuhnya tergenang air, membuat akses darat terputus.

Situasi mencapai titik kritis, ketika sebuah tanggul di sekitar Tambun mengalami jebol. Hampir seluruh wilayah distrik Bekasi dan onderdistrict Tambun tergenang air.

Menurut pemberitaan De Indische Courant pada 20 Maret, curah hujan di Bekasi mencapai 175 milimeter pada sore hari, dan terus meningkat hingga pagi hari berikutnya. Ini menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu daerah dengan curah hujan tertinggi selama bencana berlangsung.

Dalam beberapa hari, banjir meluas hingga ke Karawang, Purwakarta, dan sebagian Jawa Tengah. Di beberapa lokasi, ketinggian air dilaporkan mencapai lima meter, merusak ratusan rumah serta infrastruktur transportasi. Salah satunya, seperti yang diberitakan De Locomotief pada 18 Maret terjadi pada jalur antara Purwakarta dan Tjikampek.

Lumpuh, Tidak Bergerak

Banjir yang melanda Tambun pada 1933, berdampak pada jaringan perkeretaapian kolonial di Jawa Barat. Seperti yang dilaporkan Het Nieuws, dampak tidak hanya terjadi dalam bentuk keterlambatan, tetapi juga penghentian total pada beberapa segmen jalur utama.

Soerabaijasch Handelsblad memberitakan bahwa kerusakan paling nyata terjadi pada badan rel dan spoordijk sekitar Tambun dan Tjikarang. Arus air yang begitu deras, menggerus tanah penyangga rel dari bawah, membuat bantal kayu dan rel kehilangan kestabilannya. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan, dan memaksa penghentian layanan kereta api.

Kondisi rel terdampak banjir Tambun. Bagian ini merupakan rel yang masih bisa dilalui, setidak-tidaknya oleh manusia, courtesy of Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20 Maret 1933 (diambil dari Delpher)

Kondisi tidak hanya terjadi di Tambun. Ia juga melumpuhkan layanan kereta jarak jauh, menghentikan kereta cepat dan kereta malam yang menghubungkan Batavia dengan Bandung, Cirebon, dan Surabaya. De Koerier pada 18 Maret melaporkan bahwa pengalihan rute melalui Buitenzorg, meski membuat waktu tempuh menjadi lebih panjang dan membebani jalur alternatif, yang juga berada dalam tekanan hidrologis yang tinggi.

Baca Juga  Teori Fiksi: Sebuah Usaha Melawan Institusi Akademik

Tidak hanya kereta penumpang yang terganggu. Distribusi barang dan layanan pos ikut merasakan hal yang sama. Kereta barang yang mengangkut hasil pertanian dan komoditas perdagangan tidak dapat melintas, menghambat perjalanan logistik di Batavia dan daerah pedalaman. Soerabaijasch Handelsblad menyebut ini sebagai persoalan serius, mengingat pemerintah Hindia Belanda sangat bergantung pada kelancaran transportasi kereta api.

Respons Pemerintah dan Kerentanan Konstruksi

Menghadapi krisis tersebut, pemerintah kolonial dan Staatsspoorwegen mengambil langkah darurat. Para insinyur lokal dikerahkan ke lokasi terdampak untuk memeriksa kondisi rel, jembatan, dan tanggul. Seperti yang dilaporkan De Indische Courant pada 23 Maret, kerusakan akibat banjir bersifat meluas dan tidak dapat diatasi dengan perbaikan kecil semata.

Prioritas utama pemerintah kolonial adalah memulihkan fungsi transportasi secepat mungkin, meski dengan kapasitas terbatas. Dengan mengerahkan peralatan berat, termasuk derek kereta, lintasan kereta dibuka kembali, dan gerbong yang keluar jalur dievakuasi. Bataviaasch Nieuwsblad, pada 21 Maret, menyebut respons kolonial cenderung reaktif dan berfokus pada pemulihan dampak alih-alih mitigasi risiko jangka panjang.

Gerbong kereta api yang berakhir keluar jalur di 2/9 kilometer dari Tjikarang, courtesy of Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20 Maret 1933 (diambil dari Delpher)

Curah hujan ekstrem memang menjadi pemantik terjadinya banjir, dan kemudian memutus perhubungan darat di pulau Jawa. Namun, faktor konstruksi yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda perlu mendapatkan perhatian khusus.

Desain rel kala itu, yang mengandalkan timbunan dan tanggul tanpa adanya integrasi dengan sistem pengendalian banjir regional, memperparah dampak banjir Tambun bagi perhubungan kereta api antara Batavia dan daerah lain. Seperti yang diungkapkan Yulia Nurliani Lukito dalam artikel Colonial Engineers in the Dutch East Indies and the Expanding Vision from Water to Settlement Projects, pembangunan tersebut mencerminkan paradigma teknokratik para insinyur kolonial, yang mengutamakan efisiensi dan standardisasi teknis semata.

Baca Juga  Perang Rusia-Jepang, Titik Balik Bangsa Asia Menghadapi Dominasi Bangsa Barat

Ketika situasi tidak terduga muncul, dampak tak terhindarkan terjadi. Konstruksi jalur rel di Tambun, yang begitu rentan terhadap limpasan air, mengalami kegagalan struktur, menghasilkan dampak besar bagi pemerintah Hindia Belanda.

Dapat dikatakan, banjir Tambun pada 1933 tidak hanya menampilkan keganasan air bah menerjang Bekasi dan memutus perhubungan darat antara Batavia dan daerah lain. Ia juga menampilkan gagasan teknokratik para insinyur kolonial kala itu, yang tidak mempertimbangkan kondisi tropis saat membangun jalur kereta api. Ketika air bah tiba, hanya nasi sudah menjadi bubur yang bisa terucap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *